Perempuan atau Wanita: Kontroversi? || Oleh:RD. Bone Rampung

  • Bagikan
ISTIMEWA (Original Foto: d.depositphotos.com/Edit: FH)

Perempuan atau Wanita: Kontraversi?

Penulis | RD. Bone Rampung*

Rabu, 10 Februari 2021 Romo Dr. Ino Sutam mengunggah sebuah link pada grup WhatsApp Unika Santu Paulus yang  berisi tentang sebuah lema atau kata dasar yang tertulis dalam Kamus atau Leksikon. Pada grup WhatsApp itu terkirim tulisan pesan beserta linknya seperti ini, “Utk Dosen yang bidang bhs Indonesia:
Kata ‘Perempuan’ di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Tuai Kontroversi–> https://kbbi.kemdikbud.go.id/mentri/Perempuan dan https://kbbi.web.id/perempuan”.

Pesan WhatsApp itu jelas menyasar para dosen yang berlatar belakang pendidikan bahasa Indonesia. Pesan itu jelas berimplikatur mengharapkan adanya penjelasan yang memadai dalam rangka meredam kontroversi penggunaan sepatah kata.

Kata dimaksud ditemukan dalam link di atas dan memuat deskripsi seperti ini: “pe.rem.pu.an /pêrêmpuan/ dengan deskripsi lema atau bentuk dasar kata perempuan (1) orang (manusia) yang mempunyai vagina, dapat menstruasi, hamil, melahirkan anak, dan menyusui; wanita; (2) istri; bini:–nya sedang hamil; (3) betina (khusus untuk hewan).

Deskripsi perihal kata “perempuan” yang dipersoalkan itu tampaknya menekankan aspek fisik lahiriah dan ciri-ciri fisik dan dilengkapi pula dengan kata dasar yang bermakna sinonim yaitu wanita. Ada juga kata istri dan bini. Kata-kata: perempuan, wanita, dan betina dikategorikan sebagai kata benda (nomina). Kategori kata benda atau nomina dalam konstruksi sintaksis/kalimat umumnya mengisi fungsi subjek atau objek.

Deskripsi perihal kata perempuan yang dipersoalkan itu sesunggguhnya menuntut adanya penjelasan yang lebih rinci tentang kata tersebut. Untuk itulah, melalui artikel pendek ini kami ingin menguraikannya dengan harapan semoga memberikan pembaca pemahaman sebelum menentukan pilihan untuk menggunakan kata tersebut. Penjelasan ini sesungguh merujuk pada apa yang pernah kami ulas dalam Fatamorgana Bahasa Indonesia 1 pada topik “Wanita atau Perempuan. Ulasannya lebih pada perunutan asal-usul kata dan proses perubahan kata hingga pemakaiannya oleh masyarakat pendukung bahasa itu. Kata Perempuan dan wanita itu dipakai masyarakat bahasa pada masa tertentu dan dalam masa pemerintahan dengan sistem politik tertentu.

Pada masa kekuasaan rezim Orde Baru masyarakat berbahasa Indonesia mengenal adanya menteri urusan peranan Wanita. Sejarah Orde Baru mencatat bahwa dalam kaitannya dengan peran wanita telah dirumuskan lima peran yang dituangkan dalam apa yang disebut Pancadharma atau lima kewajiban seorang wanita.

Peran yang dihubungkan dengan suami wanita menjadi istri, dihubungakan dengan generasi muda wanita dipredikati sebagai pendidik dan pembina generasi muda, dihubungkan dengan urusan rumah tangga wanita digelar pengatur ekonomi, dihubungkan dengan urusan nafkah wanita sebagai pencari nafkah tambahan, dan dihubungkan dengan konteks sosial wanita itu anggota masyarakat.

Baca Juga:  Mantovanny Tapung: Transformasi Digital Tanpa Human Capital Adalah Absurd

Seiring dengan perubahan politik serta pergantian kekuasaan pada masa reformasi yang dikomandani Gus Dur sebagai presiden, warga dipkenalkan dengan adanya Menteri pemberdayaan Perempuan. Kita lalu akrab dengan dua kata yakni Wanita dan Perempuan untuk rujukan yang sama. Dua kata, Wanita dan Perempuan ini, tampaknya dipakai dalam pengertian yang sama dan relatif bersaing.

Beberapa dasawarsa belakangan, saat derasnya isu jender, kata wanita tampaknya terdesak kata perempuan. Untuk sebagian masyarakat bentuk mana yang dipakai tidak menjadi soal karena toh, dua kata itu memiliki acuan atau referen yang sama. Jadi, bukan masalah dan tidak perlu dipermasalahkan.

Dalam kenyataannya, minimal ketika dua kata ini dipersoalkan, para pengamat bahasa, terdorong untuk mengulasnya secara memadai sekadar menyatukan pemahaman yang pada gilirannya dua kata itu dipakai dalam komunikasi tanpa harus merasakan adanya bias atau distorsi terkait rasa berbahasa.

