“Cintai Otakmu, Baca Buku Setiap Hari” || Oleh: Sil Joni

  • Bagikan
HIV/AIDS dan Pariwisata Sehat
Penulis: Sil Joni (Foto Dokpri Penulis)

Di sela-sela kesibukan sebagai seorang ‘pendidik’, saya coba ‘mengunjungi perpustakaan SMK Stella Maris’, sore ini, Jumat (19/11/2021). Setelah ‘meraba’ beberapa pustaka bermutu, ekor mata saya tertuju pada baliho yang bertuliskan visi dan misi kehadiran perpustakaan itu bagi anggota komunitas SMK Stella Maris.

Beberapa siswa sedang ‘berdiskusi’ dengan dua orang guru Bimbingan dan Konseling (BK). Sementara itu, kepala perpustakaan sedang berbincang akrab dengan pak Ferdi yang menangani bidang kesiswaan.

Terdorong oleh rasa ingin tahu yang besar, saya memberanikan diri untuk ‘mengganggu’ suasana percakapan mereka dengan mengajukan pertanyaan sederhana.

“Dari mana kamu mendapat inspirasi dalam menulis kalimat yang sarat makna pada bagian akhir tulisan dalam baliho ini?”. Itulah pertanyaan yang muncul secara spontan dalam benak saya ketika membaca tulisan tersebut.

Seorang ibu guru BK dengan ‘setengah bergurau’ menjawab: “Dari Yakult pak”. Tiba-tiba saya teringat dengan bunyi sebuah iklan komersial yang ditayangkan dalam beberapa Televisi swasta. Secara lengkap rumusan bahasa iklan itu adalah: “Cintailah ususmu dengan minum Yakult setiap hari”.

Kepala perpustakaan SMK Stella Maris cukup cerdas ‘mengadaptasikan’ teks iklan komersial itu untuk dijadikan alat provokasi bagi warga sekolah tentang pentingnya ‘membaca buku setiap hari’. Sama seperti kita mencintai usus dengan minum Yakult setiap hari, demikian pun dengan membaca buku.

Aktivitas membaca buku setiap hari dilihat sebagai manifestasi dari rasa cinta pada otak. Wujud konkret dari rasa cinta pada otak adalah melahap buku-buku bernas setiap hari.

kita terlampau fokus pada urusan ‘memberikan nutrisi bergizi’ bagi badan. Hampir setiap hari tubuh manusia mendapat asupan makanan dengan komposisi gizi yang baik. Tetapi, betapa sering kita alpa memberikan asupan makanan yang bergizi untuk sisi kejiwaan atau otak.

Baca Juga:  Menabur Karakter Positif Melalui Keteladanan Guru || Oleh: Stefanus Satu

Boleh jadi, efeknya adalah raga boleh terlihat gagah dan segar, tetapi sisi rohaniah atau pikiran kita agak kerdil dan gersang. Mengapa? kita jarang memperhatikan dan memenuhi kebutuhan pokok dari pikiran itu. Kemampuan berpikir tidak pernah diolah dan dirangsang untuk bekerja optimal.

Membaca buku berkualitas, belum menjadi kebutuhan primer bagi kebanyakan orang. Bagaimana mungkin pikiran bisa berfungsi dengan baik ketika otak kita jarang mendapat asupan ide atau gagasan yang terdapat dalam aneka pustaka itu.

Harus diakui bahwa budaya literasi (baca-tulis) masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Padahal, tingkat literasi masyarakat akan menentukan kemajuan sebuah bangsa.

Tidak heran jika Indonesia sulit mengejar atau bersaing dengan negara-negara yang sudah sangat maju. Survei oleh Central State University, Amerika Serikat, pada 2016 menunjukkan negara-negara dengan tingkat literasi tinggi merupakan negara-negara maju.

Saya kira, itu sebuah fakta empiris yang tidak bisa dibantah. Betapa tidak, dalam survei tersebut, Indonesia, meski lebih dari 98 persen penduduknya telah melek huruf, merupakan negara dengan tingkat literasi terendah kedua di dunia dari 61 negara yang terukur. Posisi Indonesia hanya setingkat lebih tinggi dari Bostwana, sebuah negara pedalaman di Afrika Selatan.

Hasil survei itu tidak berbeda jauh dengan hasil riset yang dibuat oleh beberapa lembaga dalam negeri. Riset Kemendikbud (kini Kemendikbudristek) di 34 provinsi pada 2019 misalnya, menunjukkan, aktivitas literasi baca-tulis masyarakat masih rendah.

Baca Juga:  "Wajah Sekolah" dalam Media Sosial || Oleh: Sil Joni

Demikian pula data Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan bangsa-bangsa (UNESCO) pada 2012, skor minat baca di Indonesia hanya 0,001, atau dari 1.000 penduduk hanya satu orang yang memiliki minat baca tinggi.

Secara analog bisa ditegaskan bahwa dari 1000 penduduk di Indonesia, hanya satu yang benar-benar ‘mencintai otaknya’. Hanya ada satu orang yang masih menyediakan waktu, tenaga, dan modal untuk merawat sisi kejiwaannya.

Ketika minat baca rendah, maka rasanya agak mustahil bagi orang tersebut untuk bisa berpikir kritis, analitis, reflektif, dan sistematis.

Kemampuan dalam ‘memahami dan mendalami’ sebuah bacaan (teks), sudah pasti sangat memprihatinkan. Dengan demikian, idealisme menciptakan generasi yang berdaya saing global, tanpa diimbangi dengan kultur baca yang memadai, tidak lebih sebagai sebuah mimpi di siang bolong.

Untuk memverifikasi hasil riset yang terekspos di ruang publik itu, mungkin baik kita membuat semacam survei kecil-kecilan di sekolah. Pertanyaan pokonya adalah berapa banyak buku (di luar buku teks), baik buku fiksi maupun non fiksi yang dibaca oleh para siswa sekolah menengah kita. Kemungkinan jawabannya adalah nol. Artinya, para siswa tidak pernah bergaul atau berurusan dengan buku bermutu di luar buku teks yang sesekali dibahas secara bersama di dalam kelas.

 

*Penulis adalah warga Mabar, tinggal di Watu Langkas.

***

Catatan Redaksi | Pandangan dan atau Opini pada kolom ini merupakan pandangan pribadi Penulis dan sepenuhnya menjadi tanggungjawab Penulis, tidak mewakili redaksi letangmedia.com.

  • Bagikan
error: Content is protected !!
Kirim Pesan Sekarang
Trima kasih dan selamat datang di letang
Hallo...
Trima kasih dan selamat datang di letangmedianews.com.
Silahkan kirim pesan untuk pertanyaan iklan produk & perusahan,
penulisan profil prusahan, bisnis, serta kerja sama, dll
Salam dan hormat kami
Letangmedianews.com.