KISAH: Surat Cinta Untuk Kedua Sosok 

  • Bagikan
ILUSTRASI (Sumber:https://www.viva.co.id/)

KISAH: Surat Cinta Untuk Kedua Sosok*  

Setiap bulannya, jata uang makan Rp 300.000. Ini sudah sangat  cukup bagiku untuk kala itu. Dari uang itu, kusisihkan sebagiannya untuk membeli buku, dan sisanya untuk kebutuhan selama sebulan. Satu hal yang saya pikirkan kala itu adalah uang Rp 300.000 setelah dipotong untuk membali satu buah buku dikeluarkan dari dompet bila ada kebutuhan yang sangat penting. Karena bagaimanapun, saya tidak menciptakan kebutuhan baru untuk menghabiskan anggaran tersebut, tetapi memenuhi kebutuhan yang memang penting dan perioritas.

Keistimewaanku saat itu, karena beras dikirim dari kampung. Ya, maklum jarak kota Ruteng tempatku mengadu mimpi dengan kampungku tidak terlalu makan waktu sehari. Biasanya ayahku membawa beras dengan menumpangi bus umum arah Ruteng Labuan Bajo setelah melintasi gunung. Sebabnya uang jata kebutuhan selama sebulan tersebut khusus untuk biaya hidup dan kebutuhan kuliah yang mendadak.

Aku tidak melihat jumlah uangnya. Sebaliknya ada sisi lain yang tersembunyi didalam uang itu. Ada banyak alasan dari anggaran itu. Itu adalah cinta dan ketulusan kedua sosok itu agar aku dapat mewujudkan mimpi. Mimpi menjadi sarjana.

Ketulusan mereka untuk menghidupkan aku selama kuliah, sangat luar biasa. Setiap senyuman mereka, dikala kami berjumpa di kampung halamanku, Waetana, atau saat saya pergi berlibur di tempat kerja mereka kumerasakan iklim cinta yang lahir dari kata-kata dan tindakan mereka.

Semua yang kubutuhkan selama kuliah tak ada yang meleset. Soal biaya, soal kebutuhan hidup, dan kebutuhan kuliah seluruhnya terpenuhi. Namun hal itu tidak membuatku jatuh dalam “kemewahan” dan tumbang pada gaya hidup yang tinggi. Aku tetap menjadi pribadi apa adanya, sebagaimana yang ditunjukkan oleh keluargaku dan keluarga Bapak Santu dan Mama Santa (bukan nama sebenarnya)  yang hidup sederhana dan bersahaja.

 Semua kebutuhan dasarku sebagai mahasiswa terpenuhi. Inilah yang membuatku beban dan wajib mempertanggungjawabnya. Beban itu bukan sebagai ketakutan dan mempertanggungjawabkan semua itu bukan balas jasa. Sebab sampai kapanpun aku tak sanggup membalas kasih dan cinta mereka.

Dukungan yang totalitas baik materi maupun moril, membuat kakiku enggan untuk berhenti melangkah, mesin pikirku terus beraksi dan mataku enggan terpejam, bila selalu kumemaknai setiap ketulusan mereka. Bila kudalami setiap kasih mereka yang tak kunjung pupus. Oleh ini semua membuatku tak akan sia-siakan waktu. Tak akan menentang waktu, apalagai lari dari waktu.

Empat tahun untuk mengais mimpi menjadi sarjana, adalah setiap tangga pendidikan itu kulalui dengan melunaskan setiap mata kuliah, tuntas disetiap tahunnya. Syukur kubersujud kepada empuh-Nya pengetahuan, sebab oleh cerahan-Nya kudiberi kesempatan untuk memperoleh nilai pertama atau kedua tertinggi di program studi itu, dan setiap tahunnya keluarga yang terus mendukung dan memberikan semangat kepadaku sehat dan dilindungi-Nya.

Foto saat semester akhir, Mei 2015

Semua itu akan ada dengan sendirinya, saat hati menciptakan ruang untuk melihat dan merasakan ketulusan dan cinta semua orang yang dengan total menghasihi dan mencintaiku. Mereka adalah orang tuaku, keluarga Bapak Santu dan Mama Santa, dan semua orang yang dengan caranya sendiri selalu memberikan dukungan dalam ziarahku. Ziarah mencari pengetahuan.

Cinta dan ketulusan orang-orang terdekat yang selalu  berjuang dengan melawan triknya mentari, membiarkan diri termakan dingin bila malam dan hujan tiba, bangun mendahului fajar dan pulang mengais rejeki lebih lama daripada petang tidak bisa kuingkari. Semua itu mereka lakukan hanya untuk melihat kebahagian dari orang-orang yang mereka sayang, untuk melihat keceriaan dari orang-orang yang mereka impikan, kelak berbuah bagi keluarga.

