Motif Tenun Ikat, Urgensi HKI Terhadap Potensi Seni dan Kerajinan Budaya

  • Bagikan
Kanisius Teobaldus Deki, M.Th (Foto: Dokpri)

Laporan | Edy Feliks Hatam
Letangmedia.com

LMPedia| Letangmedia.com-Keanekaragaman seni dan budaya yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia adalah potensi yang menjanjikan. Salah satunya motif tenun ikat. Kerajinan tangan ini berhadapan dengan pasar gelobal, tidak sedikit pula ditemukan plagiarisme motif tenun ikat  tersebut. Untuk menghindari tindakan jiplak terhadap potensi seni dan kerajinan budaya sebagai kekayaan Indonesia dibutuhkan HKI.

Hak Kekayaan Intelektual (HKI) yang bersifat individu (personal) maupun kekayaan Intelektual komunal (KIK) tidak hanya untuk menghindari tindakan duplikasi, tetapi juga usaha meningkatkan nilai jual yang tinggi dengan dikemas atau diproduksi sesuai kebutuhan pasar dan jasa (Intangible). Bahkan akan menjadi branding pariwisata dan meningkatkan jati diri.

Hal itu dikatakan oleh akademisi dan Praktisi budaya sekaligus ketua dan Peneliti pada Lembaga Nusa Bunga Mandiri, Kanisius Teobaldus Deki, M.Th., kepada letangmedia.com di ruang kerjanya yang beralamat di Jl.Robusta 46, Tenda-Ruteng, Manggarai, NTT, pada Sabtu, 29 Mei 2021.

Kanisius Teobaldus Deki, yang biasa disapa Nik Deki mengatakan, kain tenun dengan masing-masing keunikan motifnya adalah salah satu potensi yang tesebar di berbagai wilayah Indenesia, salah satunya di Nusa Tenggara Timur.

Dikatakan Nik Deki, bahwa ditengah banyaknya potensi tenun ikat yang dimiliki bangsa ini, akan berdampak buruk bila ada pihak tertentu yang dengan sengaja melakukan peniruan atau jiplak.

“Penjiplakan sebagai trend yang sangat kuat di arus ekonomi global. Hal itu sejalan dengn meningkatnya minat terhadap tenunan tradisional di ajang pagelaran kain dan busana internasional ikut memberi daya dorong bagi banyak pihak melakukan duplikasi motif dan bahan. Mencegah hal itu, memiliki Hak kekayaan Intelektual terhadap motif tenunan ikat menjadi keharusan di masa ini,” jelas co-editor buku berjudul Gereja Menyapa Manggarai, yang diterbitkan di Jakarta oleh Parhesia Institut tahun 2011.

Ia mencontohkan, tidakan plagiarisme terhadap motif tenun asli asal Sumba yang dilakukan oleh seorang desainer asal Jepara pada acara fashion show di Paris.

Menurut Nik Deki, tindakan tersebut tidak hanya berisiko pada menurunkan kepercayaan wisatawan, tetapi juga berdampak pada ekonomi, dan melemahnya rasa percaya diri.

Sebab, kata Nik Deki, motif tenun ikat yang ada disetiap tenunan adalah eksplisitasi dari filosofi kehidupan. Lanjutnya, motif tenunan menggambarkan simbol-simbol kehidupan dan tatanan nilai.

Karena itu menurutnya, mengurus segala bentuk administrasi dengan mengikuti petunjuk demi petunjuk untuk mendapatkan sebuah dokumen HKI adalah keharusan ditengah tingginya kebutuhan pasar global, dan disaat yang sama untuk melindungi motif tenun ikat dari penjiplakan yang sangat kuat di arus ekonomi global.

