Cukup Sekian, Selembar Kidung Rindu Para Raja Mengepul dari Jauh Kepada Bintang || Kumpulan Puisi Apoloinus Jantur

  • Bagikan
Cuplikan Puisi

Kumpulan Puisi
Penulis | Apoloinus Jantur*

Kidung Para Raja

Bersabda atas jumantara
Berkuasa atas segalanya
Segenap litani dalam khusyuk
Bermunajat sampai lupa pada jagat raya
Berkuasa atas nirmala seluruh desa
Selembar kidung rindu dilantunkan
Sangat syahdu

Anak dara dalam tirai
Renjana membisikkan sesuatu
Nyanyian dan bunyi sangkakala
Menyoraki sang Raja di singgasana
Bagai dalam genangan air mata
Mengguyuri sebagian desa itu

Rucita di ujung singgasana
Kirana anak Raja
Paras dahayu
Baswara daksa nirmala
Seluruh isi semesta penuh bhama

Diam-Diam para Raja
Duduk bersila
Lambat laun bersimpuh
Bercucuran air mata
Menengadah kepada Tuhan
Pada segenap atma

Saban hari berlalu
Sibaklah tirai para Raja
Segala pujian dilantunkan
Pada sembahan penuh syukur
Setelah lama berdiam diri.

Cerita Malam Si Gadis

Petang telah berlalu
Dewi malam mengais rindu dicela-cela kedukaan
Sungguh nahas
Dari ujung si gadis berpeluk sepi
Mengutuk suasana
Haruskah seperti ini?

Dari seberang
Melambai tangan
Merentang rindu
gadis kesepian
Hingga malam mengerikan

Kepada bintang
Ia berseru lantang
Menari penuh harap
gadis itu
Penuh peluh
Berakhir sia-sia
Pada malam yang malang

gadis
Apakah itu engkau?
Kendati rindu terombang-ambing
Hanyut di tengah laut
Terbawa arus kedengkian

gadis
Cukup sekian
Engkau terlalu candala
Menunggu kembang mekar tak kunjung mekar
Tak menarik

gadis
Adalah rindu yang menyakiti
Mencampak hati penuh pilu
Duri tajam menusuk penuh gairah
Nafsu sekali
Membancang kebajikan
Inilah neraka, gadis

gadis
Engkau mungkin mengantuk
Engkau terlalu lelah
Pada malam yang menyiksamu
Ceritamu telah usai
Adalah akhir dari segala cinta

Sajak Basah dalam Cangkir

Masih terlalu pagi
Engkau mengecup embun pagi
Engkau merayu sang fajar
Hingga lupa kekasihmu

Wahai gelandang rindu
Sumpah semerbak disudut cangkirmu
Membawaku pada tanah basah sejuk
Menggali sedikit kisah
Kucirlah rambutmu

Daun-daun
Pada tangkai bergelayut manja
Mendesah tersibak angin
Mencakar akar pandang
Tak kutemui

Ia hampir dingin
Mengepul penuh asrar
Jiwa menantang nafsu
Aku kembali
Lupakanlah

Basah-basahan
Keringatnya
Mengepul dari jauh
Sajakku melepuh
Sesaat menanti
Rinduku telah basi

Editor | Cici Ndiwa

*)Penulis adalah mahasiswa Unika St. Paulus-Ruteng, Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Saat ini berdomisili di Ruteng

Baca Juga:  Cerpen: Firdaus|| Oleh: No Eris
  • Bagikan
error: Content is protected !!
Kirim Pesan Sekarang
Trima kasih dan selamat datang di letang
Hallo...
Trima kasih dan selamat datang di letangmedianews.com.
Silahkan kirim pesan untuk pertanyaan iklan produk & perusahan,
penulisan profil prusahan, bisnis, serta kerja sama, dll
Salam dan hormat kami
Letangmedianews.com.