oleh

Jangan Ada Dukun di Antara Kita

CERPEN
Jangan Ada Dukun
di Antara Kita

Penulis | Yovita Renaldis*

CERPEN| AKU bertanya pada dinding di kamarku, bagaimanakah cara terbaik membunuh sepi di tengah kecamuk hati melawan rasa rindu? Ini sudah sangat larut malam, tidak mungkin aku menyalakan speaker dan membiarkan Pance Pondang mengisi sunyi dengan lagu, “Ada Rindu Untukmu.” Bisa-bisa seisi rumah dibakar tetangga.

Inginku bernyanyi, apalah daya, kerajaan semut akan runtuh, para cecak akan berteriak dan para nyamuk akan tertawa, dan aku malu guntur bahkan terdengar lebih merdu dari suaraku.

Jadi, kembalilah aku pada foto dalam kotak kaca bercahaya di tanganku. Menatap wajah sang gadis ayu bernama Klara. Jika bisa protes ponselku akan berteriak kesal.

Hari ini kantorku sedang libur dan di luar sedang hujan, komplitlah alasan untuk menjadi kura-kura dalam selimut.

Kerjaanku hanya beradu tatap dengan hp, membaca kembali pesan-pesan terdahulu yang dengan rapi aku arsipkan juga menzoom foto bidadariku, memastikan tidak ada jerawat baru mengotori wajah manis berlesung pipi itu.

***

Klara aku mengenalnya satu tahun yang lalu di pasar ikan. Kisah kami seperti kisah Ftv harian di tv. Bertemu karena tidak sengaja bertabrakan.

Aku ingin marah mendapati kemeja baruku basah oleh tumpahan air ember bawaannya. Namun, angkara murka sulut ke bawah telapak kaki melihat paras ayu itu.

Perhatianku terpaku mati padanya, hingga tidak mempedulikan benda dingin dan kenyal dikecap jari-jariku, sedikit lengket. Tawa orang-orang pecah melihat ini, aku tidak paham apa yang mereka tertawakan. Saat itu temanku Jose mengedipkan matanya.

Aku mengalihkan tatapanku pada apa yang aku pegang barusan. Astaga! Ternyata yang aku ambil adalah gurita hidup.

Hewan dengan tentakel itu menatapku dengan perasaan tulus, sempat aku berpikir dia menyukaiku, sebelum akhirnya dia memberikan serangan tinta, aku baru ingat harusnya aku tidak bermain-main dengan Davy Jones.

Jatuh bangun aku mendapatkan nomor ponselnya, whatsApp, alamat Facebook bahkan membuat akun instagram untuk mengetahui kabar tentangnya.

Apa pun status di media sosialnya akan kuusahkan untuk memberikan like, dan memberikan komentar. Tak lupa aku selalu mengirim pesan kopian dari William Shakespeare Guruku dalam berpujangga tentang cinta.

Tentu saja aku tidak berharap kisahku berakhir sama dengan Romeo dan Juliet, tragis bukan?
Tank berasap di lantai kamar sudah hilang asap dan aromanya, pasukan udara dengan kecepatan cahaya dan suara mengalahkan konser rock and roll mengaung di udara.

Baca Juga:  Cerpen Rian Tap || Gadis FaceApp; Menunggumu di Batas Kota

Aku tersenyum sendiri layaknya orang gila tersenyum dengan dua jari menatap langit ketika kilat menyambar. Lalu bangkit dengan dramatis dari tempat tidur mengacak rambut yang sudah seminggu tidak beradu dengan air.

***

“Hah,” desahan panjang menggema dalam kamar. “Kenapa seharian dia tidak mengabariku?” teriakku. “Apakah aku melakukan suatu kesalahan kemarin? Apakah aku salah mengirim emoji padanya?

Tidak mungkin, seminggu tanpa kabar, kemarin bertemu dia hanya diam dengan wajah pucat, apa yang terjadi padanya, dia berbeda, apakah jiwanya tertukar, sungguh terlalu berbeda.”

