Privatisasi Ruang Publik: Bentuk Civil Disobidiens?

  • Bagikan
Privatisasi Ruang Publik: Bentuk Civil Disobidiens di Manggarai
ILUSTRASI (Dok: republika.co.id)

Penulis| Hardy Sungkang*

RUANG publik didefenisikan sebagai ruang yang berfungsi untuk menampung aktivitas masyarakat, baik secara individu maupun secara kelompok, dimana bentuk ruang publik ini sangat tergantung pada pola dan susunan massa bangunan (Rustam Hakim,1987).

Ruang publik dalam konteks Penulis merupakan ruang fisik yang dapat diakses secara umum oleh siapapun yang merupakan bagian terintegral dari masyarakat. Ruang bebas gerak bagi semua orang.

Ruang publik secara fisik dapat dicermati dengan teliti seperti jalan raya, trotoar, lapangan dan ruang atau space lain yang pada hakekatnya diakses untuk umum.

Secara kritis dapat dilihat sebagai cela atau kebobrokan akal untuk memahami pemaknaan ruang publik, ketika ruang atau fasilitas publik dimanfaatkan atau diakses oleh pribadi tertentu dengan tujuan menjegal yang lain secara tidak melalui kekerasan untuk tidak menggunakan fasilitas tersebut.

Sebuah kesangsian, ketika ruang publik itu dikuasa oleh kapitalis dan pemangku kepentingan. Dapat dimungkinkan, konspirasi menuai membangun konsensus untuk menjegal ruang publik menjadi ruang privat.

Kesemrawutan Transportasi dan Parkir Pada Bahu Jalan

Menjadi soal, ketika hal ini digunakan untuk kepentingan komersial tertentu dan berdampak pada pengkerdilan hak yang lain untuk mengkasesnya. Tragisnya lagi ketika privatisasi itu terjadi pada ruang fisik seperti jalan raya dan trotoar.

Di Kabupaten Manggarai tampak dilihat tata kota dan penataan ruang menjadi amburadul. Hal itu bisa dinilai dari pemanfaatan ruang publik oleh pribadi tertentu, khusunya pada pusaran kota seperti di Pasar Ruko dan Pasar Inpres Kota Ruteng.

Ruang publik yang menjadi pusat pemanfaatan semua orang menjadi dibatasi oleh pemanfaatan pribadi tertentu. Penguasaan badan jalan yang digunakan sebagai lahan parkir oleh pengguna parkir legal maupun illegal merupakan proses nyata privatisasi ruang publik.

Jalan raya yang bisa digunakan oleh semua orang menjadi terhalang oleh pribadi-pribadi tertentu. Lantas, Siapakah mereka? Kroni atau kerabat? atau Civil Disobidiens (masyarakat pembangkang)?

Hampir ditemukan beberapa ruas bibir jalan raya di Kota Ruteng tampaknya sangat tidak elok dipandang. Apalagi hal itu terjadi di ruang kota atau tempat umum yang biasa dilalui oleh banyak orang. Tampak bahwa pengkerdilan ruang publik jalan raya semakin jadi-jadi.

Parkiran mobil dan motor secara liar di pinggir jalan pada akhirnya mengganggu stabilitas mobilisasi ruang gerak warga.

Beberapa toko, warung glontong, swalayan dan alfamart di Kota Ruteng tampak tidak memiliki temat parkiran kendaraan, sehingga menggunakan sebagian badan jalan untuk parkiran. Kemudian, parkiran mobil travel yang tidak teratur membuat pengguna jalan pada fasilitas publik semacam ini merasa terganggu.

Kenyataan kecil yang sangat memengaruhi tata ruang kota tersebut tentunya tidak koheren dengan prinsip bahwa ruang terbuka kota yang bersifat publik adalah ruang kota yang dapat diakses oleh aktivitas masyarakat umum.

