“Busana Keki” dan Kultur Keindahan || Oleh: Sil Joni

  • Bagikan
Busana dan Kultur Keindahan
Penulis: Sil Joni (Foto: Dokpri)

Saya merasa perlu untuk “mengabadikan” momen pemakaian ‘busana keki’ ini untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup saya. Ini semacam ‘titik balik’ bagaimana saya beradaptasi dengan budaya kerja baru di sekolah dengan mengenakan busana yang langka alias tidak biasa.

Sejatinya, busana yang kita kenakan, bukan sekadar atribut ‘pembungkus tubuh’ semata. Pancaran kepribadian (sisi dalam) seseorang juga bisa terlihat dari ‘outfit’ yang dipakai. Artinya, pakaian juga merupakan ‘bagian dari cara berada (mode of being), sebagai manusia. Aku berpakaian, maka Aku ada. Sulit dipikirkan seorang manusia ‘tanpa sehelai benang pun’, bisa eksis di ruang publik.

Berpakaian, dengan demikian, bukan hanya untuk tambah gaya, tetapi agar ‘sisi kemanusiaan’ itu tetap terpelihara. Tetapi, bukankah aspek gaya juga sangat dibutuhkan oleh manusia? Siapa yang tidak mau bergaya di dunia ini? Tanpa dinyatakan secara eksplisit bahwa apa yang kita tampilkan itu masuk dalam ‘kategori gaya’, dengan sendirinya unsur gaya itu melekat pada setiap orang. Gaya itu bagian hakiki yang melekat secara inheren dalam raga manusia. Hanya saja jenis, model, dan derajat gaya setiap orang itu berbeda-beda.

Dalam bergaya dengan busana apa saja, saya kira patokannya adalah keindahan dan kenyamanan. Memang sisi keindahan dan kenyamanan itu bersifat subyektif. Apa yang menurut saya indah dan nyaman, bisa jadi berbeda menurut orang lain. Tetapi, saya berpikir pelaksanaan relativisme absolut semacam itu, terlampau ekstrem yang bisa berimplikasi pada situasi yang ‘khaos’.

Oleh sebab itu, dalam sebuah komunitas atau lembaga, kita perlu menyamakan persepsi tentang keindahan dan kenyamanan itu. Setidaknya, dengan konsensus semacam itu, tidak terjadi ‘kesemrawutan’ dalam menghayati dimensi keindahan dan kenyamanan dalam berbusana.

Baca Juga:  Menjadi Bijaksana || Kado HUT untuk Media Letangmediacom dari: Sobe Rengka Melkior

Saya berpikir, aspek estetika dalam berbusana merupakan hal niscaya bagi seorang guru. guru yang profesional, hemat saya tidak hanya diukur dari keseriusannya dalam menyiapkan perangkat pembelajaran dan strategi yang dipakai dalam “mengelola kelas’, tetapi juga dilihat dari penampilan fisiknya termasuk kerapian dan keindahan dalam berpakaian.

Berpenampilan yang menawan merupakan salah satu ‘pintu masuk’ bagi para siswa untuk boleh belajar bersama dengan guru. Melalui tampilan yang keren, para peserta didik ‘tertantang’ untuk mengenal dan terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran di sekolah. Saya kira, guru yang berpenampilan modis, umumnya disenangi oleh peserta didik.

Meski demikian, sebetulnya intensi utama dalam memperhatikan sisi keindahan dan kerapian dalam berpakaian itu bukan saja supaya mendapat pujian dari siswa, tetapi yang paling penting adalah pembiasan atau pemantulan sinar kepribadian yang simpatik. Disenangi atau mendapat apresiasi dari orang lain, saya kira itu hanya bonus, sebagai efek logis dari berpenampilan yang baik itu.

Penyeragaman busana, hemat saya bisa dilihat sebagai pemanifestasian sisi keindahan dalam sebuah komunitas sekolah. Keseragaman itu indah. Sebagai pribadi yang mencintai keteraturan (order. kosmos), kita mesti memperhatikan sisi keseragaman yang indah ini. Itu berarti proses uniformalisasi tidak dimaksudkan untuk ‘mengekang ekspresi keindahan’, tetapi justru menyuburkan praktik berbusana yang indah itu.

Memakai pakaian seragam seperti Keki ini, mengalirkan rasa bahagia. Mengapa? Setidaknya, saya boleh berpartisipasi dalam menumbuhkan kultur keindahan di lingkungan sekolah. Dalam dan melalui ‘busana keki’ ini, kesadaran akan pentingnya merawat ‘suasana indah’ tertanam kuat dalam batin. Jadi, sebenarnya ‘busana keki’ merupakan simbol bagaimana kita mesti menampilkan kerapian dan keindahan, baik dari sisi lahiriah maupun sisi batiniah.

Baca Juga:  Menjadi Bijaksana || Kado HUT untuk Media Letangmediacom dari: Sobe Rengka Melkior

Ketika keindahan ‘merajai hati kita’, maka profesi yang kita geluti, tentu saja menyenangkan. Jadi, jangan sungkan untuk mengenakan ‘busana Keki’. Busana itu tidak hanya dimilki secara eksklusif oleh ‘para aparatus negara’, tetapi juga setiap anggota komunitas yang punya kehendak baik untuk mewujudkan keindahan dalam hidup ini.

Apakah pemakaian busana Keki itu bisa mendongkrak mutu performa seorang guru? Apakah ada korelasi yang tegas antara ‘busana Keki’ dan kualitas implementasi profesionlisme seseorang? Saya kira tidak ada jawaban final terhadap pertanyaan ini. Saya hanya bisa berhipotesis bahwa dengan memakai ‘busana Keki’ itu, ada tugas atau tanggung jawab besar yang melekat pada seorang guru.

Pada pundaknya, masa depan generasi bangsa akan dipertaruhkan. Untuk itu, diharapkan agar dengan memakai busana Keki itu, guru boleh menjabarkan secara kreatif cara mendidik anak dalam susana yang indah dan menyenagkan. Seorang guru mesti mengalirkan pupuk kebaikan secara reguler agar ‘bayi keindahan dan pengetahuan’ dalam diri siswa, bertumbuh secara normal dan pada saatnya menghasilkan buah yang berkualaitas.

Dengan kesadaran semacam itu, maka ‘busana Keki’ telah menginspirasi guru untuk ‘memberikan pelayanan pendidikan prima’ kepada peserta didik. Jika itu terlaksana, maka Keki itu bukan ornamen penghias raga semata, tetapi sebagai kode pengingat dan perangsang dalam memanifestasikan spirit profesionalitas secara konsisten dalam jejaring keindahan manusiawi yang paripurna.

*Penulis adalah warga Mabar. Tinggal di Watu Langkas.

  • Bagikan
error: Content is protected !!
Kirim Pesan Sekarang
Trima kasih dan selamat datang di letang
Hallo...
Trima kasih dan selamat datang di letangmedianews.com.
Silahkan kirim pesan untuk pertanyaan iklan produk & perusahan,
penulisan profil prusahan, bisnis, serta kerja sama, dll
Salam dan hormat kami
Letangmedianews.com.