Itulah mimpi dari setiap orang terhadap buah hatinya. Itulah kerinduan dari setiap ayah dan ibu yang rela tidak beralas kaki, tidak bertopi dikala mentari ganas kepada darah dagingya. Aku melihat itu dari sapa lembut orang tuaku dan kata-kata bersahaja dari Bapak Santu dan Mama Santa saudara sepupu ayahku yang telah menaburkan kasih dalam kisah penting hidupku.

***

Kamar kosku yang berukuran 3×3 itu tempatku merenungkan semuanya, membangkitkan semuanya, dan menciptakan seluruh semangat itu. Di tempat itu, kujelajah setiap kata yang tertata rapi dalam apa yang disebut buku. Oleh kemurahan hati setiap orang yang mendukungku, dari kamar sederhana itu kumelangkahkan kaki setiap harinya untuk mengais ilmu yang disaji dalam setiap mata kuliah, memahami setiap buah kalimat yang dari setiap buku yang kubaca.

Ada bangga bercampur keresahan, saat setiap mata kuliah dalam setiap tahunnya “lunas”. Hal yang kuresahkan adalah, tentang kemampuanku mempertanggungjawabkan setiap maka kuliah itu. Iklim dingin yang menjadi ciri khas kota itu, memberikanku sesuatau makna yang amat berharga tetang “tidaklah baik menjadi manusia yang cepat puas dengan apa yang diperoleh. Tidaklah benar menjadi pribadi yang merasa serba tahu, tanpa menyadari apa yang telah diketahui. Tetapi teruslah mencari tahu, sebab belajar berlangsung sepanjang waktu, selama Sang Khalik memberikan nafas”.

Ini kulakukan bukan untuk membalas kebaikan dan kerelaan dari mereka. Sabab dengan cara apapun kutidak dapat membalas cinta mereka yang begitu total. Doa dan mempertanggungjawabankan ketulusan  usaha dan cinta tapal batas melalui komitmen yang tinggi terhadap semua proses adalah caraku mengucapkan terimakasih.

Cinta dan totalitas mereka tak pernah goyah, saat kata-kata bagai badai yang riuh menghantam tebing. Andai hati mereka seperti tebing, maka lama-kelamaan pasti goyah, sebagaima gelombang yang terus mengikis tebing. Namun karena hati mereka berdidingkan cinta bertembokan kasih yang amat total, kata yang amat tajam sekalipun, akan dumpul saat mengoyangkan keputusan mereka untuk mendukung proses pendidikanku hingga pemindahan toga.

Salah Satu Pantai di Sumbawa, Agustus 2015

Aku sedikit terkikis saat kata-kata bagai gelombang terus menggema dalam kupingku. Terombang-ambing, bimbang, malu, bahkan ingin melarikan diri dari kerelaan cinta yang menembusi semua sekat dari keluarga itu.

Melarikan diri dari kenyaataan itu adalah jalan licin bagiku untuk membendung semua kata-kata yang dikirim angin dalam dengarku. Namun bagai air yang melepaskan dahaga, ibarat rimbunan pohon yang dipilih semua oarang untuk berteduh saat mentari begitu trik, dan bagai hujan dimusim kemerahu yang membebaskan semua makhluk dari kekeringan, saat kata-kata yang belum kudengar sebelumnya.

Kata mereka melalui Handphone (HP) yang diucapkan bapak Santu, “nak, tidak usah risau apalagi cemas, tak usah malu apalagi putus asa, tak usah berkecil hati apalagi berhenti mengais mimpi-mimpimu, bila keraguan dan kata-kata tacam yang bertombakkan benci dan lirih membuatmu malu dan putus asa, asal kata itu bukan dari saya dan mamamu. Gengamlah mimpimu nak, sebab hati kami tak tergoyahkan oleh gelombang lautan lepas sekalipun”. Masih kuat dalam catatan ingatanku, kala itu adalah 12 Mei 2012, tepat saat di mana aku ingin mengikuti ujian semester IV.

Setiap kata diucupkan melalui seluler itu membawaku dalam kekuatan untuk mengupas keraguan dan kegalauan.  Kalimat yang kudengar dari keluarga bapak Santu membuat air mataku mengalir, kamar yang berdindingkan  tembok adalah saksi di bawah lampu philips yang memisahkan gelap dari ruang itu.

Dari semua yang terjadi saat itu, figur keluarga bapak Bapak Santu dan Mama Santa tidak hanya menumpaskan keraguan dan membangkitkan rasa percaya diriku, tetapi sosok bijaksana yang mengajarkan aku akan ketegaran dan keteguhan hati dari iklim sosial yang selalu menguji hati.

Kata-kata yang masih kucatat dalam kamus ingatanku seakan-akan ingin mengatakan, bila orang yang telah memberikan kepercayaan kepada kita dan sungguh menyakinkan kita untuk mempertanggungjawabkan kesempatan dan kepercayaan itu, itu sudah cukup.

