Cinta Suci dan Hati yang Terluka: Antara Rasa dan Keterbatasan Kata Hingga Rindu Berakhir Tragis Pada Tetesan Air Mata || Kumpulan Puisi Bonafasius Yosdan

INSTIMEWA

PUISI
Cinta Suci dan Hati yang Terluka:
Antara Rasa dan Keterbatasan Kata
Hingga Rindu Berakhir Tragis
Pada Tetesan Air Mata

Penulis | Bonafasius Yosdan*

Perjalanan Ini

Ayunan langkahku dan langkahmu,
Ayunan tanganku dan tanganmu
Nuraniku dan nuranimu,
pun asamu juga asaku,
Sungguh jauh berbeda.
Engkau dan aku, mengerti tentang itu.
Lalu, bagaimana dengan perjalanan ini?
Haruskah kita melangkah jauh beda arah?
Jelas, Engkau dan aku mengerti, kita beda.
Lantas bagaimana dengan perjalanan ini?
Adakah dunia telah merumuskan,
Agar kita mengayunkan langkah
Pada lorong yang sama?
Sungguh. Aku tak temukan jawaban.
Sahabatku, mari kita mencari jawaban itu.
Pernahkah engkau mendengar cerita tentang pelangi?
Sungguh elok nan aduhai.
Sebab warnanya bukan warna merah, bukan pula warna kuning,
bukan juga warna hijau, melainkan
Merah, kuning, hijau. Terlukis di langit yang biru.
Sahabatku, ijinkan aku melukis di sisimu,
Dan engkau, mari melukislah di sisiku,
Tentang perjalanan ini.
Hingga kelak,
Tercipta sebuah pelangi yang indah,
Sebagai cerita tentang kisah kita,
Tentang perjalanan ini, selagi kita muda.

Bari, 13 Maret 2020

Perhelatan Perpisahan

Ah… Ingatkah engkau, diawal kisah kita?
Hari-hariku dihiasi dengan senyuman manjamu.
Kubelai rambutmu dengan cinta suciku,
Hingga engkau terpaku dalam diammu tanpa seuntaian kata.
Hangatnya pelukan, tulusnya ciuman;

Pratanda cinta kita tak mampu terurai dengan kata.
Aku benar-benar merasa bahwa,
Cinta kita adalah cinta suci, bukan hasrat iblis.
Engkau dan aku menyadari tentang itu.
Kala rembulan menyinari malam nan gelap,
Ia tersenyum menyaksikan sepasang anak manusia sedang menabur cinta.
Kala bintang-bintang berpijar,
Mereka saling berbisik dan berkata; kita pasangan serasi.
Kala rintik hujan bersorak-sorai,
Mereka mendendangkan melodi cinta yang tumbuh mekar berseri.
Kala embun pagi bersahaja,
Mereka menyejukan cinta suci kita.
Siapa pun itu, bila merasakan hal yang kita alami,
Pasti ia nyenyak dalam kebahagiaannya,
Dak tak kan pernah, ingin berpaling.

Namun,
Kini cerita itu sudah tak berarti lagi.
Sebab, rasa cinta suci yang pernah kita rajut,
Berubah menjadi cerita masa lalu kita.
Layaknya, disebut sebagai kenangan.

Ah… ingatkah engkau diawal kisah kita?
Kita telah menyatakan cinta suci dari nurani kita.
Sungguh kebahagian cinta, kita jamu bersama.
Aku telah bersumpah padamu,
Bahwa aku milikmu hingga mentari tak mau menyinari semesta.
Engkau juga telah menyatakan kasih dan cintamu,
Bahwa engkau milikku hingga bumi bukan milik semesta.

Namun,
Kini cerita itu, cerita mati.
Engkau pergi seturut kehendakmu tanpa kompromi.
Sungguh,
Aku tak pernah menemukan tanda, atau bahkan meramal,
Bahwa engkau menghilang dari pelukanku.
Aku tak pernah merasakan demikian.
Sebab, yang kurasa hanyalah cinta sucimu.

