oleh

Kisah RD. Inosensius Sutam Sebelum dan Setelah Disuntik Vaksin Anti Covid-19

SOSOK dan FEATURE 
Kisah RD. Inosensius Sutam Sebelum
dan Setelah Disuntik
Vaksin Covid-19

Penulis  | Feliks Hatam

SOSOK&FEATURE|Mewakili Universitas Katolik Indonesia (Unika) Santu Paulus Ruteng, Romo Inosensius Sutam, Pr; Wakil Rektor III UNIKA St. Paulus Ruteng, menjalani vaksinasi Covid-19 bersama sejumlah pejabat lingkup Pemda Manggarai dan tokoh agama bertempat di lantai 1 Kantor Bupati Manggarai, pada Kamis (4/2/2021)

Romo Ino, begitu ia akrab disapa, bergegas menuju kantor Bupati Manggarai, yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kampus UNIKA Santu Paulus Ruteng.

Derasnya hujan dipagi hari menguyur kota dingin itu, namun tidak mematahkan niatnya untuk mengambil bagian dalam vaksinasi perdana anti Covid-19 di Kabupaten Manggarai.

Imam Keuskupan Ruteng sekaligus pakar budaya yang mengabdi di kampus UNIKA itu, bergegas menuju kantor Bupati Manggarai, dengan mengenakan topi bernuansa budaya, berbaju batik, dan bermasker.

Ia melangkah dengan pasti, tanpa ragu, hingga tiba di kantor Bupati, dan menempati tempat yang telah disediakan. Ia hadir di sana mewakili UNIKA Santu Paulus Ruteng.

Ia tidak sendiri kala itu, mereka yang hadir untuk menerima Vaksin perdana diantaranya Asisten 1 bidang Kesra Frumensius LTK, Wakapolres Manggarai Kompol I Wayan Aryana, Dandim 1612 Manggarai Letkol Ivan Alva, Kajari Manggarai Yoni Pristiawan Artanto dan Wakil Ketua DPRD Flavianus Soe, Sekretaris II Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ismail Nazar, Sekretaris Keuskupan Ruteng Romo Manfred Habur, Pr, dan ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Manggarai dr.Ronal Susilo (Dikutip dari: manggaraikab.go.id/4/2/2021)

***

Hujan menguyur kota Ruteng dimalam tanggal 5 Februari 2021, penulis berusaha menggali kisah Romo Ino setelah menerima vaksin Covid-19 melalui via telpon. Walau dimalam yang pekat, rintik hujan rumah beratap seng, saya bersyukur, karena Romo Ino berkesempatan untuk membagi cerita sebelum dan setelah menerima vaksin covid-19.

Baca Juga:  Cerpen Rian Tap || Gadis FaceApp; Menunggumu di Batas Kota

Pada awal pembicaraan kami, Romo mengatakan hal ini, Kami hadir dari berbagai instansi, dengan misi dan tujuan yang sama yakni kesehatan manusia dari Covid-19 dan tentunya edukasi kepada masyarakat agar terlibat dan tidak cemas apalagi takut dalam menerima Vaksin Sinovac asal China

“Kehadiran dari semua pihak sebagai kekuatan dan mengajak masyarakat untuk tidak takut terhadap vaksin Covid-19, sebab tujuanya untuk melindungi diri, sesama dan memutuskan rantai penularan covid-19”

Bereferensi dari sambutan Bupati Manggarai Deno Kamelus saat membuka kegiatan Launching Vaksin tersebut, yang mengatakan bahwa salah satu cara menangkal berita bohong (hoax) tentang kemampuan Vaksin Covid 19 yakni keterlibatan dan peran aktif para pejabat publik terutama Presiden untuk divaksin pertama kali; Imam Keuskupan Ruteng itu menerangkan bahwa, yang hadir pada tahap perdana vaksinasi itu adalah keterwakilan dari berbagai instansi, hal ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang keberadaan vaksin tersebut dan memberikan kepecaryaan kepada publik tentang keberadaan vaksin tersebut.

Romo Ino dan sejumlah pihak yang menerima vaksin Covid- 19 tahap pertama tersebut tentunya tidak termasuk dalam tigapuluh persen Statistik Nasional yang tidak bisa divaksin. Sementara Bupati dan Wakil Bupati Manggarai masuk dalam tigapuluh persen Statistik Nasional yang tidak bisa divaksin karena berusia 59 tahun.