Aku menatap bayangan di depan cermin, apa kurangnya aku? Rambutku sesempurna Justin Bieber, alis mata Johny Depp, bibir Edward Culen, hidung tidak semancung Brand Pit tapi, lumayan ramping dan tinggi.

Tubuhku setinggi menara dan orang memanggilku Slender Man, aku bercanda. Hanya saja sampai detik ini aku belum menemukan satu pun hal yang membuat para wanita berpaling.

Ada banyak lamaran dari para bidari-dari tapi apalah dayah aku terpikat layaknya Jaka Tarub pada Dayang Sumbi.

Tutur katanya selembut sutra, sekalipun dia marah. Senyumnya semanis gula alami tanpa bahan pengawet dan bahan tambahan apalagi oplosan. Dia sosok sempurna.

Aku mencintaimu Klara,” kataku waktu itu.

Dia tertunduk, tersenyum malu-malu. “Rasa cintaku lebih dari itu, layaknya langit dia tidak berujung, layaknya laut yang tak kutemukan di mana tepinya.”

Aku terkesima, mungkin aku harus bersemedi minta bantuan jin Aladin mengalahkan kalimat puitisnya. Aku sudah ke rumahnya, bertemu orang tuanya, menyatakan jika suatu hari akan kupinang sang wanita berparas ayu itu. Suatu hari entah kapan aku pun tak tahu.

Resah, resah rasanya. Andai bisa kubunuh lalu kumutilasi kerinduan ini pada dirimu Klara. Dimanahkah kau kini, apakah telepati hati kita telah merangkak mendekati mati? Ah, gadisku sayang, dengarkan priamu ini rindu.

Aku kembali ke kasur, ada baiknya aku tidur, barang kali alam mimpi akan mempertemukan kami. Meski setiap malam kini, aku selalu memimpikan hal lain, ada gadis cantik yang parasnya serupa Madona mengalahkan Klara, dan setiap malam aku lebih memilih gadis itu, bukan kekasihku, ya itu hanya mimpi.

Baca Juga:  Syair Pagi adalah Doaku

Tubuhku sudah menyatu dengan kasur, kantuk mencium mata perlahan. Namun, aku tersentak bangun kembali. Kupasang telinga baik-baik, ada yang berjalan di luar sana, sepasang kaki dengan sepatu berisik, berselang beberapa detik lengkingan suara kucing saling bersahutan, bukan suara kucing manja, mereka menjerit layaknya bayi.

Aneh lagi-lagi kejadian itu berulang beberapa malam ini, apa yang mereka inginkan?

***

“Matamu kenapa, Brother?” Jose menatap jeli wajahku. Pri bermata sipit itu sudah menjadi sahabat karibku bertahun-tahun.

“Tidak apa-apa,” jawabku santai. Haruskah aku berteriak semalam aku tidak tidur karena tidak mendapatkan kabar dari Klara?

“Alah! Bohong piara… mendingan tuyul noh, biar cepat kaya!”
Aku mengelus dada, kuat kan hatiku Tuhan menghadapi Mak lampir dalam tubuh pria tegap itu.

“Ke mana kamu kemarin? Pekerjaan menumpuk dia malah merunduk berasa ingin ku timpuk ….” Jose berpujangga.

“Kemarin tanggal merah, bukannya kamu yang mengirimkan pesan padaku malam Jumat?” kedua alis tebalku terangkat ingin menggapai langit.

“Tanggal merah apanya? Coba tunjukkan bukti pesan itu!” Jose tampak berang.

Dengan rasa percaya diri juga sorakan kemenangan aku mengambil ponsel lalu menunjukkan pesan dari Jose.

Sumpah demi Kecoak bersemedi, tidak ada satu pun pesan dengan nama Jose di sana. Pria itu berlari menyambar kalender di dinding, sungguh tidak ada tanggal merah satu pun selain hari minggu di bulan ini, tapi aku yakin aku tidak salah melihat.

