oleh

Cerpen: Tuhan, Dia Bukan Jodohku

Tuhan, Dia Bukan Jodohku*

Penulis | Hardy Sungkang**

CERPEN| Lima tahun kami bergulat dalam kisah, cinta dan cerita. Satu tahun kami tak membagi kasih dan kabar. Tiga tahun telah lama berpisah. Pilihanku bukan jalannya. Pun jalanku bukan pilihannya.

Ada janji yang sering kami rajuti dari masa awal kami bercinta, hingga detik-detik akhri sebuah perpisahan. Semuanya pupus. Tinggal kisah dan cerita yang masih dikenang.

Kisah cinta tiga tahun tak berarti. Pilihan masing-masing yang melenyapkan semuanya. Jalan hidup yang berbeda memisahkan perjuangan cinta kami.

Bagiku itulah makna sebuah cinta. Tanpa berakhir cinta tidak ada kisah dan cerita.

Satu April, pada bulan itu merupakan momen yang sangat berharga dalam kisah cinta kami.

Hari itu, adalah hari awal kami mengukir kisah dan cerita dalam satu ikatan cinta. Menarik. Di antara bangunan berbaris tua itu kami berdiri jarak hingga merapat.

Ada aliran rasa mengalir seluruh adrenalinku. Letupan hati dari sabda itu menjadi berharga baginya. Mungkin aku berharga dan istimewa di ujung hatinya. Itu lamunanku.

Bagiku dia begitu sempurna. Wajah anggun, manis, berambut air, dan tubuhnya molek. Seksi. Kulit tubuhnya sangat cerah, hitam manis, bibirnya yang manis dengan senyuman. Dia mungkin wanita yang sempurna dalam hidupku.

Meski hanya sebentar. Kesetiannya sungguh dirasakan. Penyayang penuh sayang. Dalam pergaulan, ia orangnya ramah mudah berkata-kata. Tindak-tanduknya sulit dipahami. Kelihaiannya memutar kata sangat mahir. Aku mungkin tak seperti yang diharapkannya. Namun, ambisi tetap melekat pekat dalam diriku. Meski pesimis terus menggerogoti.

“Apakah aku sempurna di mata hatinya, seperti dia di mata hatiku?”, sahutku dalam hati.
Itu merupakan realitas tersembunyi dari dirinya yang tak sempat kujamah dan kudalami. Ya sudahlah, biarkan saja rasa yang menceritakan semuanya.

Gadis berdarah Lio, yang cantik, manis dan berlihai itu, kembali hadir dalam ingatanku. Kisah cinta di SMA lima tahun yang silam kembali terurai, meski tak sempurna. Bangunan tua berbaris, tanaman yang penuh kesegaran tempat kami berbagi cerita, kembali teringat.

Malam itu sungguh kelam. Pekat. Hanphone yang biasa menemaniku terselib diam di bawah bantal. Kebiasaan malam-malam sebelum, seperti mendengar lagu untuk menghantar tidur tak kubuat malam itu.

Suasananya lain dari malam-malam sebelum. Mataku tak bisa terpejam nyeyak. Pikiranku merana, menggelana, entah ke mana. Kisah lima tahun yang silam adalah tempatku berlabu malam itu. Tubuh dan batinku tak tenang. Sungguh. Tak mengetahui apa sebabnya.

Baca Juga:  Cerpen: Middle Of No Where || Oleh: Akhir Ngalle (Part 2)

Atau mungkin karena minum dua gelas kopi ala Manggarai di ujung puncak tadi, bersama temanku. Tidak mungkin. Bantahku terhadap pikiran itu.

Ini mungkin sesuatu yang tersembunyi, entah dari siapa. Tapi apa. Selalu kumelawan jalan pikiran itu. Karena, kondisi batin dan pikiran yang tak karuan.

Aku melupakan teman setia penghantar tidurku. Itu adalah hpku. Hanya bantal peluk dengan setia menyerahkan dirinya untukku. Ia selalu menemaniku kala aku terbuai dalam setiap lamunan dan tidurku.

