Cinta Tanpa Kata, Sejak Pagiku Hingga Juni Menepi || Antologi Puisi Ayu Alexandra

  • Bagikan
Cinta Tanpa Kata, Sejak Pagiku Hingga Juni Menepi || Antologi Puisi Ayu Alexandra
Cuplikan Puisi

Bait Kerinduan

Andai, kau tahu
untuk kesekian kalinya
kembali kusimpan lembaran cerita
perihal tawa yang tak pernah bisa dibawa pulang

paras indah hanya abadi dalam angan
kerinduan bertepuk sebelah tangan
ungkapan cinta tanpa kata ‘juga’.
Lembaran ini telah lusuh

terlalu sering dihiasi senyum dalam sepi
kata-katanya mungkin telah bosan kubaca berulang-ulang
lipatannya jelas kentara; antara tulus, cinta dan dungu dalam memuja.
Sering aku bermimpi;

nanti, kulipat nyata cinta ini
disimpan pada amplop merah muda
kuterbangkan pada sepenuhnya harapan
menunggu balasan kalimat kerinduan

yang akan mengundang hati dan perasaan
pada setingginya awan.

“Bangun! Jangan bermimpi hal bodoh yang menjatuhkanmu dalam jurang cemooh”.
Nalar bangunkan segala sadar
padamkan keinginan yang sejenak berkobar
menyadari perihal apa dan siapa diriku yang entah ini
memberi cermin agar tak sekalipun berani terucap kata ‘amin’.

Akhirnya!
kusimpan kembali diari mencintai
pada serapatnya peti hati
untuk dibuka kembali
agar mampu goreskan senyum ini lagi
di sudut paling sepi.
Kau tahu?
Cukup aku saja yang meyakini;
kaulah bait-bait kerinduan yang tak sempat hati ungkap dan rasakan

Pagi Beku

Pagiku terlampau dingin. Bahkan, air hangat yang semestinya membelai tubuhku dengan manis, kali ini merupa monster gletser yang menghujam jutaan kebekuan paling sadis. Jantungku ditikam, hatiku diiris tipis-tipis. Pagiku serupa gerimis yang tiada habis.
Patah-patah, aku melangkah dalam gigil. Kubuka tirai jendela, berharap memeluk setitik kehangatan dari balik kaca. Namun sia-sia, sang mentari seolah enggan menyapa. Entah kenapa ia lebih memilih menyimpan sinarnya.

Pagiku kini beku. Hanya ditemani selembar selimut ego yang menatap sinis padaku. Pada siapa bisa kupinta lagi mentariku? Dengan apa bisa kupeluk lagi hangat yang dulu?

Juni Hampir Menepi

Juni hampir menepi, sementara hujan masih deras membasuh bumi. Ada yang masih berlari dari kejaran rasa sakit menghimpit, ada pula yang masih berpetualang dan tak menemukan tempat pulang.

Juni hampir menepi, sebagian ada yang kuyup dalam derasnya jatuh hati, ada pula yang masih merayakan himne patah hati. Tak sedikit pula yang masih mencari cara untuk tertawa, bahkan ada yang masih mencari makna perihal kata “cinta”.

Juni hampir menepi, para peziarah cinta masih mencari cara untuk menyimpul rasa. Ada yang mencari cinta di tumpukan buku-buku baru, ada pula yang terang-terangan membakar lembar masa silam menjadi abu paling hitam.

Juni segera berganti, dan aku masih berdiri di tepian hari, seraya lantang kuteriakan di bawah rinai, bahwa aku enggan mengulang patah hati yang sama.

Editor | Indrha Ganur

Cinta Tanpa Kata, Sejak Pagiku Hingga Juni Menepi || Antologi Puisi Ayu AlexandraAyu Alexandra adalah Mahasiswi semester VIII prodi PGSD Unika Santu Paulus Ruteng.

Baca Juga:  Luka Adalah Puncak dari Segala Ingat dan Rindu || Antologi Puisi Hams Hama
  • Bagikan
error: Content is protected !!
Kirim Pesan Sekarang
Trima kasih dan selamat datang di letang
Hallo...
Trima kasih dan selamat datang di letangmedianews.com.
Silahkan kirim pesan untuk pertanyaan iklan produk & perusahan,
penulisan profil prusahan, bisnis, serta kerja sama, dll
Salam dan hormat kami
Letangmedianews.com.