Cerpen, Teka-Teki Ayah || Oleh Faldo Mogu

Cerpen Teka-Teki Ayah
Cerpen, Teka-Teki Ayah (Ilustrasi: baltyra.com)

Yah, kau punya waktu, bukan? Aku ingin mengerjakan tugas sekolah bersamamu. Esok aku harus mebaca tugasku di depan kelas, di depan teman-temanku dan di depan ibu guru Bimbingan Konseling kami.

Mudah, Yah, tak ada Matematika di sini, Fisika, Kimia dan….. Itu saja. “Hem. Mari kita kerjakan. Mana yang terlebih dahulu, nak. Yang mudah? Atau yang sulit?” semuanya mudah, Yah tak ada yang sulit, toh tak ada cakar-cakar di sini. “ Baiklah, mari kita mulai.”

Ini soalnya, bukan? “Iya, Yah.” Ah, mudah sekali tugasmu ini. Lucu, Anak SMP mendapat tugas seperti ini? Hahah, aku hanya becanda. Ok silahkan catat dalam catatanmu. Aku akan mulai bercerita.

Kau tahu, bukan? Mengapa anak manusia tak seperti anak babi, anak kambing, anak ayam atau anak….? “Ah, ayah jangan mengimprovisisai berlebihan juga. Ceritakan intinya saja.

Toh, nanti saya tak mungkin ceritakan anak kambing, anak babi atau anak…Di hadapan teman-teman dan guruku” Baik..Baiklah. Aku akan menceritakan intinya saja. Tapi, kau perlu memahami teka-tekiku itu.

Mengapa anak manusia tak bisa hidup, seperti anak kambing atau anak hewan lainnya. Kau bisa pecahkan? “Ah, Yah. Aku tak biasa memecahkan teka-teki apa pun.”

***

Kau tahu apa yang terjadi pada anak kambing, anak babi atau anak hewan lainnya, yang dilepaskan oleh orang tuanya, tepat satu atau dua minggu setelah kelahirannya? “Hidup, bukan?” Hem. Benar sekali jawabanmu, nak. Hidup! Kalau anak manusia? “Bagaimana kalau demikian, Yah?” Hahaha…kau tak tahu, ya. Baik. Simaklah terus kisanya.

Kau tahu, bukan? Ibumu yang setiap hari kau lihat di rumah ini adalah sosok ibu yang peduli, tanggung jawab, baik hati, penyayang, pokoknya baiklah. Aku harap kau akan sepertinya. Ah ayah aku hanya ingin sepertimu.

Pemuda yang setiap harinya bekerja keras demi aku dan si ibu. Kau juga baik, Yah. Sangat baik bahkan.

“Saya? saya baik? Iya saya baik. Terima kasih telah mengatakanku baik. Tapi kau tahu bagaimana kisah kedua orang tuamu sampai bisa melahirkanmu? Ya seperti ini. Seprti kau yang telah menjadi dewasa seprti ini. “Aku tak tahu, Yah, toh aku baru dilahirkan kemarin.” Oh iya…iya. aku tahu. Mari aku akan ceritakan.

Bukankah ini tugas yang tertera pada No. 2? cobalah kau lihat! “Hem. Benar, Yah.” Baiklah. kita akan mulai bercerita dengan No.2.

Sejak ibumu mau menyelesaikan SMAnya di kota sana. Ia bertemu dan berkenalan dengan seorang pria. “Apakah teman sekolahnya, Yah?” Bukan, nak.

 

Baca Juga:
Ini Dia Hubungan Partai Garuda dengan Gerindra
Ketua umum partai garuda ahmad ridha sabana

Ketua Umum Partai Garuda (Gerakan Perubahan Indonesia), Ahmad Ridha Sabana, mengaku sebagai adik dari Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Read more

PUISI: Teruntuk Pemilik Hati yang Kokoh
Ilustrasi

Bagiku, kaulah pemilik senyum indah itu. Senyum yang membangkitkan, senyum yang menuliskan hârâpan. Bagiku kaulah permata, Permata yang selalu menata hati Read more

PUISI ILAK SAU || Cerita Waktu
Penulis: Ilak Sau

Hari demi hari terlewati dengan ukiran Menunggu raja menanti keberhasilan Penaku telah bersaksi Hingga Membuat jejak dari akhir perjuangan   Read more

Demokrasi dalam Segelas Kopi
Ilustrasi

Demokrasi akan berhasil bila Pancasila menjadi referensi. Demokrasi yang demokratis, bukan kegaduhan menentang Pancasila. Demokrasi itu tidak benar, bila diperjuangkan Read more

PUSISI ERLIN || Pasrah
Erlin

Jika hujan datang membasahi bumi dan menyejukan musim panas Lantas siapa yang akan datang menyejukan hati yang sedang terbakar api Read more

Kampung Mati
Kampung Mati

LETANG MEDIA.COM-Pria itu mengendarai sepeda motor. Badannya seperti mengigil tak henti, sum-sum tulangnya seperti lupa untuk kembali normal, saat melintasi Read more

Baca Juga:  Federasi Kempo Indonesia Provinsi NTT Laksanakan Ujian Kenaikan Tingkat di Unika Ruteng