PILKADA ||   Dulu dan Kini Aku Masih di Sini

  • Bagikan
ILUSTRASI (https://www.desaintasik.com)

(1) BERTANYA KE PENDAKI BUKIT ITU

Dari kaki gunung ini, aku menatap bukit itu.
Awanya aku tertegun, tentang bagaimana aku mendaki bukit itu.
Aku selalu bertanya tentang rintangan yang akan aku hadapi saat mendaki. Akupun mendapatkan caranya dari orang-orang yang pernah mendaki bukit itu.
Setelah aku sampai ke bukit itu, ternyata masih ada bukit-bukit lain, akupun kembali ke “rumahku” untuk menemukan cara bagaimana mendaki bukit berikutnya. Sebab yang aku tahu, setiap bukit itu mempunyai rintangan yang berbeda, apalagi bila didaki dalam kesempatan yang berbeda oleh orang yang berbeda.

Yah, saat itu aku percayakan orang pernah mendaki bukit itu, karena aku tahu dialah yang memahami apa yang ada di bukit itu. Hingga aku yang dulu, yang takut dan bimbang mendaki bukit, kutemukan jalan mana yangg kutempuh. Dari mereka aku tahu, belajar melintasi bukit dengan semua tantanganya, karena mereka memberikan jalan yang tulus.
Sekalipun banyak yang memberikan solusi, dalam rumah, tempat kataku bersemi, melahirkan cara mana yang kulalui.

Itulah sebabnya aku kembali ke rumah terlebih dahulu, sebelum mendaki bukit berikutnya. Kembali untuk sedikit menepi ke hati yang paling dalam, bertanya kepada orang yang pernah mendaki bukit. Mendengar jawaban mereka yang penah mendaki bukit membuatku percaya diri, sebab mereka tahu, cara mendaki bukit yang baik, mereka tahu akar persoalan saat mendaki, mereka tahu solusinya. Mereka juga tahu, bahwa setiap bukit-bukit itu memiliki tantangan, persoalan atau kesulitanya masing-masing, dan membutuhkan caranya masing-masing untuk mengahapi persoalan itu.

ITULAH UNTUNGNYA BERTANYA KEPADA ORANG YANG PERNAH MELAKUKAN APA YANG HENDAK KITA LAKUKAN. ITULAH UNGGULNYA MEREKA YANG SUNGGUH BERPENGALAMAN MENJAWAB DENGAN PENUH KEYAKINAN.

(2) MEMILIH SOSOK BUKAN KARENA DISOGOK

Aku yang dulu belum paham arti pemilu, walau sekarang tidak terlalu paham, setidaknya sedikit tahu tentang Pemilu.Yang aku tahu adalah Pemilu memilih figur untuk memimpin. Memilih sosok yang bukan karena sogok. Memilih figur yang lahir dari batin saya sendiri, bukan karena intimidasi APA LAGI DIBELI.  Satu Suara adalah investasi untuk generasi, sebab wilayah yang akan dipimpin oleh orang yang saya pilih adalah milik anak dan cucu saya nantinya. Karenanya aku memilih pemimpin yang benar-benar tahu tentang akar persolan dan potensi wilayah yang akan dia pimpin. Sebagaimana aku bertanya kepada pendaki gunung tadi. Aku bertanya, dia menjawab dengan penuh keyakinan, sebab dia berpengalaman mendaki bukit.

(3) Ah, memilih pemimpin: AKU MEMANG TERTINGGAL, YANG AKU TAKUT ADALAH AKU DITINGGALKAN

Saya tahu apa, saya sebagai apa, saya siapa. Suara saya hanya satu, biarlah saya di sini, menunggu hasil, biarlah saya di sini menunggu tawaran.

Ya, aku di sini saja, Sebab berkali-kali pemilu ataupun PILKADA, Aku masih di sini, dengan keadaan ini, aku masih di sini menunggu “kue-kue” pembangunan yang sampai saat ini belum juga kunjung datang. Bolehkan aku menikmati sedikiiiit saja kue-kue itu.

