oleh

Potensi Wisata Flores dan Harapan Pengembanganya || Oleh: Yohanes Budiono

Letangmedia.comPariwisata selalu berkaitan dengan hal-hal indah, unik, dan bersifat kearifan lokal. Flores termasuk wilayah memiliki potensi yang menjanjikan itu. Kita sebut saja binatang purba yang hidup di Taman Nasional Komodo dan konon katanya hanya ada di Komodo, danau tiga warna di Taman Nasional Kelimutu, wisata bahari di Riung, atau Labuan Bajo dan masih banyak lagi.

Bilamana kita membaca komentar tentang keindahan Pulau Flores, di situs perjalanan terpercaya di dunia (tripadvisor.com) ulasannya sangat menarik. Umumnya wisatawan mengagumi ‘keindahan alam’ yang masih asri dan destinasi yang sifatnya lokal. Pada fase seperti ini Flores unggul secara alamiah. Artinya obyek-obyek seperti itu hanya ada di Flores dan tidak dapat ditemukan di tempat lain di dunia.

Selanjutnya, Flores jadi bidikan lembaga pemerintah sekelas Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan mendorong Pulau Flores menjadi salah satu wisata tingkat premium. Hal ini menyusul Labuan Bajo yang terlebih dahulu ditetapkan sebagai wisata super premium. (Baca merdeka “Bappenas Usul Flores Jadi Wisata Premium” Edisi 18 Juli 2020)

Jika pariwisata identik dengan ‘keindahan’ maka Flores tentu ada yang ‘ketinggalan’ dari ‘keindahan’ itu sendiri. Karena ada banyak tempat lain di dunia yang jauh lebih indah dari Flores. Dari sudut apakah penulis membedah bahwa Flores juga ‘ketinggalan’ dari keindahan itu sendiri?

Bagaimana pun juga dalam tulisan ini penulis tetap mencintai Flores. Penulis membedah fenomena ketinggalan  ‘keindahan’ Flores dari unsur keberhasilan pariwisata di Bali. Pulau Dewata (Island of Gods) menjadikan pariwisata sebagai leading sektor. Artinya segala lini pergerakan ekonomi, pembangunan  selalu berkaitan dengan pariwisata, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Baca Juga:  Bila Ke Labuan Bajo Sempatkan Singgah Di Gua Pongkor Polo

Keberhasilan pariwisata di Bali, hemat penulis sekurang-kurangnya ada beberapa faktor;  pertama seni dan budaya, kedua sistem pemerintahan

Pertama; ‘Seni Budaya’ jika kita melihat apa pun obyek (wisata) di Bali, sebagai pengunjung tentunya akan terkesima dengan sentuhan seni, artistik dan derajat kreatifitas yang tinggi dan tentu semuanya dengan nuansa budaya Bali. Misalnya patung, gapura, dan seni ukir, gamelan, tarian-tarian dan masih banyak lagi.

Penulis berusaha memberikan catatan apresiatif pengembangan pariwisata budaya di Bali. Bahwa orang Bali adalah contoh seniman sejati. Artinya mereka menjalankan ‘seni budaya’ Bali sebagai keutamaan dalam kehidupannya. Entah itu bernilai atau tidak bernilai di mata orang lain (baca; wisatawan).

BACA JUGA:

  1. HTN, Dosen Prodi Agronomi Unika St. Paulus Gelar Pengabdian Kepada Masyarakat
  2. Anggota POLRES, TNI, POLPP, dan PLN Manggarai Gelar Ops Lilin Turangga 2020
  3. Membaca ‘Psikologi Orang Kalah’ || Oleh: Sil Joni
  4. Bupati Dulla: Sumur Literasi Pembangunan Mabar || Oleh: Sil Joni
  5. Segumpal Rindu Di Bibir Pantai || Kumpulan Puisi Selviana Grasantia

Motivasi seperti itulah yang menjadi bagian dari unsur kelestarian budaya di Pulau Dewata. Pada tahap ini, tentunya penulis menyadari dalam ‘bingkai pengetahuan’ tentang Bali seutuhnya pastilah sangat minim. Namun, keberhasilan dalam pengembangan potensi wisata di Bali patut ditiru di tempat lain di Indonesia, Flores khususnya.