Penggunaan kata wanita dan perempuan, berikut proses geser-menggeser antara keduanya menjadi penting dibahasa karena berkaitan dengan citarasa bahasa. Aspek diksi, jelas turut dipertimbangkan pengguna bahasa agar bahasanya dikategorikan baik (konteks komunikasi). Penggunaan atau pemilihan salah satu dari dua kata itu mempunyai citarasa yang berbeda. Citarasa itu hanya dapat diketahui dengan merunut kembali asal-usul kata itu berikut makna yang dibebankan pada setiap kata tersebut.

Kata perempuan secara etimologis berasal dari kata bahasa Sansekerta per- yang berarti makhluk, ciptaan empu (Jawa) bermakna tuan, mulia, terhormat. Dari sini terbentuk kata empu-nya (tuannya, miliknya). Per-empu-an berarti hal=hal yang berkaitan dengan per-tuan-an.Kata perempuan secara utuh diartikan sebagai sesuatu yang dikelilingi oleh yang bergantung kepadanya; menjadi yang terpenting.

Perempuan berarti pertuanan. Dalam perkembangan kata perempuan dipendekkan (abreviasi) menjadi puan. Kata puan ini menjadi pasangan untuk kata tuan dan keduanya menjadi sapaan penghormatan. Dalam sastra lama kata puan ini sering diungkapkan dengan frasa “tuan putri”.

Sementara itu, kata wanita juga berasal dari bahasa Sansekerta yang dibentuk dari unsur wan yang berarti ingin, ita berarti yang di- (bentuk pasif). Wanita berarti sesuatu yang diingini (oleh laki-laki). Maaf boleh saya katakan menjadi objek yang selalu diingini. Patut diduga pengertian inilah yang mendorong adanya gerakan jender yang pada intinya wanita itu bukan objek pasif melainkan yang berkuasa sebagai tuan. Tidak mengherankan jika gerakannnya bukan lagi gerakan wanita tetapi gerakan per-empu-an.

Baca Juga:  Mantovanny Tapung: Transformasi Digital Tanpa Human Capital Adalah Absurd

Kata wanita itu sendiri dalam perkembangannya dan hasil penelusuran para peneliti bahasa dipertalikan dengan kata lain yaitu kata betina. Kata betina dikategorikan sebagai salah satu kata yang mengikuti hukum perubahan bunyi. Perubahan bunyi terjadi karena terjadi pergantian kontoid pada bentuk sebelumnya.

Berkaitan dengan pergantian ini, dalam bahasa dikenal adanya hukum b/w artinya dua kontoid /b/ berganti /w/ tanpa mengubah makna kata. Contoh kata bibir =wiwir, batu=watu, baja=waja, beli=weli ). Mengikuti hukum b/w ini bentuk kata wanita itu sama dengan bentuk kata banita. Dalam penggunaan atau praktik berbahasa kata banita itu berubah bunyi menjadi benita. Bandingkan bentuk sekadar-sekedar, saksama-seksama.

Dari bentuk banita ke bentuk benita juga mengalami perubahan mengikuti salah satu bentuk gelaja bahasa yang dikenal dengan sebutan metatesis dari kata — meta (Latin)= pindah= tukar= ganti. Metatesis merupakan gejala pertukaran psosi letak huruf, bunyi, atau sukukata dalam suatu kata tanpa mengubah makna kata. Contoh metatesis padma menjadi padam (merah padma menjadi merah padam), lajur menjadi jalur, balur menjadi labur. Bernalogi pada gejala metatesis seperti ini kata benita menjadi betina. Posisi unsur /nit) pada kata bernita menjadi unsur tin dalam kata betina.

Melihat proses dan penelusuran di atas kita dapat menentukan bentuk mana yang sepantasnya dipakai. Untuk memilih kita kata perempuan atau wanita kita harus mengetahui konsep ameliorasi (nilai kata dengan citarasa yang lebih baik sekarang daripada duhulu) dan konsep peyorasi (nilai kata dengan citarasa yang lebih buruk sekarang daripada dahulu).

Lalu tinggal kita memilih memakai kata perempuan atau wanita. Mau yang diperlakukan sebagai puan/tuan atau mau dijadikan objek yang diingin. Silahkan saja!

BACA JUGA:

  1. Menjaga Mata Pisau Sapardi Djoko Damono || Oleh: Yohanes Sehandi
  2. Nadiem Makarim: UN Tahun 2021 Ditiadakan, Simak Syarat Kelulusan Sesuai SE Mendikbud
  3. Gagasan Paulo Freire Tentang  Pendidikan  Yang Liberatif-Transformatif  Sebagai  Suatu Model Pendidikan Yang Ideal Dan Humanis Dan Implementasinya Dalam Konteks Pendidikan Di Indonesia
  4. Cerpen: Middle Of No Where || Oleh: Akhir Ngalle (Part 1)

 

Perempuan atau Wanita: Kontroversi?

Penulis adalah Keprodi PBSI UNIKA Santu Paulus Ruteng

  • Bagikan
error: Content is protected !!
Kirim Pesan Sekarang
Trima kasih dan selamat datang di letang
Hallo...
Trima kasih dan selamat datang di letangmedianews.com.
Silahkan kirim pesan untuk pertanyaan iklan produk & perusahan,
penulisan profil prusahan, bisnis, serta kerja sama, dll
Salam dan hormat kami
Letangmedianews.com.