Pariwisata Premium Labuan Bajo: Gola Kolang dan Industri Pariwisata Berkelanjutan

  • Bagikan
ILUSTRASI GOLA KOLANG (Foto: katadesa.id)

Penulis | Yohanes Budiono*

SEBELUM  menjadi industri, pariwisata awalnya sebuah fenomena yang sederhana dan kini fenomena pariwisata tersebut tidak lagi sederhana. Saya coba mengulas sedikit perjalanan panjang pariwisata dan posisinya sekarang sebagai industri besar. Pariwisata di Indonesia sudah menjadi salah satu leading sector dalam pembangunan. Labuan Bajo menjadi salah daerah di Indonesia yang potensial untuk proyek tersebut. Oleh pemerintah pusat, Labuan Bajo (Manggarai Barat) dilabel sebagai pariwisata super premium.

Pelabelan tersebut tentu dengan harapan segala potensi wisata pendukung lainnya di Manggarai Barat turut diperhatikan. Pada fase ini saya coba menyodorkan produk lokal ke ruang pariwisata super premium Labuan Bajo yaitu: keberadaan gula merah/gula aren (gola kolang) yang adalah produk lokal asal Kuwus/Kolang Manggarai Barat. Pertanyaan pembukanya adalah: seberapa jauh relevansi pariwisata berkelanjutan dengan gola kolang (gula merah) tersebut?

Bagaimanapun yang disodorkan dalam ulasan ini bukan suatu pretensi menjawab semua hubungan pariwisata dengan gola kolang. Saya coba merangkum pikiran para pakar dan landasan lainnya dengan cara mengutip, serta pandangan saya (semacam respon intelektual) tentang keberadaan gola kolang ini. Hemat saya gola kolang memenuhi unsur-unsur yang ada dalam konsep pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism) yang merupakan rujukan pembangunan pariwisata dunia, termasuk Indonesia serta daerah-daerah yang berpotensi dikembangkan untuk kebutuhan pariwisata.

Sebelum masuk ke pembahasan pariwisata modern dan yang lain, ada baiknya memahami sekilas perjalanan panjang dari pariwisata itu sendiri. Sesungguhnya pariwisata telah lahir sejak adanya peradaban dunia ditandai dengan adanya pergerakan manusia yang melakukan perjalanan. Pada zaman pra sejarah, manusia hidup berpindah-pindah (nomaden) sehingga perjalanan yang jauh (traveling) merupakan gaya dan cara untuk bertahan hidup. Orang primitif sering melintasi tempat yang jauh untuk mencari makanan dan minuman serta iklim yang mendukung kelangsungan hidupnya. Sejarah panjang nomaden mempengaruhi pikiran manusia sehingga secara tidak sadar membuat aktivitas perjalanan secara insting menjadi prilaku alamiah (Lieper dalam Simanjuntak dkk, 2017: 4).

Buku yang berjudul Sejarah Pariwisata: Menuju Perkembangan Pariwisata Indonesia mengulas secara detail sejarah pariwisata. Saya merangkum poin-poin sejarah dalam buku tersebut, bahwa: mulai dari ahli pikir (filsuf) zaman Yunani kuno, pemimpin bangsa-bangsa di dunia, pelancong dan pengikutnya, sejarahwan, cendikiawan, semua orang yang ingin mencari sesuatu yang baru, revolusi industri, perkembangan teknologi dan lainnya adalah bagian fenomena pariwisata modern.

Ringkasnya, mengutip (Mbah Ben, 1: 2018) pariwisata lahir karena pergerakan manusia dalam mencari sesuatu yang baru yang belum diketahui sebelumnya, menjelajahi wilayah baru, mencari perubahan suasana untuk mendapatkan perjalanan baru. Kegiatan pariwisata pada awalnya hanyalah sebentuk kesenangan belaka yang sederhana, kini pariwisata menjelma menjadi sesuatu yang harus serius dan direncanakan, dilaksanakan secara serius, sehingga menjadikannya tidak lagi sederhana.

Pengembangan pariwisata sekarang ini, secara garis besar dengan konsep pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism). Artinya bagaimana suatu pembangunan yang merata dan sumber daya yang ada dapat dinikmati oleh generasi lintas generasi: masa kini maupun masa mendatang. Pariwisata berkelanjutan mencakupi tiga poin penting: aspek lingkungan, manfaat secara ekonomi, aspek sosial dan budaya. Pertanyaanya adalah: Apa saja unsur gola kolang sehingga dapat memenuhi tiga landasan penting dari prinsip pengembangan pariwisata berkelanjutan atau bagaimana relevansinya?

