Persaudaraan Teror Versus Kebebasan Mutlak Menurut Jean Paul Sartre

Persaudaraan Teror Versus Kebebasan Mutlak Menurut Jean Paul Sartre
Persaudaraan Teror Versus Kebebasan Mutlak Menurut Jean Paul Sartre (Penulis: Chrispinus Hermanto Jebarus; Foto/Dokpri penulis)

Dewasa ini, salah satu realita yang mengancam nilai-nilai kemanusiaan adalah adanya berbagai macam bentuk TEROR. Semua lapisan masyarakat berada dalam situasi kecemasan karena adanya ancaman-ancaman yang mengganggu ketenteraman hidupnya.

Terorisme merajalela di mana-mana, persaingan tidak sehat terjadi dalam berbagai bidang kehidupan, konflik horizontal dan vertikal mewarnai hidup manusia.

Akibat yang muncul adalah terbentuknya suatu komunitas masyarakat yang hidup dalam bayang-bayang kecemasan. Tidak heran, Jean Paul Sartre lalu menyebut situasi seperti itu sebagai PERSAUDARAAN TEROR. Maksudnya, semua orang hidup dalam dunia yang sama, tetapi saling mengancam.

Jean Paul Sartre adalah seorang filsuf Perancis, seorang sastrawan yang sangat produktif. Ia juga dikenal sebagai pemikir dengan ide-ide brilian tetapi hidupnya penuh teka-teki. Bagi Sartre, orang lain adalah neraka. Dosa asal saya adalah adanya orang lain.

Relasi antara manusia pada dasarnya adalah konflik. Konflik adalah inti dari setiap relasi intersubyektif. Konflik bisa mengambil bentuk kompromi. Saya berelasi dengan yang lain (pihak II) untuk melawan orang ketiga (III). Aku dan Engkau berelasi untuk melawan dia. Aku dan engkau adalah solider. Dan dia adalah musuh kita bersama.

Begitulah terjadinya pembentukkan kelompok atau grup. Kelompok macam ini bersifat rapuh atau lemah. Maka, kelompok perlu mengkonsolidasi diri. Sarananya adalah ikrar atau kaul. Dengan ikrar maka segala bentuk kehancuran kelompok dapat dicegah. Dalam ikrar itu setiap anggota kelompok berjanji untuk tidak pernah menjadi “yang lain” bagi anggota lainnya.

Jadi, dengan ikrar saya secara bebas membatasi kebebasan saya. Dalam ikrar ini sesungguhnya lahirlah TEROR. Dengan ikrar maka saya memberi jaminan kepada kawan-kawan bahwa saya tidak pernah akan mengkhianati kelompok tetapi juga berarti saya memberi mereka hak untuk menghukum saya bila saya tidak setia.

Dengan kata lain, dengan ikrar atau kaul maka setiap anggota kelompok mengatakan “bunuhlah saya jika saya memisahkan diri”. Maka, setiap anggota serentak menjadi pelindung dan teroris bagi anggota lainnya. Dengan ini lahirlah PERSAUDARAAN TEROR atau FRATERNITE TERREUR.

Setiap anggota berhak atas kesediaan atau kesetiaan anggota lainnya. “Membunuh” si pengkhianat disebut Sartre sebagai “pembaharuan kaul” dan “kelahiran kembali” grup.

Pemikiran Sartre sesungguhnya mau mengafirmasi situasi konkret hidup manusia. De facto, kehidupan manusia di zaman ini diwarnai oleh konflik.

 

Baca Juga:
Tapak Politik Pembangunan di Mabar (Catatan Bedah Buku ‘Agustinus Ch. Dulla: Sebuah Biografi Pembangunan’)

Oleh: Sil Joni* LETANGMEDIA.COM-Ziarah politik Bupati Manggarai Barat (Mabar), Agustinus Ch. Dulla sudah mendekati ‘garis finis’. Lima belas tahun beliau Read more

Membongkar Sindikat Mafia Tanah || Oleh: Sil Joni

Membongkar Sindikat Mafia Tanah || Oleh: Sil Joni OPINI-Persekongkolan rahasia dalam bidang kejahatan pertanahan (mafia tanah) ditengarai kian marak di Read more

Quo Vadis Keadilan (Mengkritisi Kebijakan Soal Pemberhentian Kepala Sekolah SMKN1 Wae Ri’i – Manggarai)
POLEMIK SMKN1 RII Pemberhentian Kepala Sekolah SMKN 1 Wae Rii. Ilustrasi Opini

Quo Vadis Keadilan (Mengkritisi Kebijakan Pemprov NTT Soal Pemberhentian Kepala Sekolah SMKN1 Wae Ri’i Manggarai Penulis | Rengka S. Melkior, Read more

OPINI: Transformasi Pendidikan Dalam Menghadapi Persaingan Global || Oleh: Godefridus Novendi Abdi*

OPINI Transformasi Pendidikan Dalam Menghadapi Persaingan Global  Penulis | Godefridus Novendi Abdi* OPINI |  Berbicara globalisasi berarti kita berbicara tentang Read more

Kuliah Sambil Kerja dan Kerja Sambil Kuliah || Oleh: Sil Joni

DUA proposisi dalam judul di atas, pada level logis-konseptual bisa dibedakan, tetapi cukup problematis pada ranah aksi. Garis pembeda antara Read more

Mengapa Manusia Menjadi ‘Penjahat’? || Oleh: Sil Joni

PREDIKAT sebagai ‘imago Dei’ dalam tubuh manusia, tidak menjadi garansi untuk tidak bertindak seperti iblis. Dalam kenyataannya, manusia kerap tergoda Read more