“Motif tenun ikat merupakan narasi tentang masa lalu, masa kini dan harapan, visi di masa yang akan datang. Bagaimana konsep kehidupan pada masyarakat tertentu dapat terbaca melalui simbol-simbol yang ada dalam karya seni itu,” jelas dosen STIE Karya Ruteng-Mangarai itu kepada letangmedia.com

Selanjutnya, Ketua KSP Kopdit Kopkardios (2017—2020) mengapresiasi dan mengucapkan profesiat kepada semua pihak yang dengan semangat memperjuangkan Hak Kekayaan Intelektual untuk setiap kekayaan seni budaya di negeri ini. Baik Hak atas kekayaan Intelektual yang bersifat individu (personal) maupun kekayaan intelektual komunal (KIK). Salah satunya Dekranasda Manggarai yang dengan semangat suka rela, melakukan penelusuran dan mengurus administrasi motif songke Cibal hingga mendapatkan Hak Cipta dari Kementrian Hukum dan HAM (Kemenkumham) RI.

“Profesiat dan apresiasi kepada Dekranasda Manggarai yang dengan semangat suka rela, melakukan penelusuran dan mengurus administrasi motif songke Cibal hingga mendapatkan Hak Cipta dari Kementrian Hukum dan HAM (Kemenkumham) RI,” ungkap pemilik dan penulis di kanisiusdeki.com.

Nik Deki berpandangan bahwa, komitmen pembangunan infrastruktur organisasi yang serius dengan manajemen yang professional oleh Dekranasda Manggarai untuk menghidupkan potensi ekonomi dan budaya sekaligus pada kerajinan-kerajinan tangan (handicraft) masyarakat Manggarai telah menunjukkan hasil.

Sebab menurutnya, dari sisi potensi ekonomi, harga kain tenunan sepadan dengan nilai kerja dari para pengrajin dan memiliki efek pada peningkatan kesejahteraan mereka. Pada potensi budaya, karya tangan mereka mengekspresikan nilai-nilai budaya yang memperkuat penciptaan karakter sebagai Orang Manggarai.

Selanjutnya dari segi pendidikan dan pelestarian, ada proses pembelajaran nilai budaya yang kontinyu pada setiap generasi. Dengan demikian kata Nik Deki, ada aspek pewarisan yang lestari dan bermartabat.

Seperti diungkap Ketua Dekranasda, Ibu Meldyanti Hagur Nabit, sebagaimana dikutip oleh letangmedia.com dari kanisiusdeki.com, bahwa “pengenaan kain songke untuk setiap acara berbeda-beda. Setiap acara mempersembahkan kekhasan dan mengusung nilai yang berbeda. Karena itu, jika ini diterima dan dipraktikkan secara bersama oleh masyarakat Manggarai, maka setidaknya, setiap Orang Manggarai memiliki lebih dari satu kain Songke”.

Lebih lanjut Ketua DPD Perindo Kabupaten Manggarai itu menjeleskan, urgensi Hak Kekayaan Intelektual baik yang bersifat individu (personal) maupun kekayaan intelektual komunal (KIK) terhadap potensi seni dan kerajinan budaya, salah satunya motif songke Cibal yang telah didokumentasi dan diarsipkan dalam data nasional KIK adalah keharusan mutlak untuk mematenkan produk-produk lokal sehingga memiliki kekuatan Hukum di dalam dirinya sendiri (in se).

Nik Deki mengungkapkan, motif songke Cibal yang telah memiliki KIK adalah pengakuan yang berkekuatan Hukum tetap tentang identitas dan jati dirinya. Sehingga kata Nik Deki, segala bentuk peniruan adalah tindakan yang salah dan dapat terkategori secara sah melawan Hukum.

Motif Songke Cibal Manggarai. Sumber foto: Humas Dekranasda Manggarai (Disandur dari: Florespedia.com)

“Secara singkat, urgensi Hak Kekayaan Intelektual adalah pengakuan kepemilikan. Dengan adanya pengakuan, maka harganya lebih tinggi. Selanjutnya membangun branding. Dengan adannya branding, maka harganya lebih tinggi. Kalau harganya lebih tinggi maka menguntungkan semua pihak yang ada dalam area bisnis itu, mulai dari penenun, penjual dan pengusaha. Sementara dari segi budaya bahwa, kain tenunan sebagai artefak budaya bisa dipelihara. Dari segi pariwisata, kalau orang datang ke Manggarai, orang bertanya tentang jati diri dan identitas kita. Pertanyaan jati diri ini adalah abstrak, lalu orang bisa mengetahui jati kita adalah hasil karya,” terang Nik Deki.