Menjawab pertanyaan tersebut di atas, saya memberi gambaran umum yang serba terbatas tentang gola kolang. Gola kolang (gula merah/gula aren) adalah hasil olahan air nira (minse), sumbernya dari pohon enau (raping) yang pohonya tumbuh berkeliaran dan mudah ditemukan di hutan, perkebunan, ladang warga Kolang Manggarai Barat. Proses pengolahan air nira (minse) menjadi gula merah atau gula aren perlu keahlian khusus.

Tahapannya dimulai dari pengenalan jenis pohon enau (raping), memukul pohon enau/tandan (ndara) yang berkisar dua minggu sampai ndara tersebut lembek (dengan teknik tertentu) sampai mengeluarkan air nira (minse). Selanjutnya adalah air nira (minse) ditampung dalam jerigen, bumbung bambu (gogong) sebagai tempayan. Setelah gogong terisi, penyadapan air nira biasanya dilakukan setiap pagi-sore. Selanjutnya adalah air nira dimasak (kokor) dan diolah menjadi gula merah (gola kolang) dan dijual.

Orang yang memproduksi gula merah (penyadap aren) di Kolang Manggarai Barat disebut ata pante. Kembali, pada tahapan memukul ndara tadi yang berkisar dua minggu kadang diisi dengan nyanyian semacam merayu (landu/dere) dan fase tersebut merupakan suatu praktik kebudayaan. Ndara dapat memproduksi air nira (minse) paling lama empat bulan. Merawat keberadaan pohon enau (raping dan ndara) dan atribut pendukung produksi gola kolang mutlak diperhatikan.
Berdasarkan uraian di atas, terdapat tiga argumen pokok yang perlu saya sampaikan di sini yang konteksnya adalah pariwisata berkelanjutan dan relevansinya dengan gola kolang.

Pertama: Aspek Lingkungan (asas manfaat dan pelestarian)

Saya memberi definisi lingkungan yang terbatas pada konteks gola kolang. Lingkungan dapat dikatakan segala sesuatu yang ada di sekitar kita (komponen biotik dan abiotik) yang memiliki hubungan timbal balik serta saling mempengaruhi. Pohon enau (raping) adalah jenis tanaman palma (nama Latin: arenga pinnata) dengan mudah kita temukan di ladang, kebun, hutan di wilayah Kolang Manggarai Barat (serta daerah lainnya). Keberadaan raping memberi manfaat tersendiri kepada petani di wilayah Kolang Mabar. Misalnya; untuk produksi gula merah, tuak, sapuk, sapu lidi dan kerajinan sejenisnya.

Pohon yang multi fungis ini, bukan tidak mungkin di masa yang akan datang terancam punah. Hal tersebut sekurangnya karena faktor alih fungsi lahan, aren bukan lagi sebagai komoditas utama, penebangan pohom aren, kebakaran, pendek kata keberadaannya kurang mendapat tempat. Mengantisipasi hal tersebut, saya menyambut baik rencana (program) penanaman pohon aren yang dicanangkan oleh bruder Engel Svd asal Lambur Kolang (rohaniwan Katolik dan dosen) sebagaimana disinggung dalam diskusi Zoom on in Flores Kamis 25 Maret 2021. Penanaman pohon aren di wilayah Kolang ke depannya merupakan salah satu bentuk pelestarian alam. Dalam konteks pariwisata kelestarian alam (baca: lingkungan) sebagai unsur penting keberlanjutannya.

Kedua: Manfaat Ekonomi

Umumnya di Manggarai Raya gola kolang sudah tidak asing lagi. Gula yang rasanya manis ini memiliki khasiat. Hasil riset bruder Engel menunjukan gola kolang baik untuk kesehatan seperti: obat lambung, obat sariawan, menjaga kesehatan otak. Produksi gola kolang serba terbatas sehingga sulit menembus pasar (nasional). Gola kolang-gula aren pada umumnya –merupakan ekonomi berbasis warga (smallholders economy). Siklus produksi dan konsumsinya hanya tersebar di Manggarai Raya.

Petani aren, pegiat dan pemerhati tetap optimis ke depannya bahwa gola kolang potensial untuk dikembangkan menjadi penggerak ekonomi kreatif. Berkaca pada pengalaman, Rikard Bangun (Dirut Kompastv) meceritakan “Dari negara Amerika Serikat pernah diminta 3 ton gula merah/bulan. Saya menolak karena kita tidak bisa produksi sebanyak itu” jelasnya di Zoom in on Flores.

