Aroma Asmara Semalam, Sepi Menuai Rindu || Antologi Puisi Ardhi Ridwansyah

  • Bagikan
Aroma Asmara Membara Sisa Semalam Menuai Rindu
Cuplikan Puisi

Makam Sepi

mata yang hidup lalu redup,
bercengkerama dengan gulita,
membaur kesunyian malam,

tebar teror dalam setiap denyut nadi,
dan napas yang tersengal,
adalah bukti bahwa ada yang mati.

cinta telah mati! kasih terkapar,
sebagai makam yang Sepi.
hanya daun kering membelai,
tanah kerontang musim kemarau.
menuai elegi.
Jakarta, 2021

Terkenal Ayu

kau yang kukenal ayu,
percayalah tiap waktu dan
tiap detik kukenang matamu,
di mana mawar bermekaran,
merayu lebah untuk bercumbu,
tepat di atas mahkotamu nan agung.

kunanti senyuman itu, kala senja lahir,
dari rahim cakrawala yang uzur.
kutunggu kala kata-katamu lebih indah,
dari puisi ini; getarkan rasa yang membuncah,
tumbuh dalam dada asmara membara.
Jakarta, 2021

Lamunan di Tengah Hujan

kepalaku banyak tanda tanya,
dan ingin kusampaikan padamu,
bahwa Hujan semalam membenturkan,
gigil yang membelai rambut basahku.

yang kunikmati selain riuh, pun kenangmu,
merasuk di sela-sela Sepi jalanan,
dan mengajak daku menjelajah,
belantara rasa kala senang terpantul,
dalam tawamu, sedang sedih hadir,
kala tubuh terpendam tanah.
Jakarta, 2021

Fantasi

degup jantung merintih,
menari-nari kau dalam fantasi,
runtuhkan Sepi menuai sensasi.

terbelalak hasrat, gejolak gairah,
menyisiri kamar sunyi tanpa kisah kasih,
hanya bantal guling yang terkapar,
seperti orang mati.

menegang tubuh, halusinasi merayu,
untuk terus gemetar meski jiwa ingin,
lekas pergi dari kondisi
yang penuh basa-basi.
Jakarta, 2021

Aroma Sisa Semalam

gila aku saat mencium aroma parfum,
merekat dalam tubuhku sisa keliaran semalam,
aku di bawah dan kau di atas,
berbisik bahwa cinta rekah,
di atas sebuah ranjang sesak peluh.

girang dadaku, buncah tawamu,
redup lampu bangkitkan jiwa yang kelabu,
usir sendu dengan desahmu,
yang menuai rindu.
Jakarta, 2021

Puan yang Mengikat Rambut dengan Janji

puan bercermin dan terlihat,
retakan kaca menuai pilu,
dan puan menangis teringat janji-janji,
yang dulu terucap dari mulut seorang lelaki.

mata puan memerah senja,
rambutnya liar bagai api yang menari,
di atas kobaran kayu tua.

terlihat beberapa kata, berkeliaran,
tentang rasa yang kini redup selepas,
hati tak lagi menyatu; puan terpaku.

ia benturkan kepalanya,
dan cermin seketika pecah,
terserak keping kenangan,
yang dulu terjalin mesra,

saat dirinya mengikat asmara,
dengan sumpah,
kala puan mengikat rambut,
dengan janji yang kini,
menjadi sampah.
Jakarta, 2021

Biodata Penulis
Ardhi Ridwansyah kelahiran Jakarta, 4 Juli 1998. Tulisan esainya dimuat di islami.co. terminalmojok.co, tatkala.co, nyimpang.com, nusantaranews.co, pucukmera.id, ibtimes.id., dan cerano.id. Puisinya “Memoar dari Takisung” dimuat di buku antologi puisi “Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2019”. Puisinya juga dimuat di media seperti kawaca.com, catatanpringadi.com, apajake.id, mbludus.com, kamianakpantai.com, literasikalbar, ruangtelisik, sudutkantin.com, cakradunia.co, marewai, metafor.id, scientia.id, LPM Pendapa, metamorfosa.co, morfobiru.com, Majalah Kuntum, Radar Cirebon, Radar Malang, koran Minggu Pagi, Harian Bhirawa, Dinamika News, Harian SIB dan Harian BMR FOX. Penulis buku antologi puisi tunggal Lelaki yang Bersetubuh dengan Malam. Salah satu penyair terpilih dalam “Sayembara Manuskrip puisi: Siapakah Jakarta”. E-Mail: ardhir81@gmail.com, Instagram: @ardhigidaw, FB: Ardhi Ridwansyah, Whatsaap: 08781982

Editor| Cici Ndiwa

  • Bagikan
error: Content is protected !!
Kirim Pesan Sekarang
Trima kasih dan selamat datang di letang
Hallo...
Trima kasih dan selamat datang di letangmedianews.com.
Silahkan kirim pesan untuk pertanyaan iklan produk & perusahan,
penulisan profil prusahan, bisnis, serta kerja sama, dll
Salam dan hormat kami
Letangmedianews.com.