Cerpen, Persoalan-Persoalan Bapak || Oleh: Aprianus Defal Deriano Bagung

Cerpen Persoalan-persoalan Bapak
Cerpen Persoalan-persoalan Bapak (Ilustrasi: dreamstime.com)

Bapak memang jarang tidur tepat waktu. Kadang-kadang beliau berjaga sendiri saja hingga tengah malam.

Menghabiskan dua hingga tiga batang rokok yang tak sekali membuatnya menderita. Bapak seperti hilang sadar, sebenarnya batang-batang rokok yang ia sesap hampir tiap malam, menyesap sepersekian liter keringat yang mengucur deras dari tubuhnya.

Tetapi bapak melakukan semua itu bukan tanpa alasan. Yang pasti ada yang sedang ia pikirkan sampai-sampai lupa akan waktu tidur. Bapak memang banyak menyimpan rahasia.

Irama nafasnya bahkan mengandung rahasia yang sama sekali tidak dapat diketahui oleh siapapun juga.

***

“Bapak, beban apalagi yang sedang engkau pikirkan?” suara ibu lembut menyadarkan bapak dari lamunan panjangnya suatu pagi.

Ibu yang sudah puluhan tahun hidup mendampingi bapak seperti sangat memahami setiap isyarat wajah bapak. Ibu paling mengerti dan paling memahami bapak.

“Aku tidak sedang memikirkan beban apapun, bu” bapak seperti berusaha menyembunyikan sesuatu.”

“Aku harap benar seperti yang engkau katakan, pak” tukas ibu seperti mengisyaratkan ketidakpercayaan terhadap apa yang dikatakan bapak. Ayam-ayam yang diternak bapak kembali ke kandangnya. Itu berarti hari sebentar lagi akan gelap.

Malam akan segera tiba. Seperti biasa, bapak memastikan semua ternaknya sudah aman di dalam kandang.

Selanjutnya beliau menyabet handuk yang biasa digantung ibu di gantungan dalam kamar dan melangkah ke kamar mandi. Biasanya bapak tidak begitu betah di kamar mandi.

Ia tidak membutuhkan waktu yang lama untuk membersihkan diri. “Kamar mandi bukan tempat yang nyaman untuk mencari jalan keluar” demikian jawab bapak bila ada yang mempersoalkannya karena mandi terlalu cepat.

Bukan hanya kau saja, banyak orang yang dibuat bingung oleh jawaban bapak tersebut. Entah apa yang ia maksudkan dengan menjawab demikian. Tetapi jika ditanyakan oleh anak bungsunya sendiri, bapak menjawab dengan jawaban yang lain.

“Jika hari ini kita membasuh diri sebersih mungkin, sampai tak ada kotoran yang tersisa dalam pori kita, lantas untuk apa kita mandi di hari esok atau hari selanjutnya?”

Anak bungsunya hanya tertawa saja bila mendengar jawaban bapak yang demikian. Bapak memang begitu. Kadang terlihat bahagia sekali.

Kadang terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. Tetapi bapak jarang menangis. Atau mungkin ia tak mau menangis di depan anak-anak dan istrinya.

***

Setelah memencet tombol merah dilayar handphone pintarnya, wajah bapak muram. Padahal baru saja bapak tertawa ria.

Sampai tak sadar nasi yang di piringnya telah habis ia santap. Setelah membereskan perkakas makan siang, ibu yang sedari tadi ada bersama bapak memberanikan diri memulai dialog.

“Aku sudah tak sabar lagi menyaksikan anak kita tersenyum bahagia di hari wisudanya tahun depan, pak.” Tidak ada respon dari bapak. Itulah yang menyebabkan ibu seperti sedang bermonolog. Dengan sangat hati-hati, ibu meraih handphone bapak yang terletak di atas meja ketika bapak berlangkah ke kamar untuk beristirahat.

Ibu mengecek semua yang terdapat di dalamnya, termasuk log panggilan. Bukannya ibu mencurigai bapak menaruh hati terhadap Hawa yang lain. Tetapi ibu ingin sekali mengetahui sebab musabab kemurungan bapak siang itu.

Betapa kagetnya ibu, nama yang tertera di log panggilan handphone bapak ialah nama anak pertama mereka yang sebentar lagi akan menyelesaikan pendidikannya di salah satu kampus negeri ternama yang terletak di kota.

Tidak seperti biasanya bapak kelihatan murung sehabis ditelepon oleh si sulung.
“Andi memohon dikirim uang lagi. Katanya untuk keperluan tugas akhir sebelum diwisuda tahun depan. Jumlahnya tak sedikit.

Lima juta rupiah. Sebenarnya jika gaji bulan ini tidak digunakan untuk membayar utang dan tagihan listrik serta beberapa keperluan lainnya, saya bisa mengabulkan permintaan tersebut. Tetapi…” Belum sempat melanjutkan pembicaraannya, ibu menyambar “Sudahlah pak, jangan jadikan itu sebagai beban paling berat. Pasti ada jalan keluar” ibu mencoba lebih bijak.

Mendengar itu, bapak berbalik badan. Berusaha lebih dekat dengan ibu. Selanjutnya tidak ada lagi pembicaraan. Tidak ada lagi dialog. Pelan-pelan bapak mengatupkan kelopak matanya. Kamar berukuran sedang itu mendadak hening.

Baca Juga:
PUISI: Teruntuk Pemilik Hati yang Kokoh
Ilustrasi

Bagiku, kaulah pemilik senyum indah itu. Senyum yang membangkitkan, senyum yang menuliskan hârâpan. Bagiku kaulah permata, Permata yang selalu menata hati Read more

PUISI ILAK SAU || Cerita Waktu
Penulis: Ilak Sau

Hari demi hari terlewati dengan ukiran Menunggu raja menanti keberhasilan Penaku telah bersaksi Hingga Membuat jejak dari akhir perjuangan   Read more

Demokrasi dalam Segelas Kopi
Ilustrasi

Demokrasi akan berhasil bila Pancasila menjadi referensi. Demokrasi yang demokratis, bukan kegaduhan menentang Pancasila. Demokrasi itu tidak benar, bila diperjuangkan Read more

PUSISI ERLIN || Pasrah
Erlin

Jika hujan datang membasahi bumi dan menyejukan musim panas Lantas siapa yang akan datang menyejukan hati yang sedang terbakar api Read more

Kampung Mati
Kampung Mati

LETANG MEDIA.COM-Pria itu mengendarai sepeda motor. Badannya seperti mengigil tak henti, sum-sum tulangnya seperti lupa untuk kembali normal, saat melintasi Read more

Permainan Tradisional Dalam Membentuk Karakter Anak

LETANG MEDIA.COM-Pada tahun 2012 koordinator Yayasan Sahabat Kapas, Dian Sasmita mengatakan kecanduan anak-anak pada game online seperti kecanduan pada narkotika, karena ketika Read more

Baca Juga:  Cerpen, Rasa Sesal Pada Malam || Oleh: Maria Diana Hadia