oleh

Cerita Pilu Bahasa Ibu || Oleh: Sil Joni

Cerita Pilu “Bahasa Ibu”

Penulis | Sil Joni*
Penulis adalah Pemerhati Masalah
Sosial dan Politik

MESIN globalisasi yang bertendensi menyeragamkan pelbagai sisi kehidupan termasuk bidang kebudayaan, terus menderu. Unsur kelokalan termasuk bahasa ibu di masing-masing suku, terancam terdepak. Gejala pembunuhan yang berbau lokal itu begitu gamblang saat ini.

Kita seakan berada di persimpangan jalan kebudayaan. Dalam kondisi semacam itu kita dituntut untuk menentukan pilihan, apakah ikut terbuai oleh rayuan globalisasi dan modernisasi atau lebih mengakar dan menghidupkan pelbagai kearifan lokal dalam merespons derasnya arus globalisasi tersebut.

Sejak tahun 2000, PBB (UNESCO) menetapkan tanggal 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional (International Mother Language Day). Penetapan ini dilatari oleh motivasi “menyelamatkan” aneka bahasa ibu (mother tongue) dari ancaman kepunahan. UNESCO secara aktif “membangkitkan” kesadaran linguistik kita sekaligus penghargaan terhadap warisan kebudayaan (berbahasa) yang sangat heterogen.

Saya kira “gerakan atau kampanye” menyelamatkan eksistensi bahasa ibu tidak hanya relevan, tetapi sangat urgen saat ini. Fakta menunjukan bahwa hampir tiap tahun selalu ada bahasa ibu yang mengalami nasib tragis, jumlah penuturnya cenderung berkurang. Di NTT, fakta kepunahan bahasa ibu bukan isapan jempol semata. Beberapa bahasa ibu di Alor sudah punah. Tak ada lagi yang mau menggunakan bahasa tersebut sebagai bahasa pergaulan/percakapan sehari-hari.

Baca Juga:  Media, Aktualisasi Diri dan Proyek Idealisme || Oleh: Sil Joni

Kita bersyukur bahwa para penutur “bahasa Manggarai” masih akrab dengan warisan budaya ini. Jumlah pemakai atau penggunanya tak pernah surut. Hanya saja, beberapa dialek (logat) sebagai variasi dalam bahasa itu “terancam punah”.

Dialek (logat) Kempo, Boleng, dan Lengko di ujung Barat Manggarai dalam pengamatan saya tak terlalu superior. Banyak penutur atau pemakai dialek ini secara latah “beralih” ke logat Ruteng (manggarai Tengah). Jumlah penutur tiga dialek ini di kota Labuan Bajo bisa dipastikan mengalami penurunan yang drastis.

Baca Juga:  Skandal Nafsu Memeluk "Bukit Kerangan" || Oleh: Sil Joni

Jika kita berkesempatan “menyimak” obrolan di berbagai sudut kota ini, nyaris tak terdengar variasi logat. Kita hanya mendengar dialek yang relatif seragam dan monoton. Logat Manggarai Tengah sepertinya sukses menggusur “kecintaan” warga asli di tiga wilayah ini untuk setia pada bahasa ibu mereka.

Wilayah “dataran Terang” mungkin menjadi contoh terbaik bagaimana peminggiran secara gradual dialek Boleng. Tak ada lagi penutur yang menggunakan “logat Boleng”. Cepat atau lambat, dialek ini akan punah di Terang. Inilah realitas pilu yang melilit bahasa ibu kita saat ini.

Peringatan “Hari Bahasa Ibu Internasional” menjadi momentum ideal bagi kita untuk “kembali” menggauli bahasa ibu secara mesrah. Bahasa ibu dengan variasi dialek tentu mengalirkan sistem nilai dan sistem berpikir yang jika direfleksikan secara kreatif, sangat kontributif dalam “meredam” amukan gelombang globalisasi dan homogenisasi berbahasa saat ini.

Think globally act locally. Berpikir global bertindak lokal bisa menjadi prinsip yang baik untuk lebih berakar dan berdialog dengan khazanah kebudayaan sendiri dalam mengarungi aneka pemikiran dan gaya hidup global saat ini. Bahwasannya kita tidak boleh tercerabut dan teralienasi dari atmosfer kurtur lokal agar tidak mengalami semacam disorientasi dan krisis identitas. Salam dan SELAMAT HARI BAHASA IBU INTERNASIONAL 21 FEBRUARI.

Baca Juga:  "Langit Bersukacita dan Bumi Bersorak-Sorai" (Selamat Natal untuk Semuanya) || Oleh: Sil Joni

*)Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik; Saat ini berdomisili di Labuan Bajo, Manggarai Barat

Komentar