oleh

Cerpen: Adonay, Kita Dipertemukan Bukannya Dipersatukan

Cerpen: Adonay
“Kita Dipertemukan Bukannya
Dipersatukan”

Penulis | Stefan Bandar
Penulis adalah Mahasiswa STFK Ledalero-
Maumere

CERPEN| Mungkin kita adalah dua makhluk asing yang ditakdirkan untuk bertemu bukan untuk bersatu. Tuhan pasti telah menetapkan seseorang yang pantas untuk mendampingimu nanti, begitu juga denganku.

Demikian kata-kata yang engkau ucapkan malam itu di tepi pantai.Engkau mencoba mengartikan sebuah takdir dengan pertemuan yang kita lalui bersama.Kau membangun teorimu tentang takdir dari pertemuan kita yang bagimu hanyalah kebetulan saja.

Sebenarnya aku telah mengenal tentangmu jauh sebelum engkau memperkenalkan dirimu kepadaku.Aku mengenal tentang engkau dari teman-temanmu. Sebenarnya mudah saja bagiku untuk dekat denganmu.

Mengapa?Sebab aku adalah salah satu anggota OSIS yang memimpinmu mengenal lingkungan sekolah.Tetapi aku sengaja tidak pernah masuk dalam kelompokmu sebab aku ingin menjadi seorang yang asing bagimu sebelum engkau mengenalku.

***

Aku ingat saat pertama kita berkenalan.Saat itu engkau sedang asyik mencari sebuah buku di perpustakaan.Aku tahu engkau sedang mencari novel karya Boy Candra yang berjudul Jatuh dan Cinta. Aku sengaja menyembunyikannya di rak paling bawa, di antara buku-buku tentang galaksi yang sering kubaca.

Hal itu kulakukan agar kita bisa bertemu dan memulai perkenalan di lorong sempit itu.Akhirnya saat itu pun datang juga.Kita berjumpa di lorong yang begitu sempit.

Adonay, begitu engkau memperkenalkan namamu. Engkau memperkenalkan asalmu dan beberapa hal lainnya.Aku mendengar semuanya seolah aku belum tahu tentang dirimu.Namun nyatanya, aku sudah mengetahui tentangmu sebelum engkau menceritakan itu kepadaku.

Lalu engkau menanyakan identitasku.Aku menjawab semua pertanyaanmu.Lalu engkau mengeluarkan buku kecil dari saku baju seragammu lalu mencoret sesuatu pada lembaran awal.

Hal yang menyenangkan setelah perkenalan itu adalah ketika engkau menceritakan kelemahanmu yakni menerapkan ilmu menghitung.

Engkau memintaku untuk mengajarimu caramenyelesaikan soal-soal yang cukup menyulitkanmu. Awalnya aku menolak permintaanmu.

Namun karena engkauterus memaksa, maka aku mengabulkan permintaanmu. Setiap kali jamistirahat pelajaran engkau membawaku ke taman sekolah lalu memintaku menjelaskan materi yang engkau belum mengerti.

Aku sangat merasa bahagia saat-saat seperti itu. Namun kebahagiaan itu tidak kutunjukkan kepadamu sebab aku juga seorang pria yang tidak ingin merasa ke-GR-an seperti seorang yang sedang dimabuk cinta.

Beberapa kali aku sengaja mengeluh tidak bisa menjelaskannya kepadamu.Aku hanya ingin melihat reaksimu.Engkau tampak kesal.Seketika keceriaan di wajahmu sirna. Engkau mengutuk filsuf yang mengemukakan teori yang sulit itu.

Baca Juga:  Kabut di Kamar Antara Tanya dan rindu Melebur Menjadi Satu || Kumpulan Puisi Indrha Gamur

Bahkan engkau menyalahkan Tuhan karena tidak membantumu memahami materi yang ada.

Setiap malam sebelum tidur, engkau selalu menceritakan segala kesibukanmu, segala pengalamanmu seharian, hingga menceritakan pak Nandus, guru yang paling kau benci. Aku membalas semua ceritamu dengan tawaku yang meledak, memancingmu untuk terus bercerita.

