OPINI: Eksistensi Pendidikan Formal Dalam Penguatan Pendidikan Karakter  Di Era Digital 4.0   

  • Bagikan
ILUSTRASI (Sumber: ipm.or.id)

Eksistensi Pendidikan Formal Dalam Penguatan Pendidikan
Karakter Di Era Digital 4.0
Oleh: Godefridus Novendi Abdi*

OPINI-Pendidikan karakter telah ditetapkan sebagai salah satu prioritas dalam Nawacita Presiden Joko Widodo dan diperkuat dengan dikeluarkannya peraturan Presiden Nomor 87 tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Peraturan tersebut sebagai titik terang yang memberikan haluan untuk menyiapkan generasi emas Indonesia yang mampu menghadapi dinamika perubahan.

Terpuruknya bangsa dan negara Indonesia sekarang ini lebih disebabkan oleh krisis akhlak dan bukan hanya disebabkan oleh krisis moneter. Dunia pendidikan kita selama ini telah lama melupakan tujuan utama pendidikan yakni mengembangkan pengetahuan, sikap dan keterampilan secara simultan dan seimbang.

Krisis Moralitas Generasi Bangsa

Di era globalisasi yang semakin pesat ini, ada banyak hal nilai negatif dan positif yang mempengaruhi eksistensi budaya lokal bangsa Indonesia. Dalam tatanan ini nilai-nilai negatif tersebut salah satunya sudah terjaring dalam media teknologi dan informasi. Media teknologi informasi dan komunikasi yang salah digunakan tentu akan berakibat fatal pada nilai-nilai moralitas yang dianut dan mengakibatkan hilangnya eksistensi nilai-nilai budaya bangsa.

Berdasarkan data riset bahwa tahun 2020 jumlah pemuda mencapai 200 juta jiwa, namun sangat disayangkan sekali kondisi yang terjadi di masyarakat, kurang dari 93 dari 100 anak Indonesia telah mengakses pornografi, 21 dari 100 remaja aborsi, 135 anak korban kekerasan setiap bulan, 5 dari 100 remaja tertular penyakit menular seksual, 63 dari 100 remaja berhubungan seks di luar nikah, kasus perkosaan di 34 provinsi, kekerasan seksual di 19 provinsi (Tang, 2019: 13). Mereka adalah anak era digital yang menghadapi realita dunia modern yang merambah pada karakter jiwa-jiwa generasi muda Indonesia, selain dari aspek sumber daya alam dan sumber daya manusia Indonesia juga mempunyai sumber daya keragaman mulai dari budaya, suku, bahasa, dan agama, namun keragaman sikap toleransi antara sesama manusia kita bisa saksikan pada konflik-konfik yang terjadi di Papua pada beberapa tahun yang lalu, maka bisa dibayangkan bagaimana wajah-wajah generasi Indonesia kedepannya jika ketiga sumber daya ini terus terjadi, maka hancurlah generasi Indonesia (Tang, 2019: 13).

Begitulah potret wajah era generasi sekarang ini krisis moralitas semakin tak dapat dibendung. Kekayaan akan sumber budaya Indonesia seakan runtuh, karena realitas generasi bangsa sedang terhimpit oleh crisis of thinking. Selain itu, generasi muda sekarang ini seakan kehilangan nilai iman oleh karena pengaruh budaya luar yang merusak kepribadian budaya kita sebagai bangsa.

Melawat fenomena krisis moralitas yang terjadi, maka sistem pendidikan  kita harus mampu menyusun strategi serta mampu menata kembali reformasi pendidikan dalam menangkal  realitas yang terjadi. Dalam konteks ini pengimplementasian nilai-nilai moral dengan pendekatan pendidikan karakter tentunya harus dieksekusi dengan cepat dan tepat melalui suatu program yang berjenjang, simultan, dan terintegrasi kesetiap mata pelajaran. Karena sebetulnya generasi bangsa menjadi titik sentral menuju  manusia yang berakhlak dalam membangun peradaban baru di tengah masyarakat Indonesia.