“Kan sudah kubilang, jauhi Klara! Dia sudah mengguna-guna kamu.”
Lagi-lagi dia melontarkan argumen tidak masuk akal itu. “Ini perasaan murni. Pahami itu dasar Jones, jomlo ngenes tingkat sembilan puluh sembilan ular tangga.”

“Dengarkan dulu Kelvin!” mata Jose terbelalak aku kenal betul ekspresi serius itu.
“Kamu ingat gelas kopi terakhir yang kamu minum?”

“Heh, kemarin pagi, moca.”
“Bukan. Maksudku gelas kopi terakhir di rumahku minggu pagi. Jadi Nanda hendak membawanya ke dapur untuk di cuci, malah diambil oleh Nenek Gita. Dia membacakan isi gelasmu dari ampas yang tertinggal.”

Aku tidak akan percaya dengan hal-hal seperti itu.”
“Salahmu meletakan gelasnya terbalik.”
“Lalu apa yang dia katakan?” Tanyaku penasaran. Sudah pasti aku dan Klara berjodoh dan berakhir layaknya kisah dongeng Happly ever after.

“Kamu dipelet oleh Klara, pada awalnya. Dia tergila-gila padamu. Dia terlalu malu untuk mendekatimu jadilah dia meminta bantuan seorang dukun untuk mendekatkan kalian.

Baca Juga:  Cerpen Tentang Rof: Aku Harus Tenang dan Penuh Percaya Diri || Oleh Cici Ndiwa

Setelah sekian lama perlahan, dia melepaskan mantra-mantranya, ternyata kamu masih saja sama. Tergila-gila padanya. Kamu benar, kamu tidak dalam pengaruh mantra lagi.”
“Hah, sudah kuduga.”
“Tapi ….” dia mengerutkan kening.
“Tapi apa?”
“Malah dukunnya yang naksir sama kamu.
“Hah?” ingin rasanya kupingsan saja, tapi bertahan untuk tetap waras “Ucapan macam apa itu?”
“Suara kucing di depan kamar kost setiap malam. Langkah kaki, dia sedang menjaga pangerannya.

Kamu pikir kenapa Klara tidak mengabarimu selama beberapa hari? Dan, ingat bukan Klara, Bung yang menjauhi kamu. Ingat cerita tentang mimpimu itu, kau memilih gadis lain dalam mimpi, bukan dia.”

Aku harus bagaimana?”
“Operasi plastik.” Jawab Jose tetap serius.
“Tapi, Nenek Gita tahu siapa dukunnya?”
Wanita cantik dalam mimpimu itu, dia jelmaan penipu paras, kau ingin tahu siapa orangnya?”
Aku mengangguk, semoga dia wanita cantik.
Nenek tua di ujung jalan.”

Risiko pria tampan, haruskah aku menanggung cobaan sebegini berat. Oh, Klara, Sayang seharusnya jangan ada dukun di antara kita.

Editor | Rian Tap

Baca juga:

  1. Cerpen, Mencumbui Bibir Waktu
  2. Cerpen: Cinta Tak Semahal Belis || Oleh: Melki Deni
  3. Puisi Hujan Malam Minggu: Antara Aku, Rindu dan Cinta Tuhan || Kumpulan Puisi Redemptus
  4. Kumpulan Puisi Feliks Hatam || Aku Mencintai Seperti ini
  5. Cerpen: Suamiku Bukan Pastor Parokiku


*)Penulis lahir pada tanggal 09 Januari di lembah dingin yang di kelilingi oleh perbukitan. Ia juga merupakan penggemar dari Serlock Holmes, Scooby Doo dan Harry Potter, selain itu juga ia menyukai film horor, fantasi dan petualang. Wattpad@vita-Wealsy. Saat ini ia bekerja sebagai pegawai tata usaha di SMAS Widya Bhakti-Ruteng dan berdomisili di Ruteng.

Komentar