Namun,
Lagi-lagi itu adalah cerita mati yang akan lesap ditelan waktu.
Kebahagiaan yang pernah kualami bersamamu,
Kini berubah menjadi duri dan jeruji yang menikam jiwa dan ragaku.
Hingga nahas… kebahagiaanku,
Dan yang tersisa adalah kepingan rindu yang tercecer.

Sungguh tragis.
Air mataku mengalir mengalahkan aliran sungai,
Penuh harap secercah cahaya terang kembali menyatukan kita
Dalam gelapnya cinta yang dulu kita pernah puji sucinya.

Namun, percuma.
Harapan itu hanyalah anganku yang lahir dari goresan kepedihan.
Sebab, kepingan rindu yang tercecer hanya milikku.
Engkau telah pergi bersama rasamu,
Dan aku tak tahu tentang itu.
Dihari perhelatan perpisahan ini,
Kulukiskan peristiwa hati yang tragis
Dengan tetesan air mata.

Bari, 05 Februari 2021

“Senja di Tanah Lahir”

Rintikan hujan penuh lembut
Mengiringi kesendirian dalam kalut
Meratapi dunia nan carut marut
Dibalik tikaman corona pembawa maut
Senja di tanah lahir,

Menyandarkan harapan paling akhir
MengharapkanTuhan selalu hadir
Dalam rupa Roh Kudus membuka tabir
Menguasai corona hingga batin mencair

Senja di tanah lahir,
Segala asa dirangkai dalam doa.
Dalam nada runduk pada-Nya bersua,
Seraya memanggil para leluhur semua,
Mendendangkan nada mohon patahkan corona.

Sangka,28 Maret2020

BACA JUGA:

  1. Kisah RD. Inosensius Sutam Sebelum dan Setelah Disuntik Vaksin Anti Covid-19
  2. Cerpen: Untuk Dia yang Terluka
  3. Cerpen: Antara Kamu dan Hujan
  4. Merayu Tuhan: Antara Aku-Malam dan Sepih || Kumpulan Puisi Hams Hama

 

*)Penulis adalah Guru BK SMAN 1 Macang Pacar, Jurnalis Akuratnews.com dan ketua DPC BMI Kab. Manggarai Barat. Saat ini berdomisili di Mancang Pacar

Baca Juga:
Tentang Kehilangan, Harapan, Cinta dan Rindu || Antologi Puisi: Nanda Saputri
Antologi Puisi Tentang Kehilangan, Harapan, Cinta dan Rindu

Antologi Puisi Tentang Kehilangan, Harapan, Cinta dan Rindu adalah karya Nanda Dewi Saputri. Dengan judul, Rindu, kehilangan, Hujan dan kenangan

Lelaki di Gerasa: Lukaku Terlalu dalam untuk Sebuah Tobat || Puisi Hams Hama

PUISI Lelaki di Gerasa: Lukaku Terlalu dalam untuk Sebuah Tobat Penulis | Hams Hama* Lelaki di Gerasa I Setelah diretakkan Read more

Sahabat: Prihal Penindasan dan Rasa yang Tidak Pernah Salah || Puisi Thyn Raras

PUISI Sahabat: Prihal Penindasan dan Rasa yang Tidak Pernah Salah Penulis | Thyn Raras* “Kau boleh jadi apapun yang kau Read more

Menjaga Mata Pisau Sapardi Djoko Damono || Oleh: Yohanes Sehandi

Menjaga Mata Pisau Sapardi Djoko Damono* Penulis |Yohanes Sehandi Pengamat Sastra NTT dari Universitas Flores, Ende. Mata Pisau mata pisau Read more

Kado Valentine’s Day, Antara Rindu dan Kenangan Saat Hujan Bulan Februari

PUISI Kado Valentine, Antara Rindu dan Kenangan Saat Hujan Bulan Februari Penulis | Epi Muda * Kado Valentine Day Di Read more

Ranjang Kemuliaan, Merayu Kekasih di Alam Semesta Sebelum Ajal || Sajak-Sajak Arnolda Elan

Sajak: Ranjang Kemuliaan, Merayu Kekasih di alam semesta Sebelum Ajal Penulis | Arnolda Elan* Menjemput Ajal Seperti kemarin Ketika sebait Read more

error: Content is protected !!