Sambil menatap konfor hok 12 sumbu yang sedang menyala untuk memasakkan  makan malam, hatiku gundah. Ah, bila orang tua, saudara dan saudari, dan keluarga besar  tidak meragukanku. Ngapain kumeragukan diri, dan menghabiskan energi untuk memikirkan hal tidak penting itu, kataku dalam hati sambil meracikan sayur ala anak kos. Lebih baikku melakukan hal-hal yang positif daripada membuang waktu untuk memikirkan bisikan-bisikan angin yang diproduksi oleh hati yang terus meragukan orang lain, namun tidak mengenalkan diri berkali-kali tentang diri sendiri. Bisikan hatiku sembari menikmati racikan garam dalam sayur yang siap disantap.

Lalu sebaliknya, walau pada kesempatan tertentu keraguan itu datangnya dari orang-orang terdekatku. Aku tidak menyesalinya. Itu adalah vitamin. Keraguan orang lain dan orang-orang terdekat dalam hidup adalah ramuan untuk memancing semangat.  Keraguan itu dijadikan alasan utama untuk berusaha dalam sadar dan bijak untuk membuktikan kepada mereka yang terus memproduksi rasa keraguan terhadap orang lain, bahwa saya mampu. Saya mampu menjalankan dan menyelesaikan apa yang dipercayakan kepada saya.

 

 Keluarga Bapak Santu dan Mama Santa adalah pribadi-pribadi yang tulus dan sabar membelajarkan aku, akan sikap saling berbagi, saling memahami dan sikap kedewasaan dalam memaafkan.  Bagaima tidak, keluarga ini, setiap kali pulang kampung untuk berlibur selalu membagikan beberapa kebutuhan pokok untuk masyarakat yang ada dikampungnya, seperti satu 1 dus mie setiap kepala keluarga, sesekali menyumbangkan beras dan susu kepada beberapa kepala keluarga, bahkan membangun rumah yang layak huni bagi keluarga yang sangat membutuhkanya.

Sosok keluarga yang humoris dan pengayom ini selalu memberi keteduhan dan keceriaan tidak hanya kepada keluara dekat, tetapi juga kepada seluruh masyakat di kampung itu, bahkan kepada setiap orang yang mereka kenal.

Namun sekali lagi kuterpanggil untuk mengartikan semua, bahwa bukan meterinya yang dilihat, tetapi kesedian dan ketulusan dalam berbagi. Membantu dalam ketulusan dan keterbukaan yang dijiwai kasih sayang terhadap sesama, adalah kekayaan hati yang dimiliki oleh keluarga ini….

**

Hingga pada hari dimana aku diwisuda menjadi sarjana pendidikan Teologi kasih mereka selalu menjadi cerita indah di setiap perjuanganku. Ketulusan mereka dalam  berbagi  adalah bingkai-bingkai indah disetiap sejarah hidupku. Belaian cinta dan sayang dari kedua orang tua selalu menjadi mutiara-mutiara yang terus bersinar dalam setiap kiprahku. Ketulusan Bapak Santu dan Mama Santa adalah cerita indah yang mengisi halaman pertama lembaran siarah intelektualku. Cinta  yang mereka taburkan dalam keterbatasan keluargaku terus kupelihara untuk terus berbuah dalam karyaku.

Tangan ini terus diayunkan merangkai kata menghasilkan karya ini adalah buah ketulusan mereka yang terus ada dalam mesin ingatanku. Tangan ini diayunkan seakan tak mau berhenti, tangan ini menari-nari di atas kertas putih, membekas dengan kata, yang bermusikan rasa terimakasih, oleh cinta dan kasih kupersembahkan sepucuk cinta yang sama untuk bapak Bapak Santu dan Mama Santa. Kisah ini dan nama itu, tak pernah lekang oleh waktu, tak pernah lupa oleh usia. Kubawa sepanjang hayat.

Ruteng, 2017

Ket:

*)Bapak Santu dan Mama Santa (Bukan nama sebenarnya)

*) Penulis: Feliks Hatam

*) Tulisan ini tidak bermaksud lain, selain untuk mengingatkan penulis tentang orang-orang yang telah berjasa dalam hidup saya. Dan kubersembahkan pula kepada orang-orang yang telah berjasa kepada orang lain.

  • Bagikan
error: Content is protected !!
Kirim Pesan Sekarang
Trima kasih dan selamat datang di letang
Hallo...
Trima kasih dan selamat datang di letangmedianews.com.
Silahkan kirim pesan untuk pertanyaan iklan produk & perusahan,
penulisan profil prusahan, bisnis, serta kerja sama, dll
Salam dan hormat kami
Letangmedianews.com.