Orangtua dalam Tebaran Acang || Oleh: Bernardus T. Beding

  • Bagikan
Orangtua dalam Tebaran Acan. Orangtua sebagai pendidik pertama bertanggung jawab penuh dalam menentukan arah hidup keluarga dan anak-anak
Penulis: Bernardus T. Beding (Foto Dokpri)

KELUARGA merupakan wadah pertama dalam kehidupan anak, tempat ia belajar dan menyatakan diri sebagai makhluk sosial. Dalam KELUARGA umumnya anak ada dalam hubungan interaksi yang intim. KELUARGA memberikan dasar pembentukan tingkah laku, watak, perilaku, dan pendidikan anak (Kartono, 1992:19). Artinya, pendidikan anak tidak dapat dipisahkan dari keluarganya, karena KELUARGA sebagai tempat pertama anak belajar menyatakan diri sebagai makhluk sosial.

Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka, karena dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan. Orangtua sebagai pendidik pertama bertanggung jawab penuh dalam menentukan arah hidup KELUARGA dan memberi bekal kehidupan kepada anak-anak, sebelum anak-anak dapat bertanggung jawab dengan dirinya sendiri di tengah kehidupan masyarakat.

Era globalisasi memungkinkan perkembangan teknologi semakin pesat sesuai perkembangan zaman. Teknologi berkembang dan menghadirkan berbagai acang atau gadget baru yang bertebaran menghiasi seluruh kehidupan anggota KELUARGA. Berragam acang mudah diperoleh dengan harga terjangkau sesuai kebutuhan.

Barang acang bukan lagi menjadi barang langka atau asing di mata orang tua, khususnya anak-anak. Hampir semua aktivitas orangtua dan anak-anak, baik dalam aspek pendidikan, sosial, budaya, olahraga, ekonomi, maupun politik selalu memanfaatkan kecanggihan acang.

Walaupun demikian, keberadaan acang merupakan satu tantangan yang layak diwaspadai secara serius. Khususnya acang yang menampilkan teknologi komunikasi Android. Android adalah sistem operasi yang digunakan pada smartphone dengan aplikasinya bisa berbentuk WhatsApp (WA), Facebook, Instagram, dan lain sebagainya.

Melihat Dampak Acang

Acang memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan terhadap anak-anak. Bak pisau bermata dua, keberadaan acang membawa kebaikan sekaligus dampak negatif pada anak. Cris Rowan, seorang dokter anak asal Amerika Serikat menegaskan, harus ada pelarangan penggunaan acang pada anak berusia di bawah 12 tahun. Dampak accang pada perkembanan anak sangat banyak dalam bidang pendidikan di Indonesia.

Keberadaan acang membawa dampak positif, seperti menambah pengetahuan, memperluas jaringan persahabatan, mempermudah komunikasi, melatih kreativitas anak, dan lain sebagainya. Namun, tidak sedikit penelitian membuktikan, acang lebih banyak membawa dampak negatif ketimbang manfaat bagi anak, seperti mengganggu kesehatan, memngganggu perkembangan anak, rawan terhadap tindakan kejahatan dan amoral, serta dapat memengaruhi perilaku anak.

Penggunaan acang di kalangan anak-anak sering berdampak negatif, mereka lebih cepat beradaptasi dengan teknologi sehingga mereka sering terlena. Anak-anak yang sering menggunakan teknologi, seringkali lupa dengan lingkungan sekitarnya. Mereka lebih memilih berhadapan dengan teknologi canggih yang mereka miliki dibandingkan bermain dan berdiskusi bersama teman-teman. Akibatnya, komunikasi sosial antara anak dengan masyarakat berkurang bahkan semakin luntur.

Sisi lain, secara psikologis, masa kanak-kanak adalah masa keemasan (golden age). Anak-anak belajar mengetahui apa yang belum diketahuinya. Jika masa kanak-kanak sudah tercandu dan terkena dampak negatif oleh acang, maka perkembangan anak pun akan terhambat, khususnya segi prestasi. Satu hal yang sering dilupakan adalah efek negatif dari radiasi acang dapat memengaruhi kesehatan tubuh anak-anak.

Banyak zaman sekarang mengabaikan fakta-fakta tersebut karena kurangnya pengawasan dari orangtua atau pengasuh mereka. Padahal, generasi masa depan dapat dipandang lebih baik, jika sekarang orangtua mampu dan peka menangkap sinyal-sinyal yang dipancarkan dari aspirasi anak.

Tidak dapat dimungkiri bahwa seringkali rumah hanya menjadi tempat bermalam bagi penghuninya. Tidak ada komunikasi yang hangat lagi antara ayah, ibu, dan anak-anak. Anak-anak modern telah “dididik” oleh acang sebagai “orangtua kandung”. Sehingga di akhir dari proses panjang, biasanya banyak orangtua hanya menyesal dan menyesali. Orangtua sekarang menjadi materialistik, individualistik, dan hedonistik.

Kekayaan bukan lagi menjadi alat, tetapi telah menjadi tujuan. Banyak anak lari dari rumah. Orangtua sekarang semakin kikir untuk memenuhi kebutuhan anak, seperti kasih sayang, perhatian, dorongan, dan kehadiran di sisinya. Sudah banyak kasus bahwa ketidakhadiran orangtua dalam waktu agak lama karena bekerja memburu ‘uang’, telah menjadi penyebab utama pendidikan anak-anak menjadi carut-marut dan berantakan.

