Cerpen, Salah Perhitungan || Oleh: Ramli Lahaping

  • Bagikan
Original Ilustrasi: zonasultra.com/Diedit kembali: EFH)

CERPEN| HARI sudah pagi. Rasman kembali terbangun dengan semangat yang redup. Pendemi virus corona masih berkepanjangan, sehingga penjualan di toko bahan bangunannya terus menurun.

Peliknya, di tengah keadaan itu, anak dan istrinya tetap saja menuntut perihal yang macam-macam. Istrinya menginginkan pakaian dan perhiasan yang mewah, sedangkan kedua anaknya meminta gadget mutakhir sebagai alat hiburan selama berdiam diri di rumah.

Atas keadaan itu, Rasman memutuskan untuk melakukan efisiensi dalam operasional usahanya, seperti yang juga dilakukan pengusaha-pengusaha yang lain.

Ia memberikan dua opsi kerja kepada tiga orang karyawannya berdasarkan hukum dan pertimbangannya sendiri: berhenti bekerja sementara waktu dan tidak mendapatkan gaji, atau tetap bekerja dengan upah setengah dari gaji normal. Semua karyawannya pun sepakat untuk mengambil opsi kedua.

Akhirnya, Rasman menjalani hari dengan harapan yang merangkak naik. Pendapatan pribadinya dari usaha perdagangan perlahan membaik. Namun hari ini, setelah memasuki toko, ia terkejut menyaksikan kuncian laci mejanya rusak.

Seketika pula, ia mengetahui bahwa kumpulan uang di dalam lacinya telah terpangkas. Meski tak mengetahui jumlahnya secara pasti, tetapi ia menaksir bahwa ia telah kehilangan uang lebih dari satu juta rupiah.

***

Pikiran Rasman lantas disesaki sangkaan-sangkaan. Tak ingin menuduh, ia pun segera mengecek tangkapan kamera pemantau. Sampai akhirnya, ia menyaksikan seseorang bertopeng masuk ke dalam tokonya dengan mudah, seolah membuka pintu depan dengan kunci cadangan. Sang pencuri lalu membuka laci mejanya secara paksa, mereken lembar-lembar uang beberapa saat, kemudian pergi setelah mengantongi sebagiannya.

Menyaksikan adegan itu, Rasman pun menjadi berang. Ia sungguh tak sudi uang hasil kerja bisnisnya digarong begitu saja. Ia tak mau rugi di tengah paceklik. Karena itu, ia berpikir-pikir keras untuk menerka sosok di balik topeng itu. Dan atas fakta masuknya sang pencuri ke dalam toko dengan kunci pintu, ia pun menuding tiga orang karyawannya sebagai pelaku, atau setidaknya sebagai orang yang membantu aksi pelaku.

Tetapi di dalam hatinya, Rasman tak sampai yakin sebelum ada bukti yang terang. Ia tetap ragu kalau para karyawannnya ada di balik peristiwa pencurian itu. Pasalnya, selama ini, ketiganya tak pernah menampakkan gelagat yang mencurigakan. Mereka senantiasa tampak menghormati dan mematuhinya sebagai bos. Namun ia pun sadar bahwa setiap orang bisa bertindak khilaf karena alasan yang mendesak. Karena itu, ia merasa tetap patut menaruh curiga.

***

Akhirnya, untuk mengurai rasa penasarannya, beberapa saat kemudian, ia pun memanggil ketiga karyawannya, hingga mereka menghadap dengan sikap biasa. “Semalam, ada orang yang masuk ke dalam toko ini dan mengambil uang di laci. Aku tentu tidak mau menuduh kalian sebagai pelakunya. Tetapi kalaupun ada di antara kalian yang telah khilaf dan melakukan pencurian itu, Aku minta, mengakulah sekarang, dan biar kita selesaikan baik-baik,” imbau Rasman kemudian, dengan sikap yang tenang.

Sontak, ketiga karyawannya saling memandangi, seperti saling menuding.

“Kalau memang ada di antara kalian yang menjadi pelakunya, dan mau mengaku sekarang juga, Aku akan memberi maaf dan ampunan,” tawar Rasman lagi.

Ketiga karyawannya kembali saling menatap curiga. “Bukan Aku, Pak. Sumpah,” kata Karman, karyawannya yang paling senior.
Kedua karyawan yang lain pun lekas mengggeleng dan melakukan penyangkalan yang senada.

“Baiklah. Aku bersyukur pelakunya bukan kalian,” tanggap Rasman, lantas mengembuskan napas yang panjang. “Kalau begitu, persoalan ini akan Aku serahkan kepada pihak kepolisian.”

Seketika, ketiga karyawannya kembali saling menolehi, seakan-akan saling mengkhawatirkan jikalau salah satu di antara mereka memang adalah pelaku, sedang pintu maaf telah ditutup.

Tentu saja Rasman merasa senang dan tenang mendapatkan kesaksian bahwa mereka bukanlah pelaku. Kenyataan itulah yang ia inginkan, sebab itu berarti bahwa mereka masih menjadi pekerja yang taat dan hormat kepadanya.

***

Tetapi, diam-diam, jika harus menuduh, Rasman lebih menaruh curiga pada Karman, sebab belakangan, ia lebih sering menuntut pembayaran gajinya. Alasan Karman klasik, bahwa anak dan istrinya punya kebutuhan mendesak. Tetapi karena alasan keuangan usaha yang sampai berimbas pada keuangannya sendiri, Rasman memutuskan untuk menangguhkan penggajian, yaitu dengan membayarkannya dua bulan sekali, bahkan kini molor dari tenggat tersebut.