Diskusi Zoom in on Flores Edisi 10, (Kamis, 25 Maret 2020) mengangkat tema “Menuju Manisnya Gola Kolang di Tengah Industri Pariwisata Super Premium” mengulas secara detail tentang fenomena dan prospek gola kolang ke depannya. Saya coba mereduksi diskusi tersebut, bahwasannya penthaelix pariwisata mendukung keberadaan gola kolang dan diperkenalkan ke ruang pariwisata premium Labuan Bajo.

Ketiga: Aspek sosial (khususnya: budaya)

Gola kolang diwariskan secara turun temurun: generasi lintas generasi. Keberadaanya sampai hari ini semacam seni merawat tradisi pante minse dan pante tuak. Dikatakan demikian, karena seluruh rangkaian proses memproduksi sampai pada tahap menjual gula aren-gula merah (gola kolang) pasti diisi dengan rangkaian acara adat, doa (tidak semua orang).

Rangkaian acara (baca: adat, doa) yang dimaksud contoh praktisnya adalah: penyadap air nira (ata pante) memproduksi gola kolang dan hasilnya lumayan banyak. Secara sederhana hasil penjualan gola kolang sekurangya mampu menafkahi keluarga. Pada fase ini, sebagai orang Manggarai yang beradat dan beragama sudah sepatutnya berterima kasih kepada Tuhan, alam, nenek moyang atas rezeki yang diperoleh. Tahapan tersebut merupakan sebuah praktik kebudayaan. Tradisi, adat istiadat adalah bagian dari potensi wisata. Pariwisata yang memperhatikan aspek budaya merupakan bagian dari indikator keberhasilan pariwisata berkelanjutan. Sederhananya geliat pembangunan pariwisata di Labuan Bajo, maka potensi kearifan lokal harus dilestarikan.

Pernyataan di atas saya teringat kembali ulasan dari Naisbitt seorang peramal masa depan; futurology. Dalam buku karya John Naisbitt (1998) berjudul Global Paradox mengemukakan pokok-pokok pikiran lain yang paradoks, yaitu semakin kita menjadi universal, tindakan kita semakin kesukuan, dan berpikir lokal, bertindak global. Hal ini dimaksudkan kita harus mengkonsentrasikan kepada hal-hal yang bersifat etnis, yang hanya dimiliki oleh kelompok atau masyarakat itu sendiri sebagai modal pengembangan ke dunia Internasional.

Pada gilirannya, pelabelan pariwisata super premium di Labuan Bajo, semoga penthaelix pariwisata (pemerintah, pengusaha, akademisi, media, masyarakat umumnya) terus memperkenalkan produk pariwisata potensial ke ruang publik. Mengakhiri tulisan ini, mungkin dinilai berlebihan yang dimana saya membawa gola kolang ke ruang pariwisata super premium di Labuan Bajo Flores. Tapi pada level tertentu, respon intelektual saya semacam diskusi alternatif bagaimana mutualisme kue pariwisata super premium dan manisnya gola kolang di Manggarai Barat. Di tengah perkembangan zaman yang begitu pesat, saya sebagai mahasiswa pariwisata dan warga Kolang/Kuwus bangga dengan gola kolang.

Refrensi Tulisan
Simanjuntak dkk, 2017, Sejarah Pariwisata: Menuju Perkembangan Pariwisata Indonesia, Edisi Pertama, Pustaka Obor, Jakarta
Mbah Ben, 2018, Filsafat Pariwisata: Sebuah Kajian Filsafat Praktis, Edisi Pertama, Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Webinar online Zoom on in Flores (Kamis, 25 Maret 2021) : Menuju Manisnya Gola Kolang di Tengah Industri Pariwisata Super Premium

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Pariwisata, Universitas Triatma Mulya Bali

Catatan Redaksi: Pandangan dan atau Opini pada kolom ini merupakan pandangan pribadi penulis dan sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis, tidak mewakili redaksi letangmedia.com

  • Bagikan
error: Content is protected !!
Kirim Pesan Sekarang
Trima kasih dan selamat datang di letang
Hallo...
Trima kasih dan selamat datang di letangmedianews.com.
Silahkan kirim pesan untuk pertanyaan iklan produk & perusahan,
penulisan profil prusahan, bisnis, serta kerja sama, dll
Salam dan hormat kami
Letangmedianews.com.