Cerpen, Covid-19 Memang Kejam || Oleh: Mauritsia Yosintia

  • Bagikan
Cerpen, Covid-19 Memang Kejam
Ilustrasi

CERPEN| Di sebuah desa, hiduplah seorang janda berusia 45 tahun. Ia memiliki anak kembar laki-laki bernama Juan dan Juna. Keduanya memiliki kepribadian yang berbeda. Jika Juan adalah anak yang tekun, pintar, dan ramah. Maka berbeda dengan Juna yang bodoh dan dingin.

Dari kecil mereka sering dibanding-bandingkan, baik oleh keluarga besar, tetangga, maupun teman di sekolah. Tetapi ibunya sama sekali tidak pernah membedakan-bedakan keduanya. Bagi seorang ibu anak adalah anugerah yang terbesar dari Tuhan.

Namun apa pun yang terjadi, ia akan tetap menyayangi kedua anak kembarnya sepenuh hati. Di balik kekurangan si Juna, ada kelebihan yang tersembunyi yang tidak diketahui oleh banyak orang.

Sore itu hujan turun dengan derasnya. Dua orang pria berjalan menuju pintu rumah dengan ekspresi yang berbeda, mereka adalah Juan dan Juna. Sudah tidak asing lagi bagi Juan menunjukan ekspresi bahagianya, tetapi berbeda dengan Juna yang selalu terlihat cemberut dan bersungut-sungut.

“Selamat Siang, Bu!” Salam Juan dan Juna bersama-sama. “Wah, anak-anak ibu sudah pulang?” Kata ibu dengan perasaan bahagia. Seketika itu juga, wajah ibu berubah saat melihat salah satu putranya lesu dan tidak bersemangat. “Juna? kamu kenapa nak?” Tanya ibu sambil mengelus-elus pundak putranya itu dengan raut wajahnya penuh kasih sayang.

***

Mendengar suara ibu, Juna terkejut lalu menatap ibu dan berkata ”Juna, tidak kenapa-kenapa Bu.” ibu tahu, kalau putranya berbohong; tetapi ibu memakluminya lalu memberitahu Juna seraya berkata, ”Nak, jika kamu ada masalah jangan ragu untuk bercerita kepada ibu.” Juna hanya mengangguk-angguk tanpa ada jawaban sepatah kata pun.

Lalu ibu berkata: “Apa pun masalahmu ibu siap membantumu nak. Jangan kau dengarkan perkataan orang yang menggores perasaan dan hatimu. Mereka tidak tahu tentang dirimu yang sebenarnya, selain ibu.” Mendengar perkataan ibu yang menyejukkan itu, membuat Juna tersenyum. Itulah mengapa dirinya tidak peduli dengan perkataan orang lain. Karena menurut Juna apa pun yang dikatakan ibu itulah yang harus ia lakukan dengan sepenuh hati.

Mendengar percakapan ibu dan saudara kembarnya itu, Juan merasa tidak dipedulikan. Juan iri dengan Juna yang selalu disemangati oleh sang ibu. Juan memang egois karena dia berpikir bahwa yang pantas diberi semangat dan pujian hanyalah dirinya bukan Juna.

Hancurlah sudah harapannya untuk menunjukan nilai ulangan yang didapatkan di sekolah, agar membanggakan diri di depan sang ibu dengan mengejek Juna karena mendapat nilai rendah. Sudahlah, sepertinya kali ini bukan waktu yang tepat bagi Juan untuk membanggakan dirinya. Juan berlalu begitu saja tanpa permisi terlebih dahulu kepada ibu dan Juna.

Pada hari berikutnya (hari senin), si kembar berangkat ke sekolah bersama-sama. Ketika mereka sampai di ujung kompleks rumah. Mereka mendengar sekelompok ibu-ibu berbisik-bisik menceritakan penampilan keduanya.

Juan siswa yang begitu rapi dan berwibawa layaknya seorang pelajar yang patuh dengan segala aturan di sekolah membuat Juna semakin dipojokan. Karena Juna yang berantakan bagaikan badboy dalam karakter Wattpad. “Anak kembar? Tetapi sifat dan sikapnya berbeda.” Ujar salah satu ibu yang sedang belanja sayuran keliling.

“Begitulah ibu-ibu; menurut mereka biasanya kalau anak kembar itu semuanya hampir sama sikap dan karakternya, tapi kok kembar yang ini beda jauh, yah?” Sambung ibu yang satunya lagi.

Merasa diasingkan dalam pembahasan itu, Juna berlalu tanpa mempedulikan kelanjutan perkataan mereka dan meninggalkan Juan begitu saja. Juan sedikit marah, karena menurut Juan wajar saja jika orang-orang sering membandingkan mereka berdua.

