Luka Adalah Puncak dari Segala Ingat dan Rindu || Antologi Puisi Hams Hama

  • Bagikan
Antologi Puisi Luka Adalah Puncak dari Segala Ingat dan Rindu. Puisi Rindu itu berat, Puisi luka dan rindu
Original Ilustrasi:hipwee.com/Editor: Edy Feliks Hatam/Letangmedia.com

Tentang Lelaki di Ubun Terik
(Ayahanda Kosmas)

Paginya embun basah
Dengan segala isi rumah menjadi junjungan isi kepala.

Sekali menapak
Membekaslah jejak.
Itulah awal harapan.

Sedang siang bayang tak sempat ia temu
Lantaran isi kepala bergantung ruh-ruh yang lapar
Dan wasiat nenek moyang terus saja membawanya di ke dalaman moral masa lalu
tak ada sesiapa di bawah bayang. Tak perlu tunduk menatap.

Barangkali demikian cinta dan kebusukan mesti dikubur dalam rumah yang sama. Meski nyatanya matahari dan embun tak punya hak kepemilikan.

Maumere, 24/06/2021

Mengingatmu itu Luka

Aromamu masih basah dari segala kenang
dari musim yang makin sesat.

Belum kususun rindu pada temu
sentak kau lepas tanggal pada pisah.
Barangkali benar, puncak dari segala ingat adalah luka.

Maka merindumu adalah bunuh diri, bukan?
Ataukah merindumu adalah penjara itu sendiri?
Barangkali, merindumu adalah akhir dari kefanaan.

Itulah mengapa mengingatmu
selalu luka.

01 Agustus 2021

 

Dilema

Selepas jumpa
ada rindu
Selepas pergi
ada kenang
Selepas lupa
ada ingat
kau pada erat tangan menggenggam dan kata pada lidah menyahut
juga setiap telinga yang mendengar dan mata yang selalu setia menyimak bersatu dalam memori atas nama kenangan.

Akankah kusiagakan diam
ketika hati penuh gerutu di antara dua rupa yang kini perlahan menjenguk hati
Aku dilema
Antara gemar sapa
dan samar kata
sebab dua-duanya sama-sama mengetuk kalbu

Adakah pintu hati lapang membiarkan keduanya masuk? Bukankah pintu selalu ditakdirkan untuk masuk dan keluar satu orang saja?
kuharap tak ada yang bertengkar
tentang siapa yang pertama masuk. Ataukah Aku mesti diam?
02/09/2020

Menanti Wasiat

Kekasih
Tanah makin gembira. Sedang ia sesapi sejuk pelukan dedaunan yang berguguran.
Sendiri.
Barangkali untuk itulah daun gugur mengendap. Tanpa sayup.
Senyap

Sedang semusim yang lalu kita menabur rindu yang tabu.
Saat-saat genting dan memuncak corona. Dua bibir kita sahutan puji dan kidung bergema ikrar di bawah payung Alkitab.
Bahkan belum kita sesap madu di bibir kita yang makin mengering.
Seperti dedaunan yang gugur tanpa peduli ranting yang dilepas meranggas. Sendiri.

Kali ini madu di bawah lidahku mengering.
Masih tersisakah bara api di dadamu?
Barangkali ada wasiat yang hendak kau lesapkan.
Maumere, 2021

Puisi

*)Hams Hama, Pencinta Sastra. Saat ini menetap sementara di Ribang, Maumere-Flores NTT. Karya-karyanya telah diterbitkan di berbagai media, baik cetak maupun elektronik.

  • Bagikan
error: Content is protected !!
Kirim Pesan Sekarang
Trima kasih dan selamat datang di letang
Hallo...
Trima kasih dan selamat datang di letangmedianews.com.
Silahkan kirim pesan untuk pertanyaan iklan produk & perusahan,
penulisan profil prusahan, bisnis, serta kerja sama, dll
Salam dan hormat kami
Letangmedianews.com.