Kehadiran era globalisai yang semakin pesat ini seharusnya dapat meningkatkan nilai moralitas masyarakat terlebih khusus pada generasi emas Indonesia. Hal tersebut dapat aktualisasikan jika masyarakat dan generasi emas Indonesia memiliki kekayaan akan pengetahuan budaya dan dapat menyaring arus globalisasi yang kian berkembang. Generasi sekarang di tengah persaingan global ini tentu sangatlah diharapkan dalam menyongsong upaya era generasi emas tahun 2045.

Untuk itu, perlu ada suatu peradaban baru di tengah krisis yang menggejolak di era generasi sekarang ini. Untuk merestorasi itu semua, perlu ada suatu penguatan karakter secara simultan, seimbang dan berjenjang, dan diharapkan pendidikan formal sebagai agent of change mampu menciptakan arah baru menuju Indonesia yang berbudaya dan berkarakter.

Pendidikan Karakter dan Urugensinya

Berkaca pada pemikiran Hariyanto (2016), bahwa pendidikan karakter adalah proses pemberian tuntutan kepada peserta didik untuk menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter dalam dimensi hati, pikir, raga, serta rasa dan karsa. Lanjutnya pendidikan juga dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati.

Pusat Kurikulum Badan Penelitian Dan Pengembangan Kementrian Pendidikan Nasional dalam publikasinya berjudul Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Karakter (2011), menyatakan bahwa pendidikan karakter pada intinya bertujuan membentuk bangsa yang tangguh, kompetetif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong-royong, berjiwa patriot, berkembang dinamis,  berorientasi ilmu pengetahuan teknologi yang semua dijiwai oleh iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan pancasila.

Dalam konteks ini, pendidikan karakter  tujuannya adalah mengembangkan kepribadian peserta didik yang berketuhanan dan berperilaku moral. Pendidikan karakter diterapkan untuk memperkuat nilai-nilai kehidupan, membangun hubungan yang baik antara manusia dan lingkungan alam. Meskipun konsep penanaman pendidikan karakter secara spesifik tertuang dalam kurikulum 2013, namun evektifitas implementasinnya masih dikatakan gagal.  Hal ini terjadi, karena ruang pendidikan masih bertumpu pada porsi pengembangan kognitif, sedangkan penguatan pendidikan karakter sering terlupakan. Pada hal tujuan pendidikan pada prinsipnya bukan hanya melahirkan individu-individu yang berilmu, tetapi juga melahirkan individu-individu yang berkarakter dan berakhlak.

Upaya dan Harapan

Indonesia dalam menyongsong era global yang semakin pesat ini, tentu menghadapi banyak sekali tantangan yang sangat berat, dan kuncinya banyak terletak pada upaya sekolah atau pendidikan formal dalam mempersiapkan kualitas SDM yang handal dan berbudaya. Di samping itu, sekolah harus mampu memberikan suatu perubahan dan warna tersendiri dalam rangka menciptakan SDM yang unggul dan bersaing pada tatanan global. Bukan hanya kemampuan intelektual, akan tetapi pembentukan dan penguatan karakter betul-betul menjadi orientasi tujuan pendidikan kita

Eksistensi pendidikan formal selama ini seakan gagal, karena pendidikan formal tidak mampu menciptakan ruang pendidikan sebagai wadah dalam pembentukan karakter dan moral pada peserta didik. Dalam hal ini sekolah harus mampu menyelenggarakan kegiatan pengembangan karakter sebagai upaya tercapainya tujuan pendidikan. Tinggi rendahnya mutu pendidikan banyak dipengaruhi oleh kualitas mutu sekolah dan guru. Karena sekolah dan guru secara langsung memberikan suatu bimbingan sebagai upaya membentuk karakter peserta didik dalam upaya mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan.

Guru merupakan sumber daya manusia yang sangat menentukan keberhasilan kualitas pendidikan. Guru merupakan unsur pendidikan yang sangat dekat hubungannya dengan anak didik dalam upaya pendidikan sehari-hari di sekolah dan banyak menentukan keberhasilan anak didik dalam mencapai tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu, guru harus mampu menjadi jembatan dalam upaya tercapainya penguatan karakater. Aktivitas pendidikan yang di harapkan bukan hanya peningkatan intelektual, tetapi juga haruslah bernuansa penanaman karakter sebagai upaya terciptanya tujuan pendidikan yang berkualitas.

