Cerpen, Sepahit Kopi || Oleh: Sintia Clara Aritonang

  • Bagikan
Inspirasi Kopi dan Cinta
Original Ilustrasi:id.aliexpress.com/Diedit kembali: EFH/Letangmedia.com

CERPEN| MALAM ini sedikit mencekam, sepertinya enggan untuk menyapa. Tak salah aroma kopi yang sedari tadi menemani seakan mengajak untuk bercumbu dengan sajak yang tak pernah kukupas tuntas maknanya. Sesekali kuseruput jelata kopi yang hampir meninggalkan sisa kerinduan. Ah, malam tanpa bisikan.

Entah mengapa aku sangat nyaman bercengkerama pada jam-jam tinggi ditemani secangkir kopi pahit yang mampu mengumpamakan bagaimana perasaanku, ya tergantung bagaimana aku meraciknya.

Meskipun tak senikmat racikan kopi buatanya yang bercampur susu dan krimer. “Ah, aku tak suka pahit kopi yang menyengat. Tapi aku suka bila dicampur dengan gula, susu dan krimer yang pas” katamu dulu sembari tertawa manis di depan ku sebelum meracik semaumu.

Sayang, bagaimana mungkin kamu bisa mengatakan penikmat kopi jikalau kamu masih berlindung di balik manisnya susu kental dicampur dengan gula yang tak ada tandinganya.

Cara sederhanamu itu seakan mengatakan secara tak langsung bahwa sesungguhnya kamu hanya berpura-pura menjadi gadis penjaja kopi demi menghargai aku sebagai kekasihmu.

***

Berhentilah memaksa bibirmu untuk selalu mengatakan, “Rasa pahit ini perlahan-lahan pasti bisa kunikmati asalkan kau adalah cangkir dari kopi yang bisa kunikmati setiap hari”. Karena aku tahu sendiri bahwa sesempurna apapun kopi hasil racikanmu, kopi tetaplah kopi yang mempunyai sisi pahit dan tidak mungkin bisa kau sembunyikan dariku dengan semua cerita manismu.

Bagaimana mungkin manisnya gula bercampur susu kental tertuang di gelas kopiku yang berisi jelata kopi pahit yang menjadi simbol warna hitamku selama ini.

Sayang berhentilah juga untuk tersenyum dan berpura-pura bahwa kau bahagia di saat aku menyuguhkan engkau setiap sore kopi pahit dan sebungkus cerita tentang kehidupanku yang tak beraturan sembari disaksikan langit senja yang enggan untuk menenggelamkan diri.

Sesungguhnya aku malu disaat keadaan memaksaku untuk berbicara tentang siapa aku sebenarnya, namun perlahan-lahan semuanya pasti akan terbongkar juga. Karena bagaimana mungkin gelap malam mencoba menyusup masuk kedalam terang cahaya yang selalu bersinar. Bagaimana mungkin aku bisa hadir ditengah-tengah hidupmu yang bergelimang harta.

Kedua orang tuamu pejabat yang disegani oleh seluruh masyarakat, dan kamu anak satu-satunya yang diharapkan oleh keluargamu tengah melanjutkan pendidikan di Universitas ternama di kota ini. Hal ini seakan membunuhku secara perlahan.

Mengapa dulu aku melakukan hal segila ini dengan berpura-pura menjadi anak yang juga bergelimang harta dan lahir dari keluarga konglomerat. Mengaku bahwa kedua orang tua ku menjalin bisnis di luar negeri dan aku di kota ini sedang membuka usaha.

aku berbicara semanis mungkin didepan orang tuamu agar kiranya mereka mempercayaiku. Namun setelah hal gila ini berhasil dan diberikan restu oleh ayah dan ibumu, hati dan pikiranku berkecamuk hebat.

***

aku merasa lelaki pecundang yang sesungguhnya yang hanya bisa memanfaatkan keadaan, aku merasa bahwa aku telah gagal menjadi lelaki yang diinginkan oleh ibuku sebelum ia dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. “Nak, jangan terus-terus berulah. Lihat banyak orang yang sudah melabeli kamu dengan sebutan lelaki buaya, lelaki tak tahu adat, lelaki tak tahu agama. Bahkan banyak menyebutmu sebagai lelaki bejat. Nak, ibu membesarkanmu supaya kamu menjadi lelaki yang saleh, supaya kelak kamu pantas untuk jadi pemimpin keluargamu”.

Lima tahun lamanya aku memendam amanat itu, dan aku baru memahami maknanya setelah aku menjalin hubungan denganmu Andin. Engkau wanita soleha, pandai beragama, tutur katamu yang tak diragukan lagi, baik budimu tak kalah cantik dengan parasmu. Darimu aku belajar banyak hal.

Bahkan tentang agama, sopan-santun, tutur kata, perbuatan dan masih banyak lagi. Engkau seakan-akan mereinkarnasi hidupku dan merubahnya 360 derajat. aku yang dulunya pemabuk, berandalan, kasar kini menjadi lelaki yang takut akan dunia gelap.

