Cinta dan Doa Seorang Gadis, Mengutuk Kebahagiaan Buana Semata || Kumpulan Puisi Arnolda Elan

  • Bagikan
Istimewa (Sumber Gambar:.hipwee.com/Edt: EFH)

Aku Bukan Lagi Puisi-Mu

Gadis
Setelah engkau menanggalkan kasih
Tak Sudi aku melahap kisah itu lagi
Sepanjang perjalanan menuju cinta
Yang pernah kita janjikan
Tanpa aksama aku menjerat rindu
Mencambuknya membabi-buta
Tahukah engkau?

Gadis
Selepas engkau meminta untuk dibelai
Daksamu tak lagi ternilai
Juluran lidahmu mengundang lalat
Menggoda segerombolan rabies
Merebut air liurmu
Tahukah engkau?

Gadis
Diksi puisiku sejenak basi
Tak lagi terasa nikmat
Atmanya penuh rapuh
Luka lara melumuri setiap baitnya
Segenap isinya busuk
Engkau hanya menunduk
Tahukah engkau?

Gadis
Kali ini
Puisiku bukan lagi engkau
Setiap isinya membancang
Akan hadirnya daksamu dalam puisiku
Sekalipun ambu daksamu penuh gairah
Sekalipun engkau menari dengan gemulai
Tak sudi puisiku menoleh
Tahukah engkau ?

Gadis
Sandiwaramu sangat apik
Panggung yang disediakan terlalu sempit
Sarayu malam menyapu riasanmu
Diam-diam puisiku pergi
Meninggalkan sepenggal kisah.

Doa Anak Dara

Tuhan
Engkau melihat mata hati
Melumuri segenap luka
Aku anak dara
Merindukan bulan purnama
Ingin dimanjakan sang Bintang
Dimana aku mendapatkan itu semua ?

Tuhan
Setelah puluhan tahun
Aku menepuk rindu
Mengais segala cinta
Hasilnya pun nihil
Dimanakah Engkau menyembunyikan semua itu?

Tuhan
Aku rindu sehelai benang yang selalu menutupi daksaku ini
Setelah sekian lama
Aku ingin dijamu tanpa menjamu
Aku ingin dikasih tanpa mengasihi
Mengapa Engkau menyembunyikan itu semua?

Tuhan
Lilinku sudah habis
Korek apiku telah hilang
Aku kegelapan
Rumahku kesepian
Malamku sangat kelam
Semua menjebakku dalam keterpurukan

Tuhan
Pujian mana yang membuat mataMu terbuka
Aku merajuk pada mimpiku
Aku anak dara
Masihkah engkau melihatku?

Aku anak dara
Melepas jejak di atas bumi
Menapak kaki menjelajahi mimpi
Pada balutan rindu
Kuusaikan kisah ini

Tuhan
Masihkah Engkau mendengar litaniku ?
Penuh harap aku memohon
Balada rinduku terbawa angin
Siapa yang tahu?

Darah Basi Membasahi Bumi

Nabastala menguak lebar
Tanda-tanda marah kian mendekat
Kekasih malam tertidur pulas
Masih meremas ujung mimpinya

Kian kemari
Ia menyulut rokok penuh gairah
Menyibak tabir kepalsuan
Sejenak semuanya hirap

Jemari halus
Penuh gemulai
Mengasah tajam pisau lipatnya
Darah biru membeku diam
Entah siapa yang tertolong

Recaka berhembus pelan
Berlawanan arah dengan mimpinya
Lama-lama ia menjauh
Mengurung diri dalam sangkar

Diam-diam
Menghampiri kekasihnya
Ia diam seribu bahasa
Menapak jejak di atas ranjang kekasihnya

Masihkah ada belas kasihan?
Setelah ia menggores luka
Membabi-buta
Melahap daksa kekasihnya

Lelehan darah segar
Menggugah seleranya
Dari nabastala
Buana adalah tumpahan terakhirnya

Sia-sia
Tak sengaja
Itulah kalimat terakhirnya
Menoleh?
Mengiba?

Entahlah
Hatinya terlalu batu
Sepenggal dari daging daksa kekasihnya
Ia bawa kembali ke buana
Di jadikannya santapan malam

Jejak-jejak para radikal
Mengutuk kebahagiaan buana semata.

Penulis adalah, Mahasiswi PBSI UNIKA Santu Paulus Ruteng,
saat ini berdomisili di Ruteng.

Editor || Cici Ndiwa.

  • Bagikan
error: Content is protected !!
Kirim Pesan Sekarang
Trima kasih dan selamat datang di letang
Hallo...
Trima kasih dan selamat datang di letangmedianews.com.
Silahkan kirim pesan untuk pertanyaan iklan produk & perusahan,
penulisan profil prusahan, bisnis, serta kerja sama, dll
Salam dan hormat kami
Letangmedianews.com.