Dari dulu hingga kini, aku masih menikmati pelita, masih menggunakan tenaga manusia untuk menjual hasil bumi. AKU MEMANG TERTINGGAL, YANG AKU TAKUT ADALAH AKU DITINGGALKAN. Kini pemilu lagi. Janji manis terdengar lagi. Aku masih di sini?

TIDAK. Aku bergegas, menjemput mimpiku. Aku bergegas bertanya kepada  mereka yang tahu persis persolan dinegeriku sendiri.

Sabar, tenanglah, minumlah kopi pahit itu. Rasakan pahitnya, sehingga kau berjuang dan bangkit untuk memperoleh yang manis. Bila engkau mendapatkan yang manis, katakan, bahwa hidup ini tak semanis hanyalan dan retorika.

Hingga kau sadar, pahit itu realitas, manis itu diperjuangkan.
Kau tahu, dulu aku sulit mengunjungmu di sini karena bukit itu, sekarang sangat mudah aku mejengukmu. Dulu, wilayahku sepih, sekarang menjadi kota kecil, oleh apa yang disebut orang-orang dana desa. Banyaklah…Begitu kata mereka yang diselamatkan oleh Desa, Sebab masuk dalam jangkauan dana Desa.

Kini, aku berkacalah pada kenyataan, berbicalah dihati saat membaca berita, agar aku yang dulu tak paham dengan memilih, Kini jangan sampai salah pilih. Kerena sejak usiaku bertambah empat tahun dari Pemilu sebelumnya, aku tahu bagaimana aku memilih, aku tahu tentang pentingnya mendengar nurani.  Hingga tiba masanya aku kembali tertegun untuk menemukan kebajikan memilih.

Kini kata mereka, aku dan semua orang yang mereka sebut generasi milenial adalah generasi evaluasi, yang memilih tidak sekedar menggunakan hati, “tetapi memilih, karena HASIL PERSELINGKUHAN hati dan akal, yang sering disebut pertimbangan rasional”

Aku pun berani katakan ini: bahwa pemimpin yang berintegritas itu ada bila hati berani menolak manisan yang mungkin habis sesaat.

KINI AKU SADAR, KETERLIBATANKU SAAT PEMILU ATAU PILKADA DENGAN MEMBERI SUARA DI BILIK SUARA SAAT HARI PEMILIHAN ADALAH BUKTI BAHWA SAYA IKUT MEMBANGUN NEGERI INI. TAK ADA GUNANYA AKU BERHARAP PEMERINTAHAN YANG BERINTEGRITAS BILA SAAT PILKADA MEMILIH JALAN GOLPUT. TAK ADA GUNANYA SAYA BERHARAP PEMERINTAH YANG BERSIH, BILA SAYA MEMILIH KARENA UANG. TAK ADA GUNANYA AKU BERHARAP KETERTINGGALANKU DI SINI DIBEBASKAN, BILA AKU LEBIH MEMILIH KARENA DIBELI DENGAN DUIT, DARIPADA MEMILIH KARENA REALITAS.

Maka kini, aku bergegas, Mencari dan ingin menemukan sosok pemimpin yang tulus, yang berani mengakui dan mengatakan dengan lantang: TENTANG MASIH ADANYA KAMPUNG YANG BELUM MAJU, MASIH ADANYA RAKYAT YANG MENUNGGU PEMBEBASAN DARI KETERTINGGALAN.

AKu bergeges memperjuangkan sosok, yang lebih dahulu memahami rakyat sebelum diminta untuk dipahami. Sebagaimana seorang IBU yang lebih dahulu memahami keinginan dan perasaan anaknya.

(Feliks Hatam)

Baca Juga:  Cinta Tanpa Kata, Sejak Pagiku Hingga Juni Menepi || Antologi Puisi Ayu Alexandra
  • Bagikan
error: Content is protected !!
Kirim Pesan Sekarang
Trima kasih dan selamat datang di letang
Hallo...
Trima kasih dan selamat datang di letangmedianews.com.
Silahkan kirim pesan untuk pertanyaan iklan produk & perusahan,
penulisan profil prusahan, bisnis, serta kerja sama, dll
Salam dan hormat kami
Letangmedianews.com.