***

aku menyesali perbuatanku, mengapa dulu engkau bisa terjerat oleh rayuan manis yang keluar dari mulut kotorku ini. Hingga kita terjebak kedalam hubungan yang sangat mustahil untuk bersatu. aku merajut asmara dengan bertopengkan kebohongan. Tak jarang kau temui hal-hal yang sangat janggal tapi aku mampu menutupi dengan perkataan manisku.

Engkau tak pernah merasa asing ketika setiap sorenya aku hanya mengajakmu menikmati langit senja dambaanmu.

Tak ada yang bisa kusajikan selain secangkir kopi dicampur susu kental kesukaanmu. Karena aku tahu, sampai kapanpun kamu tak akan bisa menyukai kopi pahit tanpa gula seperti yang ku ingini. Mungkin karena Rasa penasaranmu memberontak dalam pikiran, engkau mempertanyakan itu padaku. “ Sam, ada banyak minuman yang bisa kau nikmati seperti, Sababay Wine, Soju, Vodka. Kalau tidak suka yang beralkohol dan memang pengenya kopi, kan ada banyak varian rasasnya juga seperti, Espresso, Americano, Latte, Red Eye dan masih banyak lagi. Apa kamu ga bosen minum kopi pahit gitu terus?” tanyamu sambil mengerutkan kening tanda penasaran.

“Kamu tidak akan pernah tahu bagaimana menikmati pahit kopi yang masuk kedalam tubuhku secara perlahan-lahan. kopi tanpa gula punya filosofi yang cukup dalam bagiku. Memang pahit, tapi tak segetir pahitnya kehidupan. Dari kopi aku bisa mendapat banyak hal arti hidup. Karena hanya segelas kopi yang bercerita kepadaku bahwa yang hitam tak selalu kotor dan yang pahit tak selalu menyedihkan. Sama halnya seperti patah hati, Rasa sakit itu memang tidak mengenakkan, tetapi jika dinikmati pelan-pelan lama-lama pasti akan terbiasa juga” ucapku dengan tenang sambil memandangi langit senja yang hampir termakan oleh gelap. Dia hanya mengangguk tanpa tahu seutuhnya apa yang kumaksud.

***

Tidak pernah terduga ternyata itu menjadi pertemuan romansa terakhir bagi kita. Setelah hampir kurang lebih 4 tahun kita merajut kisah asmara dan kamu berhasil menuntaskan pendidikan dengan gelar cumlaude, sedangkan aku masih saja bersembunyi di balik kebohonganku. Kedua orang tuamu meminta kepastian padaku untuk segera melamarmu. Seribu alasan sudah kulontarkan dengan bermaksud untuk mengundur acara lamaran, tetapi ayahmu bersikeras untuk mempercepat tanggal.

aku berdoa dihadapan Tuhan meminta pertolongan. Hingga tidak ada lagi yang bisa kulakukan, dengan mengumpulkan sejuta niat aku memberanikan diri menemuimu dan keluargamu. Dihadapan kedua orang tuamu, dan keluargamu yang kaya akan gelar aku mengatakan siapa aku yang sebenarnya.

Sesungguhnya tidak ada hal yang pantas melatarbelakangiku berhak memasuki rumah semegah istana itu, harga diriku jatuh sejatuh-jatuhnya.

aku menyesali perbuatanku dihadapan mereka semua. Hingga tangan yang sering bersalaman dengan orang-orang penting itu tertampar di wajahku yang hina ini, aku tidak bisa mengelak. aku pantas menerima itu. Cacian, hinaan dan makian keluar dari mulut mereka.

***

Telunjuk tangan itu mengarah padaku bersamaan dengan suara besar yang mampu menahncurkan seisi ruangan itu layaknya gemuruh yang siap menerjang seisi bumi terdengar ditelingaku. aku melangkah keluar tanpa menatap dan mengeluarkan sepatah kata pun, yang kudengar hanyalah isak tangis Andin yang tak pernah menduga semuanya seperti ini.

aku bisa merasakan hatinya seperti tersayat belati yang menusuk-nusuk. Sesungguhnya ingin kuucapkan kata maaf, tetapi memandangku lelaki yang hina ini pun sepertinya dia tidak ingin lagi.

Hingga akhirnya aku kehilangan semuanya. Yang bisa kulakukan saat ini hanya menikmati langit sore tanpa sosok Andin yang masih terbayang jelas diingatanku. Sesekali kuseruput kopi hitam yang pahitnya semakin menusuk ulu hati. “ Ahhhhh,,,,,pahit itu memang harus dinikmati”.

Editor || Rian Tap


*)Sintia Clara Aritonang berasal dari Sipultak, Kecamatan Pagaran, Kabupaten Taapanuli Utara. Saat ini sedang melanjutkan studi di Universitas Negeri Medan, jurusan Ekonomi. Penulis juga menggemari sastra. Pernah terpilih menjadi Penyair puisi terbaik yang diselenggarakan oleh Lomba Lintang dan karyanya sudah dibukukan.

 

  • Bagikan
error: Content is protected !!
Kirim Pesan Sekarang
Trima kasih dan selamat datang di letang
Hallo...
Trima kasih dan selamat datang di letangmedianews.com.
Silahkan kirim pesan untuk pertanyaan iklan produk & perusahan,
penulisan profil prusahan, bisnis, serta kerja sama, dll
Salam dan hormat kami
Letangmedianews.com.