Bunuh Diri Adalah Kematian yang Paling Bodoh (Refleksi Folosofis Tentang Hakikat Manusia)

  • Bagikan
ILUSTRASI (Sumber gambar: .unair.ac.id)

Bunuh Diri Adalah Kematian yang Paling Bodoh (Refleksi Folosofis Tentang Hakikat Manusia)
Catatan Redaksi: oleh Hardy Sungkang*

Suara Redaksi-Saya yakin masih terngiang-ngian di pikiran kita tentang beberapa peristiwa hidup manusia yang ingin menyelesaikan hidupnya dengan cara yang paling bodoh. Cara itu adalah bunuh diri. Bunuh diri adalah tindakan brutal manusia yang menyebabkan kematian dirinya sendiri. Tindakan itu merupakan kesangsian dirinya terhadap kondisi alamiah manusia sebagai makhluk yang paling istimewa dan berakal budi.

Penulis menilai bahwa tindakan manusia yang ingin mengakhiri hidupnya dengan aksi bunuh diri merupakan kebodohan yang paling hakiki. Kebodohan yang direncakan merupakan bodoh yang ens in se ada dalam dirinya. Bodoh diperlihara?

Mari kita lihat beberapa argumentasi posisitif yang memperkuat peryataan manusia bunuh diri adalah manusia bodoh. Lantas manusia secara kodratnya diciptakan untuk menjadi manusia yang berakal budi. Manusia sangat istimewa dalam proses penciptaanya. Manusia diciptakan dengan sempurna, memiliki akal budi dan naluri yang paling esensial dibandingkan dengan penciptaan lainya. Dengan demikian manusia mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Lantas, jika yang buruk adalah kekuatan nalurinya, lalu akal budinya dipergunakan untuk apa? Akal budi tidak pernah mati. Ia adalah Tuhan yang selau ada dalam setiap peribadi manusia. Akal budi tidak bisa dilihat, tidak bisa dirasakan, tetapi ia bisa menggerakan naluri batiniah manusia tergoncang dan bahkan lemah berhadapan dengannya. Lalu, semudah itukan naluri tergoyak? Entahlah kondisi alamiah manusia yang seringkali mendesak manusia untuk menjadi egois dalam tindakannya.

Johan Heinrich Pestalozzi dalam pandangan moralnya menilai bahwa moralitas merupakan presentasi dari kehendak manusia, suatu hasil watak yang baik yang menang atas perasaan yang mementingkan kepentingan atau keuntungan dirinya sendiri. (Boehlke, 1997, Hal 222) Pernyataan ini memperkuat manusia sebagai makhluk bermoral. Sebagai manusia yang bermoral ia justru mengklasifikasikan segala jenis tindakan yang dapat menguntungkan dirinya sendiri. Ia harus mengetahui mana tindakan yang baik dan buruk. Pestalozzi menekankan bahwa moralitas merupakan nilai yang harus dirasakan secara mendalam dalam diri manusia sebagai makhluk ciptaan oleh Tuhan.

Dalam teori moralnya, Pestalozzi menekankan kepada manusia untuk menggunakan seluruh panca indra kita sebagai makluk istimewa dalam proses penciptaannya. Baginya dengan indera-indera tersebut, manusia bisa merasakan keadaan alam dan lingkungan sekitarnya. Mengalami keadaan alam tersebut, manusia secara kodrat dapat memahami dirinya sebagai manusia yang berakal dan berintelek.

Sehingga demikian, Pestalozzi menekankan bagian terpenting menjadi manusia adalah kekuatan moral (hati) yang membuat manusia bisa merasakan semua jenis emosi dalam dirinya.

Orang yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri sama seperti ia sedang menjunjung tinggi naluri kebodohannya. Lantas, masihkah kita menerima manusia sebagai manusia tak berakhal? Sementara dalam proses penciptaan manusia diciptkan dengan sempurna. Akal dan budi serta naluri disematkan dalam dirinya.

Tentu, peristiwa bunuh diri bisa dicercah dengan akal, jika manusia saling berinteraksi dengan sesamanya. Artinya, manusia sebagai makhluk sosial sangat berperan penting dalam meminimalisasi aksi brutal tersebut. Saya curiga, setiap orang yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri berarti jarang bahkan gagal menemui manusia yang lain sebagai jalan penentuan atas pertimbangan egois dalam diri tersebut (curhat). Oleh karena itu, sebagai sebuah refleksi singkat penulis, saya menilai bahwa hidup jangan mengistimewakan sikap egois. Sesering mungkin berinteraksi dengan sesama, berbagai tentang suka dan duka hidup. Agar dari padanya kita bisa menemukan kekuatan Pencipta melalui pribadi yang lain.

Kondisi psikologis, ekonomi, sosial politis dan kejiwaan jangan menjadi tameng kematian bunuh diri. Keadaan sosial dan batiniah demikian dapat diperkuat dengan kekuatan Tuhan melalui sharing bersama dengan manusia lain yang menjadi pribadi yang diperkuat oleh pribadi yang lain. Jangan lupa, hal penting bahwa manusia sebaga mahkluk bermoral dan berakal budi.

*)Hardy Sungkang; adalah Penulis buku kumpulan opini berjudul Berdamai dengan relaitas? Dan penulis buku kumpulan puisi Saulus. Pernah menulis di berbagai media cetak dan online. Peminat sastra dan isu politik. Pimpinan letangmedia.com,saat ini berdomilisi di Ruteng
  • Bagikan
error: Content is protected !!
Kirim Pesan Sekarang
Trima kasih dan selamat datang di letang
Hallo...
Trima kasih dan selamat datang di letangmedianews.com.
Silahkan kirim pesan untuk pertanyaan iklan produk & perusahan,
penulisan profil prusahan, bisnis, serta kerja sama, dll
Salam dan hormat kami
Letangmedianews.com.