Tetapi satu hal yang engkau tak tahu bahwa semuanya itu membuat waktu belajarku terpotong. Setelah engkau menceritakan semuanya dan ingin mengakhirinya karena rasa ngantuk, aku segera mengambil buku pelajaranku dan mulai menguasai materi pelajaran.

***

Beberapa kali, setelah aku menyelesaikan pekerjaan rumahmu, engkau mengutarakan semua kesibukanmu. Aku menyetujui semua ucapanmu meskipun aku tahu bahwa engkau tak sesibuk seperti yang kau ucapkan.

Tetapi aku selalu mengatakan bahwa aku siap mengerjakan semua tugasmu, meskipun sebenarnya aku sendiri memiliki tugas yang lebih banyak dari yang engkau miliki.

Engkau tidak pernah tahu akan hal itu sebab aku selalu menemukan alasan yang mengatakan bahwa seolah-olah aku baik-baik saja.

Mungkin benar, dua hal yang muncul dalam diri orang yang sangat mencintai adalah kecemasan dan ketakutan.Kecemasannya adalah jauh dari orang yang dicintainya dan ketakutannya adalah kehilangan.Aku terlalu mencintaimu sehingga aku takut kehilanganmu.

Tetapi aku juga menyadari bahwa kesalahanku adalah terlalu mencintaimu. Bahkan aku selalu mendoakan agar engkau tidak pernah mencintai seseorang yang lain selain diriku saja.

Engkau tidak pernah tahu betapa sakitnya mendoakan seseorang yang dicintai dan bagaimana seluruh doa tersuciku adalah mengaminkan mogamu.

Hari-hari terus berlalu.Tanpa kusadari, masa putih abuku telah usai. Aku dan teman-temanku merayakan keberhasilan kami dengan menari bersama di bawa tenda biru.

Aku senang karena aku sudah menyelesaikan pendidikan SMA dan sebentar lagi menyiapkan diri memasuki jenjang yang lebih tinggi yaitu sebagai seorang mahasiswa. Namun di sisi lain aku juga merasa takut.

Aku takut berpisah denganmu.Tetapi di depanmu aku berusaha merasa senang meski sebenarnya aku berada dalam situasi dilematis.

***

Setelah perpisahan itu, aku mulai menyibukkan diri dengan duniaku yang baru.Aku mengenal lingkungan yang baru, teman-teman yang baru dan banyak hal baru lainnya.

Baca Juga:  Sajak Untuk Ayah

Aku berusaha menghilangkan ingatanku tentangmu dengan menyibukkan diri dengan bermain dan mengikuti kegiatan kampus.Namun entah mengapa, semakin hari semakin aku merasa tersiksa.

Meskipun engkau mengatakan bahwa takdir kita adalah sebatas pertemuan, namun aku tetap saja merasa takut kehilanganmu.

Tanpa disadari lama-kelamaan kita tidak saling berkabar. Entah ke mana engkau melanjutkan kuliahmu, aku tak tahu.Kegiatan-kegiatan kampus serta tugas-tugas dari dosen membuatku tidak memiliki waktu untuk menanyakan kabarmu.

Engkau juga tidak mengabariku prihal keadaanmu. Mungkin di sana engkau merasakan hal yang sama seperti yang aku alami. Aku menyibukkan diri dengan kegiatan kampus dan beberapa kegiatan bersama teman-teman.

Namun harus kuakui bahwa seringkali engkau hadir dalam mimpiku. Kadang engkau memberiku senyum, tapi kadang juga engkau meneteskan air mata di depanku. Dan air mata itu menjadi alasan namamu selalu kusebutdalam doa.

Namun sejak doa yang kesekian kalinya, akhirnya bayangmu pergi dari mimpi tidur malamku. Sejak doaku untukmu yang ke sekian kalinya, engkau tidak lagi datang menghiasi mimpi malamku.

