Cerpen || Luka dalam Luka | Oleh: Epi Muda

  • Bagikan
ILUSTRASI (Sumber: lakonhidup.com)

CERPEN-Senja terus merinding. Waktu kian bercerita tentang pahitnya sebuah penderitaan dibalut kesedihan. Langit pun  mendung menghiasi suasana duka yang lara. Didekat pusara bertelutlah seorang gadis mungil berselubungkan kain berwarna hitam legam. Sesekali jumbai kainnya disibak oleh angin sepoi-sepoi basah. Ia Terluka. Air mukanya menyiratkan gambaran ketidakpuasannya akan kepergian ibunya. Suara tangisnya sesekali memecah heningnya salib bisu yang terpampang rapi dan tegak di hadapannya persis di dekat kepala ibunya berbaring. Sungguh suatu kesedihan yang tak bisa dielakan karena saat sekarang ia sedang memeluk duka. Sangatlah berat untuk menjinjing penderitaan ini,karena duka yang dipanen senja selalu menciut menyesatkan dada. Terasa langkah sudah pasti menjadi seorang yatim piatu, apalagi sang ayah entah kabur ke mana sejak ia masih sekolah dasar. Hatinya terasa sakit bagaikan teriris dengan sebilah pisau yang tajam. Amat menyakitkan.

“Ma…aku mencintaimu”. Itulah suara rintihan yang terkadang jatuh berderai dari mulutnya yang gusar.

Segenap keluarga besarnya turut berdukacita atas kepergian ibunya. Tak disadari semua keluarga berdiri mengelilingi pusara ibunya. Kini ia bukan lagi sendirian yang sedang merundung duka. Rasa dukanya kian pupus. Di balik wajah-wajah keluarga yang dilihatnya mempunyai harapan besar untuk bersandar. Tetapi air matanya selalu menetes mengalir membasahi kedua pipinya. Apakah keluarganya mencintainya seperti ibunya yang sangat mencintainya? Ternyata pertanyaan ini sungguh menyakitkan. Entahlah apa yang akan terjadi ia tak tahu pasti.

“Nia…kesedihanmu terlalu menyakitkan. Tapi kau tidak boleh tinggal dalam kesedihanmu. Berpikirlah bahwa sekarang kamu harus sendiri berjuang untuk hidup. Kami sekeluarga akan memperhatikanmu. Entahlah kasih dan sayang yang kami berikan masih kurang jauh seperti ibumu mengasihi dan mencintaimu. Bersabarlah hidup ini butuh proses bukan protes”, Kata om kandungnya dengan suara agak parau karena omnya juga turut bersedih melihatnya.

“Om…saatnya sekarang aku harus berjuang untuk hidup sendiri. Entahlah beban seberat apapun aku tetap berjuang. Kalau aku terus berharap untuk keluarga membiayai hidupku, aku rasa membuatku semakin beban. Mungkin pemikiranku ini rasanya konyol tapi aku percaya kuat bahwa hari ini keluarga merasa bahagia bersamaku, namun besok menjadi catatan berat, apakah keluarga masih  merasa bahagia denganku ? ”,Katanya dengan suara gemetar.

***

Rasanya hidup sungguh tersiksa. Nia berani mengatakan hal demikian, karena ia belajar banyak dari teman-teman sebayanya yang yatim piatu. Terkadang keluarga memanfaatkan mereka dengan menomor satukan mereka untuk mendapat imbas dari suatu masalah. Awal ketika Nia mendengar shering dari teman-teman sebayanya, ia hanya turut merasa sedih. Tetapi sekarang ia sendiri yang mengalaminya. Semenjak ibunya masih sehat selalu ada kasih dan sayang  yang ia terima, tapi setelah ibunya mengidap sakit TBC, ia mulai merasakan kesepian dan semuanya tinggal kenangan. Apalagi setelah ibunya meninggal, ia merasa sungguh menyakitkan dan menyiksa.

Sosok seorang ibu adalah kebanggan dalam hidupnya. Ternyata di akhir senja ini ia tak lagi merasa bangga akan ibunya, malahan ia merasa hidupnya semakin rancu. Dia sungguh merindukan kehadiran ibunya entah ibunya terkadang galak dan jahat. Dia merasa bahwa perjuangan seorang ibu adalah kebesaran rasa cintanya akan dirinya. Ibunya kerja keras di waktu untung dan malang demi membahagiakannya. Dia mengakui bahwa ibunya terus menjaga harga dirinya meskipun hidup mereka miskin. Dan di sini saatnya ia mulai berjuang untuk menjaga harga dirinya dengan bekerja keras.