Meski batinku tak tenang, ia tetap setia. Kegelisahan. Anak muda biasa sebut galau. Mungkin itulah realitas sebenarnya yang kualami malam itu. Mata dengan berat menutup rapat. Sayup-sayup kantuk masih jauh. Pikiran berkelana mengawang.

Kisah, cerita, dan cinta lima tahun silam kembali melayang-layang dalam ingatan. Aku kembali bereksis di kisah itu. Wajah anggun perempuan cantik berdarah Lio itu terus menempel diam dalam pikiran.

Ini mungkin sebabnya. Tapi, aku terlalu laebai kalau aku mengaku diri dirindu oleh gadis berdarah Lio itu. Terlalu optimis. Mungkin juga benar. Itulah kemungkinan.

Senyumannya manja. Dekapannya melekat dalam dadaku. Lima tahun silam kisah itu telah berlalu, tetapi kini masih dirasakan. Seolah malam itu seperti hari Minggu saat kami berbagi cerita pada sebuah taman di sekolah tempat kami bereksis.

Malam kian larut. Kelam mendekap pekat. Arman tetangga tempat tidurku, merasakan suasana yang kurang nyaman. Mungkin, karena tempat tidurku yang reot itu selalu berbunyi jika membalikan badan.

Ia pun terbangun dari kantuknya. Matanya tersayup ngantuk. “kakak, kenapa belum tidur?”, sahutnya menaruh perhatian belaskasihan kepadaku.

”tidak tahu ade, batin dan pikiranku tak tenang. Mataku tak mau terpejam”, timpalku. Kami pun bercerita sedikit. Tapi aku masi gelisah tak karuan. Wajah hitam manis itu berlihai terus dalam pikiranku.

”jangan-jangan pengaruh minum kopi di puncak tadi sore kae,” lanjutnya. Ah tidak mungkin galau seberat ini akibat racun kopi. Tidak mungkin. Terus-terus aku menegasinya.

Tuhan mengapa aku selalu membayangkan wajah perempuan berdarah Lio itu. Apakah aku harus berdosa, karena memikirkan wajah seorang mantan kekasih yang telah berpaling dan menjadi isteri orang? Bukankan ia telah menikah. Telah memiliki buah hati, hasil perkawinan cinta mereka? Sungguh aku takut Tuhan.

Baca Juga:  Syairku adalah Rindu

Mengapa kisah lima tahun silam itu kembali mengiang-ngiang di pikiranku? Bukankah kisah itu berlalu seiring berlalunya waktu? Ataukan masa lalu kembali hadir, menjadi ikhtiar yang mendayagunakan masa depanku? Mungkin kisah silam itu menjadi guru yang membuat aku untuk memahami waktu. Ya sudahlah.

Dosa? Dosa pikiran? Tidak mungkin. Dia kekasihku dulu.” Aku terus bertanya dalam diri. “Tidak…tidak…tidak.” Teriakku. Semua teman sekamarku pun terbangun dari tidur. Kaget.

Mereka melihatku duduk melotot pada tempat tidurku.
“Engkau mengapa Andik”. Seorang dari mereka bertanya.
“tidak apa-apa teman”. Sahutku.
“apakah engkau mengigau?
“tidak”. Ia pun terdiam, dan aku pun. Yang lain temanku tak menghiraukan kembali keadaanku. Mereka kembali terlelap.

Malam semakin kelam. Suasana jagat semakin pekat. Kumenekan kontak lampu kamar. Lampu menyala. Jarum jam di dinding itu telah menunjukan pukul satu tiga puluh. Aku kaget.

Waktu terlalu cepat berputar. Aku belum merasakan lelapnya tidurku. Jarum jam tuk bangun tak jauh lagi. Jam berapa waktuku tidur malam ini. Sahutku dalam kediaman itu.

Apakah pikiranku menghukumku? Atau, perempuan itu juga merindukanku. Tanpa pesimis. Aku begitu optimis saat itu. Dia juga merindukanku.

Aku kembali membaringkan diriku pada ranjang empukku. Di bawah bantal tidurku terlihat cahaya lampu berkedip-kedip. Ternyata hpku menyala bisu. Nyala itu bertanda ada pesan atau orang menelpon. Tapi, siapa ya? Larut malam begini. Ada perlu apa lagi.