Romo Ino dan semua orang yang terlibat dalam penerima perdana vaksin tersbut diberikan edukasi singkat mengenai tata cara pemberian Vaksin oleh Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai, Asumpta Djo.

Baca Juga:  Puisi: Ibu || Kasihmu Tapal Batas

“Kabid P2P Asumpta Djo menerangkan, penerima Vaksin terlebih dahulu akan didata dan diverifikasi pada meja 1, kemudian di meja 2 penerima Vaksin diskrining ananemsia dan pemeriksaan fisik, dilanjutkkan ke meja 3 penerima akan diVaksin dan meja ke 4 dilakukan observasi Kejadian Pasca Imunisasi (KIPI)”, diikutip dari: manggaraikab.go.id/4/2/2021

Tibalah saatnya, penulis buku Ca Leleng Do, Do Leleng Ca (Satu Sama Dengan Banyak, Banyak Sama Dengan Satu) itu divaksinasi.

“Sebelum saya menerima Vaksin Covid-19, ada bebagai tahap yang dilakukan (dilalui) untuk memastikan kesehatan sebagaimana syarat menerima vaksin (sebagaimana yang diterangkan oleh Kabid P2P Asumpta Djo ) dan Puji Tuhan semua tahap itu dilalui, hingga akhirnya disuntik Vaksin Covid-19)”, ungkap Romo Ino, melalui sambungan telpon, disaat hujan enggan meninggalkan Kamis malam, di tanggal 5 Ferbruai 2021.

Semua orang yang telah ditujukkan sebagai penerima vaksin, dan bila harinya tiba, bisa saja penerimaan vaksin bagi mereka yang memiliki tekanan darah tinggi ditunda.

Dikutip dari kastra.co (4/2/2021) bahwa dari 17 pejabat dan tokoh ensensensial yang hendak divaksin, 12 orang divaksin dan 5 pejabat lainnya ditunda karena alasan kesehatan, yakni tekanan darah.

Kelima pejabat yang ditunda pelaksanaan vaksinasinya antara lain Kepala Kejaksaan Negeri Manggarai, Ketua Pengadilan Negeri Ruteng, Sekertaris II MUI Kabupaten Manggarai, Kepala Tata Usaha BLUD RSUD dr. Ben Mboi, dan Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai. Mereka akan menerima vaksin bila tekanan darah kembali norml, dikutip dari kastra.co (4/2/2021)

Hujan malam itu, tidak menghambat jaringan Telkomesel, alhasil Romo Ino dapat menyampaikan pengalamannya setalah menerima Vaksin itu.

Baca Juga:  Gagasan Paulo Freire Tentang  Pendidikan  Yang Liberatif-Transformatif  Sebagai  Suatu Model Pendidikan Yang Ideal Dan Humanis Dan Implementasinya Dalam Konteks Pendidikan Di Indonesia

Imam kelahiran Tere-Poco Leok tahun 1970 itu mengisahkan, setelah disuntik Vaksin tidak boleh meninggalkan ruangan, karena pada meja ke 4 dilakukan observasi Kejadian Pasca Imunisasi (KIPI) selama 30 Menit. Baru setelah 30 Menit diperbolehkan untuk kembali ke rumah masing-masing. Tidak berhenti disitu, KIPI dipantau dokter selama 1×24 jam, apa bila ada perubahan atau gejala lain yang dirasakan segera hubungi dokter.

Kisahnya tidak berhenti disitu, dosen yang menyelesaikan jenjang master dalam bidang Teologi di Institut Cathloque de Lille Prancis itu mengungkapkan bahwa, Puji Tuhan selama 1×24 Jam setalah divaksin tidak merasakan gejala atau perubahan yang mengkwatirkan. Ia juga menerangkan bahwa petugas sangat responsif saat dihubungi.

Diakhir membagi kisah sebelum dan sesudah divaksin covid-19 iman kelahiran 28 Juli 1970 itu mengajak saya, kita dan semua masyarakat untuk tidak takut menerima vaksin covid-19, mari kita mendukung upaya pemerintah untuh memutuskan dan atau meminimaliris penuralan wabah covid 19. Jangan takut berpatisipasi, dengan tetap menamtuhi protocol kesehatan

*)Penulis adalah Pemimpin Redaksi di Letangmedia.com serta aktif menulis di beberapa media online. Saat ini berdomisili di Ruteng

Komentar