Namun lagi-lagi, sangkaan Rasman terhadap Karman kemudian ditepisnya sendiri. Pasalnya, tak sekali pun Karman melakukan perbuatan culas. Bahkan pernah satu kali, dengan gagah berani, Karman melakukan perlawanan dan berhasil menggagalkan aksi pemalakan dengan ancaman badik di tokonya.Akhirnya, setelah Rasman selesai berurusan dangan para karyawannya, tak lama berselang, polisi pun datang.

Para polisi itu kemudian melakukan pemerikasaan dengan mencermati jejak-jejak pelaku, memeriksa rekaman CCTV, hingga meminta kesaksian dari orang-orang, termasuk Rasman dan karyawannya. Setelah proses pemeriksaan selesai, para polisi pun pergi, sembari membawa bukti-bukti dan keterangan yang mereka perlukan untuk penelusuran lebih lanjut.

Rasman tentu sangat berharap pihak kepolisian dapat meringkus orang yang telah mencuri uang di tokonya. Di masa kritis seperti saat ini, baginya, keberadaan para maling sangat membahayakan bagi keberlangsungan usahanya. Tak peduli harta curiannya berapa banyak. Apalagi di tengah ketentuan kerja dan penggajian baru yang ia terapkan, jumlah uang yang dicuri sang pelaku, sudah cukup untuk membayar gaji seorang karyawannya selama dua bulan bekerja.

***

Demi membantu proses penelusuran polisi, Rasman pun memutuskan untuk menyebarkan video aksi pencuri itu di media sosial. Ia ingin khalayak turut mengidentifikasi diri pelaku, sehingga ia dapat segera diringkus.

Apalagi, cara itu menurutnya ampuh untuk memberikan hukuman psikis kepada pelaku, agar kelak ketika tertangkap, ia jadi malu dan jera untuk mengulangi perbuatannya. Pun, orang-orang terdekat pelaku akan merasa turut bertanggung jawab untuk menjaga sikap pelaku demi nama baik mereka sendiri.

Namun akhirnya, respons yang muncul dari warganet, malah beragam. Ada yang memvonis dan mengutuk pelaku sebagai berandal yang mesti dihukum, tetapi tidak sedikit pula yang terkesan iba karena menilai bahwa pelaku terpaksa saja mencuri.

Pasalnya, pada video yang tersebar, dengan anehnya, pelaku terlihat menghitung dan hanya mengambil sebagian uang di laci, seolah-olah ia hanya mengambil sesuai dengan kebutuhannya.

Sampai akhirnya, tanpa butuh waktu lama, pada sore hari juga, pelaku pun ditangkap oleh pihak kepolisian. Sang pelaku ternyata adalah seorang laki-laki berumur 13 tahun, yang tak lain adalah anak pegawai Rasman sendiri, yaitu anak dari Karman. Sebuah kenyataan yang tentu saja mengejutkan bagi Rasman karena tindakan pelaku jelas berlawanan dengan sikap ayahnya yang jujur dan dapat dipercaya.

***

“Jadi, pelaku ini mengaku mencuri di toko tempat ayahnya bekerja demi membeli telepon pintar untuk keperluan belajar daringnya selama pandemi ini,” terang seorang polisi di tengah jumpa pers, sebagaimana yang tampak di layar kaca dan tengah disaksikan secara saksama oleh Rasman.

“Berapa jumlah uang yang diambil oleh pelaku, Pak?” tanya seorang wartawan.

“Totalnya, ada 1,4 juta rupiah,” jawab sang polisi.
“Lalu, kenapa pelaku hanya mengambil uang sebanyak itu? Kenapa ia tak mengambil semua uang yang ada di laci?” tanya seorang wartawan yang lain.

“Pelaku mengatakan bahwa ia hanya ingin mengambil uang yang sejumlah dengan gaji ayahnya yang selama ini belum dibayarkan oleh pemilik toko,” terang sang polisi.

“Jadi, singkatnya, selama pandemi ini, gaji ayah pelaku hanya setengah dari gaji normal. Gaji itu pun baru akan dibayar dua bulan sekali oleh pemilik toko. Karena itu, pelaku hanya bermaksud mengambil gaji ayahnya yang sudah dua bulan tak juga dibayarkan oleh pemilik toko karena alasan keuangan.”

Perasaan Rasman pun tersentak mengetahui motif di balik aksi pencurian itu. Ia seketika mengkhawatirkan nama baiknya. Namun apa daya, ia tak lagi bisa menghalau berita yang berkembang bahwa seorang anak mencuri uang di toko tempat ayahnya bekerja karena pemilik toko tak juga membayarkan gaji sang ayah yang telah dikorting setengah dari gaji normal.

Editor || Rian Tap

Cerpen

*)Ramli Lahaping. Kelahiran Gandang Batu, Kabupaten Luwu. Berdomisili di Kota Makassar. Aktif menulis blog (sarubanglahaping.blogspot.com). Bisa dihubungi melalui Twitter (@ramli_eksepsi).

 

  • Bagikan
error: Content is protected !!
Kirim Pesan Sekarang
Trima kasih dan selamat datang di letang
Hallo...
Trima kasih dan selamat datang di letangmedianews.com.
Silahkan kirim pesan untuk pertanyaan iklan produk & perusahan,
penulisan profil prusahan, bisnis, serta kerja sama, dll
Salam dan hormat kami
Letangmedianews.com.