Mungkin benar, cara tersuci melupakan orang yang kita cintai adalah berdoa.

Lima belas tahun setelah semuanya, aku benar-benar melupakanmu.Aku mampu menetralisasikan perasaanku padamu.Lima belas tahun aku tidak mengabarimu begitupun juga dengan dirimu.

Aku sudah baik-baik saja dan mungkin engkau juga baik-baik saja di sana.

***

Hingga suatu hari aku menerima sebuah amplop darimu. Di dalamnya sebuah surat tulisan tanganmu, beberapa lembar foto, dan kartu undangan perkawinan.

Aku merasa bahagia menatap senyuman yang mengembang pada wajahmu.Engkau terlihat semakin cantik, dipoles dengan make up yang secukupnya dan diselimuti gaun putih.

Setelah menatap kartu undangan pernikahanmu, aku mengambil beberapa lembar foto yang kau kirim.

Foto-foto itu tentang kita yang duduk di bawa pohon mangga saat masih SMA. Engkau menyelimuti tubuhmu dengan jeket berwarna merah, jeket baru yang engkau beli sehari sebelumnya.

Akh, aku kembali terbawa ke saat itu, belasan tahun silam. Beberapa foto yang lain adalah saat kita makan bersama di kantin sekolah dan kegiatan ekstrakulikuler bersama.

Harus kuakui, hari itu ketika engkau membuka ruang bagi hatiku, aku sangat ketakutan.  Aku takut bukan karena aku tidak bisa mencintaimu tetapi aku takut jika suatu saat engkau akan pergi meninggalkanku dan menghilang begitu saja.

Baca Juga:  Cerpen: Akankah Luka Ini Abadi? || Oleh: Afrianna

Bukannya aku takut terluka tetapi yang kutakuti adalah bayangmu yang tak akan pernah menghilang dari ingatanku. Dan foto ini seperti kekuatan yang membawaku kembali pada masa-masa itu.

Kemudian aku membuka sebuah surat darimu. Hurufmu masih seperti dulu, rapinya hanya sedikit.

Jujur saja aku sedikit kesulitan membacanya.Namun aku berusaha untuk membaca semuanya.

Dear, Navtal,
Setelah perpisahan kita saat itu, aku berusaha mecarimu. Aku menjaga hatiku hanya untukmu meskipun aku tahu banyak orang yang berusaha mendapatkannya.
Aku merasakan kesepian setelah kepergianmu namun aku berusaha tetap tegar agar teman-temanku tidak menaruh curiga padaku.

Aku tidak mengabarimu sebab aku tidak ingin menganggu waktu belajarmu. Namun andaikan engkau tahu, hal yang paling menyakitkan bagiku adalah tidak pernah mengabarimu.
Saat ini, ketika engkau membaca surat ini, aku sudah menemukan kebahagiaanku di sini dan pastinya engkau menemukan kebahagiaanmu di sana.

Tetapi satu hal yang harus engkau ketahui bahwa aku sangat bahagia dengan pertemuan dan pertemanan yang kita ukir bersama. Aku selalu ingin kembali ke masa-masa itu, tetapi tidak mungkin lagi terjadi. Aku harap engkau baik-baik saja di sana sebagaimana aku yang sedang baik-baik saja di sini.

Salam rindu, Adonay.

Membaca coretan tanganmu di atas kertas yang engkau kirim untukku adalah saat yang melelahkan dalam kehidupanku. Engkau mencoba membawaku kembali ke masa lalu namun kenyataan memaksaku untuk menepis semuanya. Keadaan memaksaku untuk terus melihat ke depan, menapaki jalan hidup yang telah kupilih. Benar katamu, kita adalah dua makhluk asing yang ditakdirkan untuk bertemu bukan untuk bersatu. Kita hanya dipertemukan bukannya dipersatukan. Selepas engkau pergi, semua kisah kita kutulis di sini. Selepas engkau pergi, kisah ini akan abadi.

Editor| Rian Tap

Komentar