Bupati Baru dan Respons Tiga Isu Krusial || Oleh: Sil Joni

  • Bagikan
Bupati dan Wakil Bupati Mabar, Edistasius Endi - Yulianus Weng (Edi-Weng) Foto: kliklabuanbajo.id

Bupati Baru dan Respons
Tiga Isu Krusial

Penulis | Sil Joni*
Penulis adalah Pemerhati Masalah
Sosial dan Politik


OPINI|Mabar Bangkit Mabar Mantap” yang menjadi tagline dari pasangan Edi-Weng dalam kontestasi Pilkada Mabar 9 Desember 2020 kemarin, jangan menjadi slogan politik nir-makna semata. Motto politik itu mesti menjiwai setiap kerja politik yang dirancang dan dieksekusi oleh rezim ini. Itu berarti frase Mabar Bangkit Mabar Mantap itu harus diterjemahkan dalam program dan kebijakan politik yang terukur dan sistematis.

Menarik untuk menyimak ‘pernyataan politis’ dari duet Edi-Weng menjelang dan pasca ritual pelantikan mereka menjadi bupati dan wakil bupati Mabar. Seperti yang dilansir oleh sejumlah media dalam jaringan (daring), bupati Edi dengan tegas mengutarakan program prioritas mereka pada masa awal pemerintahan mereka.

Isu-isu yang mendapat ‘perhatian lebih’ itu adalah mulai dari pemutusan mata rantai penyebaran Covid-19, kemacetan, penataan ruang, pelayanan publik yang prima, isu sampah hingga inventarisasi dan pengamanan aset-aset vital milik Pemerintah Daerah (Pemda). Jika dicermati dengan serius, semua persoalan yang disorot oleh Edi-Weng umumnya masih berfokus pada wilayah kota Labuan Bajo.

Tidak ada yang salah dengan ‘pemilihan’ beberapa isu itu dan lokus yang menjadi targetnya. Bagaimana pun juga, Labuan Bajo adalah ‘pusat’ dan sekaligus miniatur Mabar. Apalagi faktanya, kota ini tak pernah sepi dari problem sosial dan politik yang pelik. Butuh pemimpin yang punyai ‘nyali dan komitmen serius’ untuk membenahi dan mengatasi aneka problematika tersebut.

Sekadar untuk ‘menambah’ apa yang diutarakan oleh pak bupati itu, saya pikir tiga isu krusial berikut juga patut menjadi bahan pertimbangan. Kalau kita secara serius mengikuti perkembangan diskusi publik di ruang digital, tiga isu ini sering mendapat sorotan tajam.

Pertama, ternak (hewan piaraan) yang berkeliaran di ruang publik. Dari bupati ke bupati, persoalan ‘ternak liar’ ini tak mampu ditangani dengan baik. Kendati Labuan Bajo sudah dijuluki kota wisata super premium, ‘fakta berkeliarannya ternak warga’ menjadi sebuah realitas ironis yang miris. Untuk itu, kita ‘mendesak’ Edi-Weng agar segera ‘membereskan’ isu ini melalui pengimplementasian kebijakan dan regulasi yang tegas.

Kedua, krisis air minum bersih. Ini persoalan klasik yang hampir saban tahun diderita oleh warga kota. Menuntaskan persoalan air bersih menjadi salah satu agenda politik yang didengungkan Edi-Weng pada momen kampanye. Berharap bahwa duet ini sudah memiliki dan melaksanakan pelbagai langkah solutif agar isu ini segera kelar. Memang benar bahwa mengatasi isu krisis air minum bersih tidak mungkin diselesaikan dalam waktu singkat. Tetapi, setidaknya pemimpin politik memperlihatkan kepedulian dan kesungguhannya dengan merancang dan mengeksekusi pelbagai kebijakan strategis.

Ketiga, isu sampah (kebersihan kota). Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) pernah menjuluki kota Labuan Bajo sebagai ‘kota sampah’. Penilaian VBL ini rasanya tidak terlalu berlebihan jika dikonfrontasikan dengan kenyataan empiris paras kota ini. Jelas ini sebuah realitas paradoks yang getir. Di satu sisi, kota ini sudah naik kelas menjadi ‘kota wisata internasional’. Tetapi, pada sisi yang lain, tubuh kota dilumuri dengan aneka sampah. Sebuah kondisi yang tentu saja kontraproduktif dengan kabelnya sebagai destinasi wisata super premium.

Edi-Weng mesti mengerahkan ‘energi politik ekstra’ dalam mengatasi persoalan krusial ini. Saya berpikir, potensi dan infrastruktur untuk ‘membereskan’ sampah dalam kota ini sebetulnya relatif memadai. Namun, kita ketiadaan pemimpin yang punya political will yang tegas dan tak sanggup mengoptimalisasi pelbagai kapital tersebut.

Pak Edi sudah menyatakan secara tegas perihal ‘tanda-tanda kegagalan’ pemerintahannya jika beberapa program prioritas tidak dilaksanakan secara optimal. Saya kira, indikator kegagalan itu bisa juga dilihat dari keberhasilan rezim ini dalam merespons tiga isu krusial di atas.

Kendati demikian, kita tetap optimis bahwa Edi-Weng mempunyai kapabilitas politis mumpuni untuk ‘meminimalisasi’ beberapa isu minor tersebut. publik menunggu dan mendukung semua inisiatif dan kerja-kerja politik rezim ini yang bermuara pada ‘perbaikan dan pemenuhan kebutuhan dasar publik’. Selamat bertugas dan menunaikan amanah politik dari publik Mabar bapak bupati dan Wakil bupati (Edistasius Endi-Yulianus Weng).

BACA JUGA:

  1. Edi-Weng: “Dirigen Hebat” Untuk Mabar Mantap || Oleh: Sil Joni
  2. Karier Politik Bak Air Mengalir Bupati Edi Endi || Oleh: Sil Joni
  3. HUT yang Terlupakan? || Oleh: Sil Joni
  4. Membongkar Sindikat Mafia Tanah || Oleh: Sil Joni

 

*)Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik; Saat ini berdomisili di Labuan Bajo, Manggarai Barat

  • Bagikan
error: Content is protected !!
Kirim Pesan Sekarang
Trima kasih dan selamat datang di letang
Hallo...
Trima kasih dan selamat datang di letangmedianews.com.
Silahkan kirim pesan untuk pertanyaan iklan produk & perusahan,
penulisan profil prusahan, bisnis, serta kerja sama, dll
Salam dan hormat kami
Letangmedianews.com.