Alasan Kesibukan

Tingginya proporsi pendidikan orangtua, seringkali diasumsikan sebagai prasyarat penting bagi peningkatan mutu perawatan anak-anak. Akan tetapi, pada kasus-kasus tertentu, tingkat pendidikan yang tinggi bagi ibu membuat mereka semakin sibuk, yang menyebabkan penuruanan kesediaan untuk ‘merawat’ dan mendidik anak. Mengantar anak pada hari pertama masuk sekolah saja masih merupakan ‘barang mewah’.

Berbagai penelitian membuktikan, adanya hubungan negatif antara tingkat pendidikan ibu dan lamanya menyusui ASI (Hull, 1984; Jain dan Bongaaris, 1987; dan Mechan, 1990). Meningkatnya tingkat pendidikan ibu juga memberikan dampak bagi peningkatan pemakaian susu pengganti ASI yang dianggap sebagai suatu indikasi kemodernan (Soemardjan, 1985). Maka muncul sebuah anekdot, bahwa ‘anak-anak sekarang telah menjadi anak-anak sapi’.

Padahal telah diyakini bahwa secara psikologis menyusui bayi merupakan awal dari anak-anak mengenal dunia dengan penuh kasih sayang dan kelembutan.

Menyusui langsung dari payudara memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak-anak, sekaligus memberi berdampak positif bagi perkembangan jiwa anak di hari esok. Tanpa mengecilkan arti dan fungsi pembantu rumahtangga, pekerjaan pokok merawat dan mendidik anak di rumah seharusnya dilakukan oleh ayah dan ibu. Jika orangtua tidak menyediakan waktu yang cukup, sementara di rumah ada tukang kebun, tukang cuci, tukang masak, dan pengasuh anak, maka mereka inilah yang akan mempunyai pengaruh besar bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Kalau sejak kecil anak sudah diasuh, didampingi, dan bahkan ‘dididik’ pembantu, berhakkah orangtua menuntut pertumbuhan dan perkembangan anaknya dengan baik?

Resep Klasik

Berhasil atau tidak, anak-anak tumbuh dan berkembang dengan baik sangat ditentukan oleh habitatnya. Habitat anak terdiri dari lingkungan KELUARGA, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat umum. Khusus lingkungan KELUARGA, orangtualah yang mempunyai peranan utama.

Anak bukan saja memerlukan pemenuhan kebutuhan meteriel, tetapi juga kasih sayang, perhatian, dorongan, dan kehadiran orangtua di sisinya. Di saat berhasil, orangtua harus memberikan penghargaan dan pujian. Sebaliknya, ketika anak gagal, orangtua perlu memberikan dukungan moril supaya anak tidak merasa sendiri dalam kesulitannya.
Dalam banyak bidang kehidupan anak-anak, resep-resep klasik itu tetap berlaku dan tidak banyak mengalami perubahan.

Minimal ada tiga langkah bagi orangtua yang perlu diperhatikan dalam menyalurkan kasih sayang dan perhatian kepada anak-anak. Pertama, jangan membiarkan anak-anak nongkrong di jalanan. Berbagai survei membuktikan bahwa kegiatan bergadang akan berhubungan dengan rokok, alkoholisme, ganja, seks, dan AIDS. Kedua, seorang ulama menyatakan bahwa maraknya kenakalan anak-anak disebabkan oleh keraguan tingkat kehalalan ‘makanan’ yang diberikan kepada anak.

Ketiga, KELUARGA yang mempekerjakan pembantu rumahtangga hendaknya orangtua memberikan waktu dan perhatian ekstra agar anak-anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Imbauan kepada para orangtua untuk ‘puasa’ acang tiga jam saja dari pkl. 10.00 s.d 21.00 layak untuk diperhatikan supaya dapat menemani anak dengan 3B: bermain, belajar, dan berbicara (obrol).

Prinsip yang menjadi hakikat orangtua adalah memberikan pendidikan bagi anak dalam KELUARGA di era digital dengan memberikan pendampingan dalam penggunaan teknologi bagi anak.

Melalui pendampingan tersebut, orang tua dapat mengawasi anak dan mengarahkan konten-konten positif bagi anak untuk menggunakan kemajuan teknologi secara tepat sesuai dengan masa tumbuh kembang anak. Mudah-mudahan.

*)Penulis adalah Dosen Prodi PBSI Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng.

***

Catatan Redaksi: Opini pada kolom ini merupakan pandangan pribadi Penulis dan sepenuhnya menjadi tanggungjawab Penulis, tidak mewakili redaksi letangmedia.com

  • Bagikan
error: Content is protected !!
Kirim Pesan Sekarang
Trima kasih dan selamat datang di letang
Hallo...
Trima kasih dan selamat datang di letangmedianews.com.
Silahkan kirim pesan untuk pertanyaan iklan produk & perusahan,
penulisan profil prusahan, bisnis, serta kerja sama, dll
Salam dan hormat kami
Letangmedianews.com.