Baca Juga:  OPINI || Natal dan Rekonsiliasi Politik Pasca Pilkada

Flores memiliki potensi seni budaya yang sangat beragam. Tapi orang-orang Flores menganggap itu sebagai hal yang biasa. Padahal orang-orang luar menganggap itu sebagai hal yang perlu dikembangkan dengan konsisten

Pada fase seperti ini, hemat penulis, komodifikasi seni budaya untuk kebutuhan pariwisata bukan suatu kemunduran, melainkan salah satu upaya pelestarian aneka seni budaya yang ada di Flores.

Selanjutnya untuk mengelola potensi pariwisata ‘budaya Flores’ tentu perlu perhatian khusus. Salah satunya melalui sekolah sebagai wadah belajar yang ideal. Hemat penulis, pelajaran ‘muatan lokal’ perlu diajarkan untuk segala jenjang sekolah

Penguatan karakter dan nilai budaya itu menuntun kita ke arah yang lebih baik, benar, bertanggung jawab, menghargai, bijak, arif, ramah, menyenangkan di mana nantinya ada hubungan timbal balik yang selaras

“Mengangkat nilai-nilai budaya setempat dalam pengembangan pariwisata hal yang mutlak dilakukan. Flores menuju wisata premium, maka pariwisata dengan khas ‘budaya Flores’ wajib diperhatikan. Dengan memodifikasi budaya Flores ke dalam bisnis pariwisata, sebagai salah satu upaya pelestarian budaya itu sendiri dan berimplikasi pada kualitas pengalaman wisatawan”
Yohanes Budiono

Mengangkat nilai-nilai budaya setempat dalam pengembangan pariwisata hal yang mutlak dilakukan. Flores menuju wisata premium, maka pariwisata dengan khas ‘budaya Flores’ wajib diperhatikan. Dengan memodifikasi budaya Flores ke dalam bisnis pariwisata, sebagai salah satu upaya pelestarian budaya itu sendiri dan berimplikasi pada kualitas pengalaman wisatawan

Kedua; ‘Sistem pemerintah’ dalam mengembangkan potensi apapun (termasuk kebutuhan pariwisata) pemerintah daerah tetap sebagai pioner utama. Jika memperhatikan segala potensi yang ada di Bali, pemerintah setempat mengemas sedemikian rupa dengan ‘Pariwisata Sebagai Sektor Unggulan’

Pada fase ini orientasi pembangunan pariwisata di Bali dinilai sukses. Itu dibuktikan dengan capaian, bahwa Bali mampu menyumbang devisa terbesar setiap tahun dari sektor pariwisata. Tentu capaian itu tidak terlepas dari sebuah tatanan pemerintahan yang baik pula.

Jika dikaitan dengan Pulau Flores, memang wilayah ini memiliki potensi secara alamiah. Tetapi pengembangan pariwisata dengan penguatan nilai ‘Budaya Flores’ juga, jauh lebih penting diperhatikan oleh pemerintah. Tanpa sistem pemerintahan yang baik potensi Flores masih biasa-biasa saja. Maka perlu birokrasi yang cerdas, handal, inofatif dan kreatif untuk mengelola semua potensi yang ada.

Tentu semua kita punya harapan yang sama bahwa di tangan para pemangku kebijakan dan orang-orang professional inilah Flores dibentuk menjadi lebih mandiri.

Catatan: Tulisan ini sudah pernah tayang di Floresmerdeka.com (Edisi 27 September 2020)

Oleh; Yohanes Budiono; Penulis: Mahasiswa Fakultas Pariwisata, Universitas Triatma Mulya Bali

Komentar