***

SMKN 1 Wae Ri’i adalah sekolah si kembar berdua. Sekolah ini termasuk sekolah unggul di Provinsi NTT. Sekolah ini memiliki tujuh jurusan yaitu, DPIB, TBSM, ATR, APHP, TABO, ATPH, dan KKBT. Sekarang si kembar duduk dibangku kelas XII mereka mengambil jurusan yang sama yaitu, DPIB. Selain itu sekolah ini sangat disiplin, tetapi tidak berlaku bagi Juna.

Menurut Juna percuma disiplin jika tidak bisa menghargai orang lain. Ketika memasuki gerbang sekolah tiba-tiba ada siswa yang berkata,

”Jun, tumben sekali kamu datang lebih awal; biasanya kan berandalan sepertimu tidak pernah patuh pada aturan. Berbeda dengan saudara kembarmu yang selalu tepat waktu. ” Ucap siswa di samping Juna yang mengundang tawa teman-teman lain. Seperti biasa Juna tidak peduli dengan perkataan mereka. Ia terus berjalan menuju kelas tanpa memperhatikan sekitar. Yah, itulah Juna pria dingin dengan segala ketidak peduliannya.

Selang beberapa waktu, kepala sekolah mengumumkan bahwa pembelajaran hari ini ditiadakan. Karena jumlah kasus virus corona yang semakin bertambah di Indonesia. Pembelajaran akan dilaksanakan secara online atau daring. Sekolah kembali dilaksanakan bergantung dari situasi penyebaran virus corona.

Mendengar penyampaian itu ada siswa yang merasa kecewa jika tidak belajar tatap muka. Bagi siswa yang ekonominya pas-pasan merasa keberatan, sebab mereka tidak mampu membeli handphone seperti yang lain. Sedangkan yang malas seperti Juna merasa diuntungkan setidaknya orang yang menghujat dirinya berkurang. Pikiran yang simple bukan? Setelah pengumuman tadi, mereka langsung pulang ke rumah masing-masing.

Juan berjalan ke dalam rumah dengan kesal, ia merasa dirugikan oleh pembelajaran online, sebab dirinya tidak bisa menyombongkan diri lagi di depan guru dan teman-teman. Juan mendatangi ibu, dan berkata: “Bu, belikan Juan handphone. Sekarang ini sekolah online, mana mungkin Juan tidak ikut pembelajaran sementara Juan adalah siswa yang pandai di sekolah.

ibu merasa permintaan Juan susah untuk dikabulkan hanya bisa diam dan mencoba cari solusi. “Juan, bersabarlah jangan kau memaksa ibu terus untuk segera mengabulkan keinginanmu. ”Jawab Juna membantu sang ibu. “Kau tahu apa anak bodoh? Anak sepertimu tidak peduli dengan pendidikan, berbeda dengan aku yang berprestasi. Sombong Juan kepada si Juna.

***

“Sudah, cukup! Jaga ucapanmu; Juan Bagaimana pun juga dia adalah saudaramu. Jangan sekali-kali kau menghinanya. ”Tegur ibu atas perkataan Juan, ”ibu punya tabungan, tetapi hanya mampu membelikan satu handphone untuk kalian, ” lanjut ibu.

“Lalu, kita harus menggunakan handphonenya bersama-sama?” Tanya Juan dengan perasaan marah dan sinis. Juna sadar bahwa kembarannya tidak mau memakai handphone itu bersama-sama. Juna memutuskan untuk mengalah saja.

Lagi pula Juna sadar dengan kemampuannya yang tidak sebanding dengan Juan. Juna masih bisa mencari solusi untuk tetap belajar walapun tanpa handphone. “Bu, handphonenya untuk Juan saja dia lebih membutuhkan. Sedangkan untuk Juna jangan dipikirkan Bu. Juna bisa cari solusi lain untuk tetap belajar.” Kata Juna tersenyum hangat kepada ibu.

Lima bulan telah berlalu. Covid-19 masih merajalela di Indonesia bahkan telah sampai di pelosok-pelosok daerah. Segala aktivitas masyarakat dibatasi. Pemerintah menetapkan protokol kesehatan kepada masyarakat Indonesia dan memberlakukan PPKM.

Masyarakat dihimbau untuk menjaga jarak, memakai masker, dan mencuci tangan setelah melakukan segala aktivitas. Relasi di desa si kembar juga berubah dari yang biasanya sering berkumpul untuk melakukan kegiatan tertentu sekarang ditiadakan.

Masyarakat berpendapat bahwa pandemi membuat mereka saling menjaga jarak satu sama lain. Tempat ibadah sudah jarang dikunjungi karena takut virus corona. Juan tidak peduli dengan peraturan yang ditetapkan pemerintah. Setiap hari dia keluyuran bersama teman-temannya.

Ia sudah lupa dengan kebiasaan positifnya gara-gara dihasut oleh teman nongkrongnya. Sedangkan Juna setiap hari belajar menambah wawasan dengan membaca buku dari berbagai sumber dengan mengunjungi perpustakan sekolah karena ia tidak memiliki handphone.