Pengembangan pendidikan karakter di sekolah sangat terkait dengan manajemen mutu atau pengelolaan di sekolah terutama dalam tujuan menghasilkan pribadi peserta didik yang berkarakter. Pengelolaan yang dimaksudkan dalam hal  ini adalah bagaimana konsep pendidikan karakter direncanakan, dikembangkan, diberi penilaian, dan dievaluasi. Dalam hal ini juga, pengelolaannya antara lain meliputi, nilai-nilai yang perlu ditanamkan agar sesuatu yang menjadi harapan dapat tercapai. Lebih dari itu, kegiatan-kegiatan apa yang harus dilakukan agar terwujudnya pembentukan karakter tersebut, bukan hanya pada mentransformasi materi, akan tetapi wujudnya harus terimplementasikan.

Penguatan pendidikan karakter (PPK) harus dilakukan berbasisi budaya sekolah dengan melakukan suatu pembiasaan dan tata kelola sekolah yang berkelanjutan tentunya hal sangat diharapkan. Lebih dari itu, budaya sekolah harus mampu mengembangkan budaya karakter pada peserta didik dengan tidak melepaskan individu dari lingkungan sosial, masyarakat, dan nilai-nilai budaya bangsa. Yang artinya pertumbuhan dan perkembangan karakter peserta didik, akan sangat tergantung dalam membangun relasi antar lingkungan sosial, masyarakat dan aspek-aspek budaya bangsa.

Menurut Lickona pendidikan karakter meliputi tiga unsur pokok, yakni mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (desiring the good), dan melakukan kebaikan (doing the good). Oleh karena itu, tugas sekolah harus mampu menghasilkan individu yang berkarakter dan dalam konteks ini dengan melakukukan suatu pembiasaan melalui kegiatan literasi, kegiatan ekstrakurikuler, kegaiatan kerohanian, dan kegiatan organisasi sekolah yang tentunya terintegrasi pada tatanan regulasi dan manjemen sekolah. Tentu hal tersebut sangatlah diharapkan untuk menciptakan suatu peradaban baru di tengah krisis degradasi karakter yang melanda generasi bangsa sekarang ini.

BACA JUGA:

  1. Permainan Tradisional Adalah Media Komunikasi Penguatan Pendidikan Karakter
  2. Gagasan Paulo Freire Tentang  Pendidikan  Yang Liberatif-Transformatif  Sebagai  Suatu Model Pendidikan Yang Ideal Dan Humanis Dan Implementasinya Dalam Konteks Pendidikan Di Indonesia
  3. Nadiem Makarim Menegaskan Formasi CPNS Guru Tetap Akan Ada
  4. Tergantung Pada Jari || Oleh: Sil Joni
  5. Si Mikroorganisme Lokal tak Kasat Mata, Ajaib Khasiatnya || Oleh: Fany Juliarti Panjaitan, S.P., M.Si

Jika konsep pendidikan pada umumnya bukan hanya menghasilkan individu yang berintelektual, tetapi di satu sisi diorientasikan pada pendidikan sikap. Maka pendidikan sikap tersebut senantiasa berbasiskan nilai karakter, di mana nilai karakter tersebut sengaja ditujukan untuk mengembangkan aspek kepribadian dan moralitas peserta didik. Penyelenggaraan pendidikan yang berangkat dan didasarkan pada nilai karakter yang diyakini akan melahirkan para output yang berkepribadian dan berakhlak. Karena itu, tugas utama pendidikan formal adalah membangun karakter anak didik yaitu bertujuan agar peserta didik tidak hanya menjadi sosok manusia, tetapi lebih manusiawi.

Penulis: Godefridus Novendi Abdi

 

*)Godefridus Novendi Abdi,
adalah Alumnus Unika Santu Paulus Ruteng
Saat ini bekerja sebagai Guru Di SDI Golo Ru’u Kecamatan Kuwus
Kab. Manggarai Barat  

  • Bagikan
error: Content is protected !!
Kirim Pesan Sekarang
Trima kasih dan selamat datang di letang
Hallo...
Trima kasih dan selamat datang di letangmedianews.com.
Silahkan kirim pesan untuk pertanyaan iklan produk & perusahan,
penulisan profil prusahan, bisnis, serta kerja sama, dll
Salam dan hormat kami
Letangmedianews.com.