Ia berharap, semoga kedepannya banyak potensi budaya Manggarai mendapat pengakuan dan perlindungan Hukum melalui KIK sehingga berdampak pada peningkatkan ekonomi.

Harapan tersebut mengafirmasi hasil kajian yang dilakukan oleh INDEF UI pada tahun 2017 tentang strategi pembangunan nasional sebagaimana dikutip oleh media ini dari dari siaran pers Kemenko Kemaritiman dan Investasi  tanggal 26 Mei 2020 (maritim.go.id) menyimpulkan bahwa, peluang pertumbuhan pembangunan nasional akan sangat besar bila ditopang menggunakan strategi endogenous growth, yaitu strategi pembangunan berbasis pada inovasi kreatif, di mana inovasi yang didasarkan pada potensi lokal yakni keragaman budaya dan keanekaragaman sumberdaya. Bahwa strategi endogenous growth ini akan sangat bergantung pada inovasi yang dapat diukur dari indikator jumlah paten atau jumlah Hak Kekayaan Intelektual.

Indonesia yang memiliki potensi kekayaan budaya dan keanekaragaman sumberdaya seharusnya dapat menghasilkan jumlah paten atau Hak atas kekayaan Intelektual yang besar dalam setiap tahunnya. Sebagai gambaran, berdasarkan informasi yang dikumpulkan oleh BAPPENAS, Indonesia memiliki sekitar 1.375 kelompok etnik dengan keragaman budaya, pengetahuan/kearifan tradisi, dibandingkan dengan Tiongkok yang hanya memiliki sekitar 53 kelompok etnik”.

Hal itu disampaikan Staf Ahli Menteri (SAM) Bidang Sosio-Antropologi Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi Tukul Rameyo Adi dikutip letangmedia.com dari laman Kemenko Kemaritiman dan Investasi RI (maritim.go.id)

Menurut Indef (Lihat, maritim.go.id), apabila keanekaragaman ini digabungkan dengan kebinekaan sumberdaya, seharusnya Indonesia mampu melahirkan berbagai HKI setara dengan Tiongkok.

Masih mengutip maritim.go.id (26/5/2020) bahwa dalam dokumen RPJMN 2020-2024, Kekayaan Intelektual (KI) bidang ekonomi kreatif mendukung dua strategi/program prioritas yaitu pertama, Peningkatan Ekonomi Kreatif dan Ekonomi Digital, dan kedua, Penguatan budaya literasi, Inovasi dan Kreativitas; serta terkait dengan Kebijakan Kelautan Indonesia pilar VI tentang Pembangunan budaya Bahari.

Untuk diketahui motif tenun ikat Kabupaten Manggarai, yakni Motif kain songke Cibal telah didokumentasi dan diarsipkan dalam Pusat Data Nasional Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) Indonesia. Mereka mengeluarkan Surat Pencatatan Inventarisasi Ekspresi budaya Tradisional dari Kementrian Hukum dan HAM (Kemenkumham) RI. Surat itu ditandatangani oleh Dirjen Kekayaan Intelektual Kemenkumham, Dr.Freddy Harris, S.H.,LL.M.,ACCS., dengan nomor pencatatan: EBT53202100126.

penulis| Edy Feliks Hatam
Editor | EFH & Tim


  • Bagikan
error: Content is protected !!
Kirim Pesan Sekarang
Trima kasih dan selamat datang di letang
Hallo...
Trima kasih dan selamat datang di letangmedianews.com.
Silahkan kirim pesan untuk pertanyaan iklan produk & perusahan,
penulisan profil prusahan, bisnis, serta kerja sama, dll
Salam dan hormat kami
Letangmedianews.com.