Kabut di Kamar Antara Tanya dan rindu Melebur Menjadi Satu || Kumpulan Puisi Indrha Gamur

  • Bagikan
ILUSTRASI (DOK.riaukepri.com)

Kabut Di Kamar.

Di kamar sehabis kabut tebal
Pun hujan angin yang mengahantam sunyi.
Segala kehangatan dirampas oleh debar di kalbu.
Kadang sabar lebih sulit untuk dikendali.

Meski kalang kabut dalam kepala.
Puisi masih bisa kuajak bermain di antara rinai rintik hujan penuh mesra
Menari pelan di atas ranjang sambil menghitung waktu yang tersisa.

Kadang menyiksa naluri
Namun,…..apalah daya
Rindu yang kian laju menempatkan ruang utama pada jantung.
Kini hujan benar -benar berhenti
Aku menarik bibirmu lebih dekat
Sebagai penutup obrolan kita sore ini.
Puisi, aku milikmu malam ini.

Surabaya Desember 2020.

Petang Di Keningmu

Petang kembali dengan tenang
Pada kening yang dingin itu.
Kukecup, barangkali hangat yang di ingin

Lembar ke dua yang kutulis.
Adalah mengenai belaian yang kini jeda
Melihatmu dibalik ribuan kilo meter jarak

Antara tanya dan rindu
Melebur menjadi satu
Di mana dan kapan,
Yang pasti yang kupinta adalah sebuah temu.

Malam ini, sebelum akhirnya subuh
Aku mengirim ini untukmu
Barangkali menjadi pemantik untuk mimpi malammu,
Jangan basah, sayang.

Surabaya Desember 2020.

Rahim Rindu

Selepas rindu yang menderu pada kekasih.
Di keheningan malam dalam serangkaian rindu yang ceria
Kumengelus rahim, tempat di mana ibu menanak Rahmat untuk aku, pun kau.

Jatuh tepat di hari ibu seperti ini
Hanya ucapan dan doalah yang paling laris meski dikikis resah.
Bahkan enggan mengungkapkannya.
Sebab selalu ada sembab kubuat di jantungnya .

Malam yang malang ini
Segelintir perih memarut nadi
Lirih dan rintik terpaut mesra ditiap detaknya.
Bayang-bayang kelabu menghantui rindu ini…

Seperti ini aku menulis ini
Dengan tangan yang kadang semberawut mengolah kata.

Di sini meski hanya sebatas kata
Kota selalu sedia, setia menyusun rindu dengan rapi.
Dia selalu punya cara untuk mendekatkan kita, Bu
Syair-syairku ini tak akan mampu membuatmu Kembali pulih dari sesak tanpa temu .

Percayalah, akan ada waktunya.
Kita kembali menyeruput kopi di tungku itu, dengan peluk yang paling syahdu dan mesra.
Sekali lagi, untuk rahim tempat aku menabung sunyi.
Terimakasih.

Surabaya 2020.

BACA JUGA:

  1. Memperjuangkan Politik yang Pro-Kaum Perempuan (Renungan Peringatan Hari Ibu) || Oleh: Sil Joni
  2. Kembang Mekar di Pusara Ibu || Kumpulan Puisi Arnolda Elan
  3. Segumpal Rindu Di Bibir Pantai || Kumpulan Puisi Selviana Grasantia
  4. Kumpulan Puisi Siska Sainin
  5. Kumpulan Puisi Feliks Hatam || Aku Mencintai Seperti ini
Oleh : Indrha Gamur (Penulis buku antologi puisi “rasanya seperti rindu tetapi entah apa namanya & juga sebagai pelaksana redaktur puisi Letang Media.Com)
  • Bagikan
error: Content is protected !!
Kirim Pesan Sekarang
Trima kasih dan selamat datang di letang
Hallo...
Trima kasih dan selamat datang di letangmedianews.com.
Silahkan kirim pesan untuk pertanyaan iklan produk & perusahan,
penulisan profil prusahan, bisnis, serta kerja sama, dll
Salam dan hormat kami
Letangmedianews.com.