Aku selalu menanyakan gejala alam itu dalam batinku. Jawabannya selalu kontra dan tak mungkin. Tapi kali ini, benar-benar kejutan. Nomor baru. Siapa lagi.

“Andik, mengapa Tuhan tidak menjodohkan kita. Kalau memang kamu benar-benar mencintaiku.” Isi pesan itu.
“maaf, kamu siapa. Mungkin salah sambung.” Jawabku.

Berat pikiranku pada wajah perempuan Lio itu. Tandanya, pesan itu masih terselip kekhasannya. Karena itu, kecurigaanku tidaklah salah. “Eis” jawabnya. Singkat. Membuatku tercengang. Ternyata benar. Nama lama, kembali teringat.

Lalu, kumembalas pesannya yang belum sempat di balas. “Eis, Tuhan itu Maha bijaksana. Maha adil. Rencana Tuhan sungguh lain dari rencana manusia. Apalagi rencana yang telah kita rajuti. Tuhan tertawa kala kita menabur janji. Buktinya kita tidak memanennya.”

“Kalau memang Tuhan adil, mengapa tidak menyatukan cinta kita? Mengapa ia memisahkan janji kita?
“itulah rencananya. Sungguh lain dari kebijaksanaan yang kita miliki. Terus kumeneguhkannya.

Baca Juga:  Cerpen: Pada Sebuah Pulau Sunyi

“itu artinya kamu tidak mencintaiku waktu kamu menjadi miliku”. Ia sungguh kecewa. Jawabanku yang sungguh di luar nalarnya.
“Bukan tidak mencintai, tetapi hanya tidak menyatu”. Jawabku.

Cinta dalam dirinya telah tertanam dalam setia pribadi. Kewajiban setiap pribadi adalah membagikannya kepada yang lain. Meski bukan miliknya. Itulah cinta universal. Ia umum.

Dalam dirinya mempunyai arti. Ia sungguh menuntutku untuk tetap mencintainya. Bagiku tidaklah sulit, jika hanya untuk mencintai. Tapi bukan untuk memiliki.

Tak selamanya cinta memiliki. Cinta membutuhkan pribadi lain untuk menyatu.
Diakhir pesan kuberkata, “Eis, cinta tak selamanya harus diikatkan pada satu nama.

Meski ia anggun. Kisah tak selamanya mengalir seperti air. Karena itu, kisah cinta yang mengalir dan menyatukan semua kisah hanya pada Tuhan sendiri”.

Aku telah lelah. Mataku tersayup ngantuk. Pikiranku tenang. Tak berkaruan lagi. Kopi bukan lagi akibatnya pergulatan pikiran dan batin malam itu.

Wajah Lio itu sebabnya. Lima menit kumenunggu balasannya. Namun, tak ada balasan. Hatiku sudah tenang. Ia mungkin sudah nyenyak. Aku kembali mematikan lampu kamar dan berbaring di atas ranjangku.

Kumematikan hpku. Kuperlahan membuka selimutku, menutup tubuh dengan kedinginan malam. Sejenak curhatku dengan Tuhan dan berkata; Tuhan dia bukan jodohku.*

BACA JUGA:

  1. Cerpen: Suamiku Bukan Pastor Parokiku
  2. Cerpen: Gadis Bermata Sayu || Oleh: Angelina Delviani
  3. Jangan Ada Dukun di Antara Kita
  4. Kartu Prakerja 2021: Mulai Hari Ini, Bisa Buat Akun di  Laman  Website Kartu Prakerja.go.id

 

*) Cerpen ini sudah dipublikasikan di pos kupang, pada Minggu 29 maret 2015

**)Vinsensius Hardy Sungkang adalah Penulis buku kumpulan opini berjudul Berdamai dengan relaitas? Dan penulis buku kumpulan puisi Saulus. Pernah menulis di berbagai media cetak dan online. Peminat sastra dan isu politik. Pimpinan letangmedia.com,saat ini berdomilisi di Ruteng

Komentar