Cerpen, Luka Larik

  • Bagikan
Cerpen Luka Larik
Ilustrasi (Sumber Gambar: daengbattala.com)

IBUNDA lekas sampai kepada perapian di mana setiap tungku mengalir titik-titik rasa paling lain. Tak heran setiap tanggal tua ibu selalu mengajakku  kembali ke kampung.

Duduk berbaris dengan songke (sarung adat Manggarai) tetap terikat pada pinggang, itulah kebiasaan hampir semua perempuan kampung ketika beberapa laki-laki dari kampung ayah dan ibuku diadu dalam tarian caci (sebuah tarian daerah Manggarai).

Cekung mata setiap perempuan kampung terus berdesakan naik sampai di atas compang (batu yang disusun sebagai tempat sesajian).

Suara gong begitu nyaring dengan ratap syair yang sambung-menyambung menjadi lagu kampung bernuansa daerah yang mempunyai pesan dan makna indah dan mendalam. Suasana ini tidak terjadi setiap waktu, melainkan hanya digelar pada momen-momen tertentu.

Ini bukan sebuah kegilaan kami sebagai pemuda-pemudi kampung yang hidup di negeri sendiri dengan menepati sumpah para leluhur. Ini lazim terjadi setiap tanggal sumpah pemuda.

Semenjak 5 tahun menjadi staf pengajar di negeri Cenderawasi, saya baru saja mengikuti upacara ini. Momentum ini menjadi suatu yang luar biasa bagi saya, jadi tidak heran kalau saya selalu duduk manis di tepi mbaru gembang (tempat menyimpan gong).

Kedua kelopak mataku tak ingin kusatukan dalam sekejap waktu. Panas siang ini semakin menyengat sedangkan di halaman tengah rumah gendang, laki-laki perkasa tetap berdiri berbaris dengan setiap jemari menggenggam larik (cambuk caci) dengan erat.

Setiap sentakan kaki penuh seni dan berbagai cara lincah menangkis cambuk caci, menjadi gaduh paling suci. Di tepi tumpukan compang laki-laki yang tak asing lagi dalam ingatanku tetap mengusap luka bekas cambuk. Sepertinya strategi menangkis sebuah cambukan tidak segila dulu, apalagi setiap kali tarian caci saya selalu menyanyikan syair-syair indah sebagai bentuk dukungan.

Berdiri  dengan titik-titik darah yang keluar dari bekas cambuk bukan berarti kekuatannya sudah dimakan usia. Tapi entalah kenapa kali ini tubuhnya bisa seluka itu?

***

Tahun ini adalah tahun kelima kami tak berjumpa atau memberi kabar setelah, ibu menyuruhku untuk cepat- cepat pergi dari kampung. Alasan ibu menyuruhku untuk cepat-cepat pergi adalah rasa yang paling sakit untuk memisahkan kami berdua.

Ancek, pria kelahiran Congkasae ini, sangat dekat denganku sejak kami memilih SMA di tempat yang sama. Garis waktu terus melawat cinta dan kami pun sampai bertemu pada titik rasa yang tak biasa.

Syukur saja ikat pinggang celana masih diikat rapi dengan pikiranku bahwa titik terang sebuah cinta itu bukan hanya sampai di titik nafsu.

Setiap kali keluar dari rumah, ibu selalu menyuguhi kopi, sama seperti perempuan kampung lainnya dan kata-kata yang sering berbaris rapi yang keluar dari bibir keriput yang mulai kemerah-merahan akibat kapur sirih adalah “ Opik… engkau masih muda sekali enu, jangan sampai kejelitaan tubuhmu dirampas oleh laki-laki yang setelah mengambil  nikmat lalu pergi tanpa kabar, ingat mama, bapa dan saudara-saudaramu!”

Mendengar kata-kata ibu ini saya cepat-cepat mengabari Ancek untuk menjemput saya di tempat biasa kami duduk dengan saling membagi mimpi.

Dari samping tempat dudukku Ancek memberiku sekuntum mawar yang kami sempat tanam bersama sebagai sebuah mandala yang menjadi tanda ikatan cinta.

 

  • Bagikan
error: Content is protected !!
Kirim Pesan Sekarang
Trima kasih dan selamat datang di letang
Hallo...
Trima kasih dan selamat datang di letangmedianews.com.
Silahkan kirim pesan untuk pertanyaan iklan produk & perusahan,
penulisan profil prusahan, bisnis, serta kerja sama, dll
Salam dan hormat kami
Letangmedianews.com.