PMKRI Ruteng Menduga dan Menilai Pihak Polres Mabar Sengaja Bertindak Lamban Dalam Menyelesaikan Kasus Pemukulan Warga Oleh Beberapa Tentara dan Polisi

  • Bagikan
Hendirikus Mandela, Ketua PMKRI Ruteng (Foto; Dokpri)

Laporan | Edy F. Hatam
letangmedia.com

MANGGARAI|Letangmedia.com-Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Ruteng St.Agustinus melalui rilis yang diterima Letangmedia.com pada Kamis (18/03) malam, menduga dan menilai Pihak Kepolisian Resort (Polres) Manggarai Barat (Mabar) sengaja bertindak lamban dalam menyelesaikan kasus pemukulan warga, oleh beberapa tentara dan polisi pada 16 Februari 2021.

“Kami menduga pihak Polres Manggarai Barat sengaja mengulu-ulur kasus ini, sengaja mendiamkan kasus ini. Buktinya, sejak dilimpahkan hingga sekarang sama sekali tidak ada progresnya”, terang Hendrikus Mandela, selaku Ketua PMKRI Cabang Ruteng St.Agustinus.

Hendrikus menerangkan, kasus tersebut sudah dilimpahkan oleh pihak Polsek Kuwus ke pihak Polres Mabar, pada Senin (10/3).

Namun sampai saat ini, kata Herdrikus, pihak bapak Yosef mengaku belum dipanggil untuk meberikan keterangan.

Lebih lanjut, Hendrikus menilai pihak Polres Manggarai Barat sengaja mendiamkan kasus ini.

Buktinya, kata Hendirikus, sejak kasus tersebut dilimpahkan ke pihak Polres Mabar nampak sama sekali tidak ada progres penanganan kasus yang dilakukan oleh pihak Polres Mabar.

Selain dinilai lamban, Hendrikus mengaku sangat kecewa dan geram dengan pihak Polres Manggarai Barat.

Ia menegaskan bahwa, bila penanganan kasus ini belum menujukkan hasil, PMKRI Ruteng akan melakukan gerakan demonstrasi dan menggalang masa masyarakat dari kampung Siri Mese, apabila Polres Manggarai Barat masih mendiamkan kasus ini.

“Kami sangat kecewa dan geram dengan sikap Polres Mabar. Apabila Polres Manggarai Barat masih apatis, terkesan meremehkan dan bersikap santai-santai saja dalam memproses kasus ini, maka saya pastikan dalam waktu dekat PMKRI Ruteng akan turun ke jalan untuk berdemonstrasi dan menggalang masa masyarakat dari kampung Siri Mese” ungkap Hendrikus.

Data yang dihimpun Letangmedia.com dari berbagai sumber, bahwa kasus kekerasan terhadap Yosef Sudirman Bagu (41) asal Kampung Siri Mese, Desa Golo Poleng, Kecamatan Ndoso, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) oleh aparat itu terjadi pada Selasa (16/2/2021)

DPC PMKRI Ruteng Berkomitmen Mengkawal

Atas dasar itu, Hendrikus mengungkapkan, DPC PMKRI Ruteng pun berkomitmen untuk terus mengkawal kasus ini sampai tuntas. Mereka (DPC PMKRI Ruteng) mendorong upaya penyelesaian kasus secara hukum agar korban benar-benar mendapat keadilan.

Sebab, kata Herdrikus, tindakan penganiayaan yang dilakukan oleh pihak TNI dan POLRI menentang tupoksinya masing-masing.

“Kasus ini harus diproses secara hukum dan sampai tuntas hingga korban benar-benar mendapat keadilan. Ingat bahwa tindakan penganiayaan yang dilakukan oleh POLRI dan TNI tersebut menentang tupoksi mereka sendiri. Kami berkomitmen untuk mengkawal kasus ini sampai tuntas”, tegasnya.

Upaya Damai Secara Adat MANGGARAI

Dilansir dari media Indonesia (18/3) bahwa Dandim 1612/MANGGARAI Letkol Kav Ivan Alfa melalui Pasi Intel Letu Inf Valentinus Lanar mengakui adanya keterlibatan tiga anggotanya dalam peristiwa itu. Pihak Kodim sudah menindak tiga anggota tersebut serta pimpinan mereka.

Tindakan ini diambil supaya menimbulkan efek jera. Supaya anggota kami yang lain tidak boleh melakukan hal serupa,” Jelas Valentinus, Sabtu (13/3) sebagaimana dikutip media ini dari media Indonesia, pada Kamis (18/3)

Tetap melansir Mendia Indonesia, bahwa kasus ini tidak hanya dilaporkan ke Propam Polres Manggarai Barat tetapi juga ke Kodim 1612/MANGGARAI. Namun respon institusi kepolisian terkesan lamban dan berupaya melindungi anak buah mereka.

“Pelapor baru sekali diperiksa di Polsek Kuwus, yakni pada tanggal 1 Maret 2021. Selanjutnya, ia tidak pernah mendapat kabar terkait perkembangan penanganan kasus tersebut”, seperti dikutip oleh media ini dari media Indonesia.

Masih mengutip media Indonesia, bahwa “dari pihak Kodim 1612/MANGGARAI mengirim utusan yang dipimpin Pasi Intel. Pihak Kodim 1612/MANGGARAI menyampaikan permohonan maaf dan meminta agar persoalan tersebut diselesaikan secara adat MANGGARAI

“Upaya penyelesaian secara adat MANGGARAI dimaksudkan demi normalisasi hubungan antara anggota kami yang bertugas di tengah masyarakat,” Jelas Valentinus, Sabtu (13/3), demikian dikutip dari media Indonesia.

“Sedangkan dari pihak kepala Desa dan polisi itu, sampai detik ini tidak pernah berkomunikasi dengan saya. Mungkin untuk memaafkan atau berdamai itu mudah. Tetapi tindakan mereka harus diproses secara hukum agar ada efek jera dan tidak ada lagi Yosef-Yosef lain yang jadi korban kejahatan aparat di kemudian hari,” tegasYosef sebagaimana dikutip oleh media ini dari media Indonesia, Kamis (18/3)

Baca Juga:  Presiden Jokowi Anugrahi Gelar Pahlawan Nasional untuk Empat Tokoh Ini
  • Bagikan
error: Content is protected !!
Kirim Pesan Sekarang
Trima kasih dan selamat datang di letang
Hallo...
Trima kasih dan selamat datang di letangmedianews.com.
Silahkan kirim pesan untuk pertanyaan iklan produk & perusahan,
penulisan profil prusahan, bisnis, serta kerja sama, dll
Salam dan hormat kami
Letangmedianews.com.