“Nia…kamu harus kuatkan hatimu, jangan berpikr bahwa kami kurang serius memberimu kasih sayang. Kami tahu itu semua tanggung jawab kami, apalagi sebelum ibumu meninggal, diakhir wasiatnya, ia membisik pada telingaku bahwa omlah akan memberimu kasih sayang dan akan mengangkatmu sebagai anak pelihara. Jadi, kamu jangan sedih, menyesal hidup bersama ommu”, Kata omsambil memeluk tubuh Nia seolah-olah sedang memberikan kasih sayang kepadanya.

“Iya…om..”
“Ayo …kita kembali ke rumah…”

Perjalanan kembali ke rumah sungguhlah berat. Nia selalu saja menoleh ke belakang melihat pusara ibunya. Air matanya selalu menetes. Dalam hati kecilnya selalu muncul pernyataan bahwa  seandainya ibunya tiba-tiba muncul dan berdiri di depan kubur, ia langsung berlari dan memeluk ibunya untuk merasakan kasih dan sayang dari ibunya.

***

“Nia…ibumu tidak pernah meninggalkanmu. Ibu selalu bersamamu. Ia mencintai dan memberi kasih sayang kepadamu dengan doa supaya kau tetap kuat menghadapi penderitaan akan duka lara ini. Kalau kau selalu bahagia dengan hidupmu meskipun ibumu telah berpulang, pasti ibumu di surga juga merasa bahagia. Tapi ingat jangan lupa berdoa untuk ibu supaya ia selalu bahagia di surga tempat abadi”, Kata omnya sambil memeluknya kembali ke rumah.

Tidak ada kata-kata yang cukup untuk membalas pembicaraan omnya hanyalah tangisan sendu. Barangkali itulah yang akan memberikan jawaban pasti bahwa harapannya juga sama seperti harapan omnya. Sekali lagi Nia menoleh ke belakang melihat pusara ibunya.

“Ma….aku mencintaimu.Semoga bahagia di surga”.

Semua keluarga memeluknya dengan mesra. Kini Nia mulai menapaki rel kehidupan baru. Hidup tanpa orang tua kandung. Hidup yang terus dihidupi dengan perjuangan sendiri tanpa ada dukungan secara kasatmata dari orang tuanya. Nia harus mengais nasibnya di tengah semak-semak belukar dengan tanganya sendiri. Itulah rel kehidupan yang sungguh menyakitkan.  Mamanya telah meninggal dan ayahnya entah ke mana,ia pun tidak tahu persis. Meskipun ayahnya lari entah ke mana tapi ia tetap rindu untuk mencari ayahnya bahwa kehangatan cinta dari seorang ayah dapat mengobati luka batinnya.

Tahun-tahun terus beranjak. Perjalanan hidup Nia kini semakin menyakitkan karena omnya selalu memarahinya meskipun permasalahan itu kecil. Seolah-olah ia menjadi biangkerok dari semua permasalahan itu. Nia merasa hidupnyatersiksa bersama keluarga itu. Nia kemudian menyesal akan semuanya ini. Tetapi penyesalannya sudah terlambat. Nasi sudah menjadi bubur. Sekarang pekerjaan baru Nia adalah memeluk setiap luka batin yang sedang menciut dalam hatinya. Semuanya harus melewati sebuah proses panjang untuk bebas dari genggaman luka menyakitkan itu. Nia harus bekerja keras untuk mengenali siapa dirinya dan mencintai dirinya sebagai orang yang pernah memikul luka batin.

Oleh: Epi Muda. Penulis adalah Mahasiswa STFK Ledalero-Maumere. Saat ini berdomisili di biara SVD unit Gabriel.
  • Bagikan
error: Content is protected !!
Kirim Pesan Sekarang
Trima kasih dan selamat datang di letang
Hallo...
Trima kasih dan selamat datang di letangmedianews.com.
Silahkan kirim pesan untuk pertanyaan iklan produk & perusahan,
penulisan profil prusahan, bisnis, serta kerja sama, dll
Salam dan hormat kami
Letangmedianews.com.