Media, Aktualisasi Diri dan Proyek Idealisme || Oleh: Sil Joni

  • Bagikan
Penulis (Foto; istimewa)

Tanpa berpretensi menafikan meluasnya gejala simptomatik sebagian besar media dalam mengarungi tahun politik kemarin, tetap diakui bahwa media ‘memainkan peran penting’ dalam lapangan kehidupan manusia di era posmodern seperti sekarang ini . Benar bahwa fenomena penyimpangan dari standar dan norma jurnalisme terjadi secara ekstrem dan masif oleh institusi pers.  Bahkan beberapa media arus utama secara terang-terangan meninggalkan objektivitas dan independensi.

Namun, hal itu tidak serta merta ‘menghapus’ sisi positif dari keberadaan media saat ini. Bagaimanapun juga kita hidup di era di mana ‘media’ telah menjadi bagian inheren dalam kehidupan manusia. Kita adalah manusia media (man of media). Kehadiran media alternatif (media sosial) dalam pelbagai platform yang kian digandrungi oleh mayoritas publik saat ini, turut mempertegas tesis ‘manusia media’ di atas.

Kendati banyak media online mulai kehilangan nalar dan pembentukan opini publik berdasarkan informasi faktual dan objektif kian minim lantaran media lebih mengutamakan kepentingan politik tertentu, kita tidak bisa mengambil konklusi tegas bahwa ‘media tidak berguna’ bagi manusia. Bahwa ada  sebagian media massa menjadi alat untuk mencapai tujuan pragmatis-partikular dengan mengingkari perannya sebagai ruang publik deliberatif, tak menyurutkan apresiasi kita terhadap kinerja para awak media.

Bagi saya, media lebih dari sekadar ‘jembatan penyampaian informasi baik yang bersifat deskriptif maupun kritis. Lebih jauh, sejatinya media adalah medium aktualisasi diri sekaligus mengimplementasikan pelbagai skema proyek idealisme. Potensi kritisisme dalam diri akan menjadi beku, jika dibiarkan dalam kondisi potensial saja dan tidak berjuang untuk diaktualisasikan secara kreatif dan produktif.

Untuk memperdalam tema aktualisasi diri, saya kira Abraham Maslow yang dikenal sebagai pelopor aliran psikologi humanistik bisa menjadi referensi akdemik yang kualitatif dan kredibel.  Maslow percaya bahwa manusia tergerak untuk memahami dan menerima dirinya sebisa mungkin. Teorinya yang sangat terkenal sampai dengan hari ini adalah teori tentang Hierarchy of Needs (Hirarki Kebutuhan).

Menurut Maslow, manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri). Dalam teori psikologinya, yakni semakin tinggi need achievement yang dimiliki seseorang semakin serius ia menggeluti sesuatu.

Mengikuti teori Maslow itu, keseriusan saya dalam mengoptimalkan media dalam beberapa tahun terakhir, tentu termotivasi oleh keinginan mengaktualisasikan potensi literasi secara kreatif.  Ada semacam kepuasan intelektual dan bahkan spiritual ketika pelbagai ‘talenta akedemik’ itu bisa teraktualisasi dalam medan yang efektif dan efisien.

Ketika puncak kebutuhan (aktualisasi diri dalam terminologi Maslow) itu terpenuhi, maka kita dapat menjalani kehidupan dengan lebih bahagia dan positif serta semakin enteng mencapai mimpi-mimpi dalam hidup ini. Mengapa? Maslow berargumen bahwa semua itu dapat dicapai karena kita sudah mampu untuk fokus, percaya diri, menyayangi diri sendiri, dan menerima segala sesuatunya dengan lebih baik.  Semua rasa kekhawatiran, stress, dan emosi negatif akan terdefinisikan sehingga untuk selanjutnya kita bisa  menghadapi emosi negatif tersebut dengan cara yang lebih bijak tanpa terpengaruh tekanan sosial kehidupan yang kian kompleks saat ini.

Dengan demikian, menulis banyak artikel di media sosial dan media daring, bagi saya bukan sebuah ‘profesi prestisius’ dengan pemasukan yang fantastis. Tentu, lain halnya jika kita ‘menjadi kolumnis’ di media dengan kapasitas finansial dan manajemen industri yang profesional seperti media mainstream di tingkat nasional, pasti mendapat honorarium yang setimpal.

Ada banyak teman atau kolega yang sering bertanya kepada saya soal income yang saya peroleh dari honor menulis di media on line.  Bahkan ada yang menilai bahwa saya menadapat ‘gaji cukup lumayan’ dari beberapa media digital tersebut.

Terus terang, sampai detik ini, saya tidak pernah mendapat satu rupiah pun dari media-media tersebut. Alih-alih ‘menghargai’ jasa menulis, justru ada sebagian awak media yang secara diam-diam mengambil artikel saya untuk dimuat di media mereka. Terkadang saya agak kesal dan kecewa. Tetapi, pada sisi yang lain saya berusaha menghibur diri bahwa ternyata ‘artikel opini’ racikan saya itu punya ‘nilai jual’ di mata mereka.

Lebih jauh, saya justru melihat bahwa menulis di media itu sebagai manifestasi perampungan proyek idealisme. Menganalisis secara kritis pelbagai isu sosial, politik, dan budaya untuk direncanakan di media, hemat saya bisa dibaca sebagai perwujudan roh idealisme yang sekian lama bersemayam dalam pikiran.

Kita ditantang dan dipanggil untuk menemukan dan mewartakan hal-hal ideal-normatif. Bergerak ke arah yang ideal, merupakan kecendrungan kodrati kita sebagai makluk yang mencintai kebenaran. Bagi yang setia merawat spirit idealisme, pasti merasa terganggu dengan pelbagai kondisi patologis yang terjadi di tengah masyarakat kita.

Ketika idealisme menjadi preferensi primer, maka pembicaraan seputar ‘upah’ tak terlalu urgen dan relevan. Kerja idealisme tak bisa ditakar dengan uang. Benar bahwa uang, sesuai dengan teori hierarki kebutuhan Maslow, tidak bisa diabaikan begitu saja. Tetapi, uang tidak bisa menjadi penentu hidupnya obor idealisme dalam diri kita.

Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik; Saat ini berdomisili di Labuan Bajo, Manggarai Barat

  • Bagikan
error: Content is protected !!
Kirim Pesan Sekarang
Trima kasih dan selamat datang di letang
Hallo...
Trima kasih dan selamat datang di letangmedianews.com.
Silahkan kirim pesan untuk pertanyaan iklan produk & perusahan,
penulisan profil prusahan, bisnis, serta kerja sama, dll
Salam dan hormat kami
Letangmedianews.com.