Selama sekolah dari rumah, Juna selalu mengisi waktu luangnya dengan mengunjungi mantan alumni sekolahnya untuk meminjam buku paket. Selain itu, Juna juga membuat berbagai kerajinan tangan berupa gantungan kunci dan hiasan rumah dari bahan bekas lalu dijual untuk menambah penghasilan keluarga.

Ia juga tidak lupa ke sekolah meminta tugas pada guru-guru untuk dikerjakan di rumah, sekaligus memperbaiki nilainya yang selama ini anjlok.

***

Pada 16 Maret 2021 adalah ujian nasional bagi SMK di seluruh Indonesia. Dalam menghadapi ujian nasional biasanya ada rasa takut dan rasa gelisah. Itulah yang dirasakan Juan dan Juna saat ini.

Di dalam ruangan ujian Juna begitu tekun dan teliti dalam mengerjakan soal-soal sedangkan Juan terlihat khawatir dan bingung. Selama tiga hari ujian Juna selalu menyempatkan diri untuk belajar. Sedangkan Juan hanya bermain game online.

Juan merasa ada yang berubah dalam dirinya, tidak biasanya dia susah dalam mengerjakan soal baik ujian, ulangan, maupun tugas yang diberikan guru. Setelah ujian selesai muridmurid diliburkan karena tidak ada lagi pembelajara.

Selama libur setiap harinya Juna bekerja mengembangkan usaha membuat gantungan kunci dan hiasan rumah. Sampai tibalah pengumuman kelulusan bagi SMKN 1 Wae Ri’i.

Pengumuman disampaikan melalui grup whatsapp sekolah. Berbeda dengan Juna dari pagi sudah berada di sekolah menunggu hasil. Sedangkan Juan santai tinggal mengambil handphone lalu membuka whatsapp dan melihat hasil. Dengan penuh keyakinan Juan bersiap melihat hasil yang sudah dikirim pada setiap grup whatsapp, dia begitu yakin dengan kemampuannya yang akan menempati juara umum. Namun, harapannya pupus ketika membaca bahwa yang menjadi juara umum adalah saudara kembar yang selama ini ia remehkan itu.

Bahkan nilainya sangat jauh berbeda dengan kembarannya. Juan kecewa pada dirinya yang menganggap remeh pembelajaran online selama ini. Ia juga menyesali segala perkataan buruk yang sering ia lontarkan kepada kembarannya. Juan memang pintar, tetapi ia salah memanfaatkan kepintarannya selama ini.

Kesombongan, keegoisan, dan ketamakannya Juan dihancurkan oleh harapannya sendiri. Akan tetapi, Juna sudah mengetahui hasil belajarnya selama 3 tahun di bangku SMK. Ia bangga dengan pencapaian yang didapat berkat usahanya. Guru-guru awalnya ragu, karena yang mereka tahu Juna adalah siswa yang tidak pandai.

Namun, setelah diuji ulang kemampuannya, mereka terkejut dengan semua jawaban lisan yang lancar dari mulut Juna. Para guru juga memutuskan untuk memberikan Juna beasiswa agar melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.

Mendengar kabar bahwa Juna mendapat nilai terbaik dan mendapat beasiswa. ibu terharu sekaligus bangga kepada putranya yang selama ini dianggap remeh oleh banyak orang. Yap, hasil tak akan pernah mengkhianati proses. Cepat atau lambat, usahamu akan membuahkan hasil. Beranilah menerima tantangan untuk merasakan nikmatnya kesuksesan.

Sekarang Juna sudah merasakan hasil dari perjuangannya. Bahkan saat ini ia sudah melanjutkan pendidikannya di Universitas Indonesia, mengambil jurusan kedokteran. Sedangkan Juan lebih memilih melanjutkan usaha mengolah bahan bekas milik Juna. Ia akan melanjutkan kuliah setelah Juna selesai. Karena ia tidak mau membebankan sang ibu seperti dulu. Ia akan berusaha mengumpulkan modal untuk melanjutkan pendidikan dengan usahanya sendiri.

Masa pandemi menjadi tantangan baru untuk memulai hidup baru. pandemi memang mengubah segalanya, tapi tidak pada semangat kita untuk menuju hidup yang baru. Mungkin kamu bosan, jenuh, dan tertekan selama di rumah. Akan tetapi, percayalah kamu bisa mendapatkan kunci untuk mencapai masa depan yang lebih baik. Suatu harapan besar bagi saya, semoga pandemi ini cepat berakhir, ekonomi pulih, dan pendidikan kembali normal.

Editor || Rian Tap

*)Mauritsia Klaudia Yosintia adalah Siswa SMKN 1 WAE RI’I

  • Bagikan
error: Content is protected !!
Kirim Pesan Sekarang
Trima kasih dan selamat datang di letang
Hallo...
Trima kasih dan selamat datang di letangmedianews.com.
Silahkan kirim pesan untuk pertanyaan iklan produk & perusahan,
penulisan profil prusahan, bisnis, serta kerja sama, dll
Salam dan hormat kami
Letangmedianews.com.