Sastra  

Cerpen, Rasa Sesal Pada Malam || Oleh: Maria Diana Hadia

Cerpen Rasa Sesal Pada Malam
Cerpen Rasa Sesal Pada Malam (Ilustrasi: balinews.id)

Aku masih memikirkannya, tentang rindu dan penyesalan malam itu. Aku yang belum bisa memejamkan mata ini dan masih setia memikirkan kejadian yang membuat aku jatuh kedalam tipuan rayuanmu.

Malam yang membuat aku ringkuh dan kadang juga merinding. Tentang kisah dan penyesalan dua tahun lalu masih sangat jelas, saat kami memadu kasih pada remang-remang dengan musik klasik yang syahdu.

Saling beradu pandang dengan tatapan yang roamantis. Kita masih di tempat yang indah untuk satu malam itu. Tempat yang indah dan nyaman saat itu, namun aku menyesal dan tak akan pernah kukisahkan lagi.

Rasa sesal selalu datang setelah kejadian itu usai. Ingin aku mengutuki diri, tetapi sama saja tak ada gunanya.

Aku menyesal melakukan itu, dan aku terus memikirnya. Entah mengapa aku masih bergulat dengan kejadian memalukan itu dan membuat aku nampak resah.

Padahal kisah itu telah usai satu malam saja. Aku terbawa rayuan omong kosongnya, aku yang pada saat itu nampak lugu ingin mencoba hal-hal baru, tetapi hal baru itu malah membuat aku menyesal untuk selamanya.

***

Hujan di malam itu terasa sangat indah, dinginya kota Ruteng membuat aku jatuh kedalam pelukannya. Rindu yang taak tertahankan terasa diluapkan semuanya di malam itu.

Aku berjalan bersamanya menikmati dinginya kota Ruteng, ia mengengam erat tanganku sembari mencium kening kecilku dengan hangat. Aku merasa ada kenyamanan yang pasti darinya.

Pelukakannya yang hangat dengan belaiannya membuatku tertidur seperti seorang anak kecil yang berpangku pada mamanya. Pikiranku masih baik-baik saja, aku masih membayangkan kisah itu akan indah jika kami begitu saja.

Dia berkata kepadaku, kita tidak bisa begini saja. Katanya rindu yang dimilikinya lebih besar, sehingga hasrat untuk merindu sangat besar. Dia memintaku diam dan memejamkan mata. Aku yang bodoh saat itu langsung mengiakan dan menutup mata sambil memasang wajah senyuman.

Aku yang masih polos tak tahu adegan apa yang terjadi selanjutnya. Dalam hati, aku bergumul mungkin dia akan memberikan aku sebuah cokelat. Saat ini aku sangat merasakan suasana yang taak biasanya, aroma parfumnya begitu sangat jelas, hembusan nafasnya aku bisa merasakanya.

Pokoknya aku menyukainya. Gaya dan caraanya sangat memanjakanku, sehingga akupun menjadi pribadi yang kaku dan tunduk di bawahnya.

***

Baca Juga:
PUISI: Teruntuk Pemilik Hati yang Kokoh
Ilustrasi

Bagiku, kaulah pemilik senyum indah itu. Senyum yang membangkitkan, senyum yang menuliskan hârâpan. Bagiku kaulah permata, Permata yang selalu menata hati Read more

PUISI ILAK SAU || Cerita Waktu
Penulis: Ilak Sau

Hari demi hari terlewati dengan ukiran Menunggu raja menanti keberhasilan Penaku telah bersaksi Hingga Membuat jejak dari akhir perjuangan   Read more

Demokrasi dalam Segelas Kopi
Ilustrasi

Demokrasi akan berhasil bila Pancasila menjadi referensi. Demokrasi yang demokratis, bukan kegaduhan menentang Pancasila. Demokrasi itu tidak benar, bila diperjuangkan Read more

PUSISI ERLIN || Pasrah
Erlin

Jika hujan datang membasahi bumi dan menyejukan musim panas Lantas siapa yang akan datang menyejukan hati yang sedang terbakar api Read more

Kampung Mati
Kampung Mati

LETANG MEDIA.COM-Pria itu mengendarai sepeda motor. Badannya seperti mengigil tak henti, sum-sum tulangnya seperti lupa untuk kembali normal, saat melintasi Read more

FKIP Unika Santu Paulus Ruteng Akan Melaksanakan KKN di Seluruh Paroki Keuskupan Ruteng

LETANG MEDIA.COM-Pada Tahun akademik 2020/2021,  Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Katolik Indonesia (UNIKA) Santu Paulus Ruteng akan melaksanakan Read more

Baca Juga:  Tentang Kehilangan, Harapan, Cinta dan Rindu || Antologi Puisi: Nanda Saputri