oleh

Cerpen: Antara Kamu dan Hujan

Antara Kamu dan Hujan

Penulis | Cristi L. Sari*

Prolog|Hampir pasti kita pernah mengalami jatuh cinta personal, namun kadar kejatuhan itu cukup berbeda. Ada yang butuh waktu lama untuk menumbuh-kembangkan rasanya ada pula yang tidak butuh waktu lama.

Perkenalan tidak seberapa lama tetapi benih rasa itu sudah bertabur semi. Mungkin karena sudah ada sekian banyak kecocokan hingga dengan lantang dan berani untuk menjalin relasi personal. Seiring berjalannya waktu rasa cinta itu diuji sedemikian mungkin. Ada orang yang pasrah dan mengaku kalah, lantas terlalu rumpil rumit untuk terus dijalan.

Kita mulai mencari dan menghalalkan segala cara agar benih cinta itu tepat tumbuh. Dalam cerpen “Antara Kamu dan Hujan”, penulis menampilkan kisah romantis dua sejoli muda yang dikenal melalui media sosial yakni Facebook. Kisah dari facebook hingga pantai tergurat jelas bahwa mereka telah menanam cinta yang mendalam.

Cinta yang menginginkan untuk membangun bahtera rumah tangga. Tetapi yang menjadi soal, cinta dari sang lelaki harus diuji dengan cara yang sadis. Ia harus melewati hujan yang datang secara tidak kompromi, ditambah nyawa yang sudah diintai oleh alam. Sang lelaki cukup dilema dengan dua pilihan yang berat itu.

Antara cintanya kepada sang wanita ataukah cinta akan nyawanya. Hingga akhirnya ia mundur perlahan sebab rasa cinta akan wanita itu terlalu munggil bila berhadapan dengan cinta hujan terhadap bumi (Rian Tap/Redaktur Cerpen Letangmedia.com)

***

CERPEN| Akhir-akhir ini cinta sedang mengunjungiku secara perlahan sekaligus mulai mengujiku. Mungkin karena baru pertama kali aku jatuh cinta, sehingga membuat detak jantungku berdegup begitu kencang, hingga menggetarkan atma lalu menusuk setiap hunian dada.

Bibirku mulai mengukir senyum ketika aku mendapatkan notifikasi pesan dari aplikasi berwarna biru dengan lambang huruf “F”. Sejak sekian lama, waktuku selalu aku sisakan untuk singgah di aplikasi itu.

Baca Juga:  Gagasan Paulo Freire Tentang  Pendidikan  Yang Liberatif-Transformatif  Sebagai  Suatu Model Pendidikan Yang Ideal Dan Humanis Dan Implementasinya Dalam Konteks Pendidikan Di Indonesia

Bagiku tempat itu adalah segudang panorama yang mesti aku kunjungi. Di sana juga, aku mulai menjatuhkan diri pada rasa yang namanya cinta. Seorang gadis yang selalu aku pantau secara diam-diam. Lalu dengan diam-diam juga aku menaruh rasa padanya.

Cukup konyol juga, rasa cinta yang tak mampu diungkap adalah salah satu seni penanaman rindu yang terdalam. Mulai saat itu aku mahir menampung segala rindu dalam sukmaku.

Aku mengenalnya pada malam minggu sekitar pukul 11:25. Bagiku malam itu merupakan malam yang penuh romantis. Benar kata orang “Kebahagian yang terdalam pada saat kita perkenalan awal, apalagi dibarengi rasa cinta yang bersemi”.

Pokoknya terlalu indah untuk berkata-kata. Sembilan bulan yang lalu, saat jari jempol sedang asyik menarik ulur beranda facebook tiba-tiba muncul satu notifikasi “Maria” mengirim anda permintaan pertemanan” disertai kotak konfirmasi dan hapus. “Wah cantik nian parasnya” batinku.

Wajar saja seorang laki-laki pasti batinnya dengan penuh euphoria saat ia mendapat permintaan pertemanan dari seorang wanita cantik.

Tanpa menunggu lama aku segera mengklik kotak konfirmasi. Lalu aku mulai berselancar ke wallpaper Maria, memandangi satu per satu foto profil dan sampul sambil sesekali membuka komentar- komentar dari sahabat facebook Maria, tapi tak satupun aku temui komentar yang menunjukan kekasihnya.

Sejak saat itu aku mulai menaruh harapan besar pada Tuhan untuk menjadikannya sebagai tuan hati kala rindu mencekam.

Sepertinya Tuhan mendengarkan rintihan hati yang sudah lama tidak berpenghuni, hingga perkenalan kami sampai ke tahap menjalin kasih, dan akhirnya aku memutuskan menciptakan nama baru untuknya “Gadisku” begitulah aku menyebutnya.

***

Perkenal kami cukup singkat. Sesingkat malam yang menelan senja. pada Sabtu siang, kami bersepakat untuk bersua di pantai. pertemuan dua sejoli muda yang sudah terbakar oleh rasa membuat kami tidak sadar akan waktu.

Baca Juga:  OPINI || Pandemi Covid 19 Dan Tanggung Jawab Sebagai ‘Social Creatures’

Pertemuan itu sampai matahari mulai berpamit dengan bumi di ufuk barat. Mungkin terlalu asyik dengan suasana pantai yang begitu indah.

Terik mentari yang mengalir deras dalam setiap nadi tak kami hiraukan, semilir angin yang menyapu helai rambutnya menambah aura kemolekannya. Kemudian kami bertukar cerita dalam canda dan tawa, saling berkata-kata dihiasi malu untuk mencairkan suasana dan mengusir kesunyian walau hanya sesaat.

Sungguh tatapannya menggetarkan jiwa, perawakannya benar-benar menawan membuat pikiranku terus tersandera oleh kenangan pada perjumpaan pertama. bagiku dia sebagai cinta pertamaku.

Seiring berjalannya waktu, kami mulai merangkai masa depan disertai harapan-mulia untuk diwujudkan bersama, menyepakati mimpi-mimpi bersama hingga saling mengirim doa pada yang Esa.

Rasa ini semakin menjadi, rasa rindu yang tak mau berhenti menyusuri tiap aliran darahku dalam detak nadi dan jantungku. Afeksi yang mendalam membuat aku memantapkan hati untuk segera melamarnya.

***

Baru saja kunyalakan motor bututku hendak kedesanya, hujan kembali mengunjungi bumi tanpa seijinku. Ah! bodohnya aku, hujan memang selalu hadir tanpa kompromi. Tapi niatku sudah bulat, rindu untuk temu tak bisa dikalahkan hujan.

Ya, begitulah cinta daya magisnya mampu mengalahkan segalanya. kekuatanya meletup kencang, kita tak mampu membendunganya secara sepihak maupun secara sepintas. Setelah melalui perjalanan selama 2 jam lebih 15 menit, dengan melewati jalan terjal, Jalan berlubang nan ekstrim.

Sedangkan hujan masih setia menyambangi bumi, bahkan ia datang dengan sejadi-jadinya, mungkin ini yang dinamakan “cinta butuh perjuangan”. ujian terbesarku bukan berhadapan dengan orang tuamu melainkan menghadapi hujan yang mengganas.

Sedikit meminjam kata-kata bijak “cinta yang tak diperjuang, tak layak untuk dihidupi”. itulah alasan yang mendasar aku berjuang hingga pada titik ini. Akhirnya tiba di simpang 3, di situ aku harus berbelok arah hendak melewati cabang menuju desanya.

Baca Juga:  OPINI || Natal dan Rekonsiliasi Politik Pasca Pilkada

Sayang seribu sayang hatiku sudah seribu kali tawar-menawar dengan logika untuk tetap lanjut atau pulang setelah melihat plang bertuliskan “hati-hati anda memasuki daerah rawan longsor”. Ah sial!! , gerutuku.

***

Kali ini rasa cinta sungguh teruji. Apakah aku terus berjuang meski maut sudah mengitaiku?, ataukah aku harus mundur sebab aku kalah memperjuangkannya?. Gadisku termasuk masyarakat yang belum merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya.

Desa yang dipenuhi hasil komoditi, tetapi jalan untuk sampai kesana semakin tahun semakin tak teratasi. Ini salah siapa? Salah orang desa? Aparat pemerintah? Ataukah dananya sudah ditelan para koruptor yang tidak bermoral? Ah entahlah!.

Gadisku maaf aku harus pulang. Rupanya hujan jauh lebih besar cintanya kepada bumi sehingga ia datang dengan setega ini.

Gadisku, kupastikan akan kembali ketika musim hujan berakhir. Percayalah kamu akan abadi di hatiku.

Doakan saja semoga musim hujan tahun depan, longsor di jalan tak ada lagi.

***

BACA JUGA:

  1. Cerpen: Maria Dari Tanah Marapu
  2. Cerpen: Suamiku Bukan Pastor Parokiku
  3. Cerpen : Aku Menyukaimu Dalam Diam  || Oleh: Cristi Lasmi Sari  
  4. Cerpen: Gadis Bermata Sayu || Oleh: Angelina Delviani
Penulis: Cristi Lasmi Sari

Penulis adalah seorang Guru
Bahasa Inggris di SMA 10 Borong
Manggarai Timur

Komentar