Kemudian untuk mencapai pada tata ruang kota yang cukup signifikan, maka pemerintah diminta untuk mempertahankan beberapa faktor pencapaian dan sirkulasi yang berdasar pada kegiatan yaitu keterkaitan antara kawasan yang dihubungkan dengan sirkulasi dan transportasi (Whyte, 1980).

pemerintah Kabupaten Manggarai diminta untuk mengkaji kembali tata ruang kota untuk pemanfaatan fasilitas publik bagi kendaraan yang parkir secara legal dan illegal. pemerintah Kabupaten Manggarai juga perlu dengan sigap menemukan solusi yang konstruktif untuk menyediakan ruang (space) umum untuk bisa centralkan parkiran bagi pemilik kendaraan serta kedaraan pemilik toko dan pebisnis di pusat kota. Dengan demikian, aktivitas masyarakat menjadi tidak terganggu, terlebih khusus pejalan kaki dan difabel.

Tidak hanya itu, masih di Kabupaten Manggarai belum lama ini menampilkan suatu keseksian niat dan tujuan memanfaatkan ruang publik menjadi akses privat. Salah seorang pemilik toko atau dengan mudah disapa sebagai pebisnis komoditi, entah dengan tau dan mau menggunakan fasilitas publik (trotoar) untuk kepentingan pribadinya.

Sang pemilik tokoh Aneka Ruteng tersebut jika saya defenisikan, beliau sedang mengekspresikan hak untuk memanfaatkan ruang publik. Namun, suatu yang sangat keliru ketika niat itu dipertontonkan kepada publik dengan tujuan dan mungkin niat yang jelas bahwa ia sedang membunuh hak masyarakat Manggarai yang lain secara implisit, yang kemudian sebagai pelaku atau pengguna fasilitas itu untuk berjalan dan menghindar dari kepadatan jalan umum.

Entahlah, peristwa itu bukan menjadi sesuatu yang luar biasa benarnya ketika niat menggunakan fasilitas itu diterangkan kepada publik. Hal itu menjadi salah satu afirmasi atas opini konotatif masyarakat terkait kedirian sang pemilik tokoh yang mungkin memiliki pengaruh kuat terhadap eksistensi pemerintah Kabupaten Manggarai. Barangkali.

Penulis melihat dan menganalisis bahwa kejadian itu menjadi kejadian edukatif untuk masyarakat dan pemerintah ke depanya. Masyarakat semakin menyadari akan tujuan dan manfaat ruang publik serta memahami keterbatasan diri dalam memerangi sifat egosentrisme kita yang selalu menjadikan ruang publik sebagai tempat pemanfaatan hal privat kita.

Tidak hanya berlaku untuk parkiran, ditemukan banyak jalan raya yang bahkan diblok sekalian dengan jangka waktu tertentu untuk memanfaatkan ruang publik tersebut. Kenyataan ini sebetulnya menjadi tugas baru pemerintah Kabupaten Manggarai ke depan. Harus benar-benar membedakan mana ruang privat dan mana ruang publik.

Masih ditemukan ada masyarakat yang menggunakan ruas jalan raya mendirikan kema jadi untuk acara tertentu dan akhirnya gang tersebut diblokade dengan jangka waktu tertentu. Kenyataan ini menjadi tanda bahwa ruang publik kita di Manggarai sedang digerogoti oleh pengaruh kapasitas kekuasaan.

Logikanya adalah, apakah tidak ada fasilitas publik lain yang bisa digunakan oleh masyarakat atau apakah masyarakat Manggarai saat ini sedang menunjukan keakuan dirinya terhadap pemerintah tentang siapa yang menguasai jalan dan badanya. Atau barangkali mungkin pemerintah kita juga menunjukan kepada masyarakat bahwa peraturan ruang publik sedang lemah dan tidak memiliki standarisasi.

Mengutip purwanto (2008) dalam Jurnal Tata Loka, ruang publik harus dipahami secara universalitas. Artinya, penyediaan ruang publik harus dipertimbangkan berbagai kelas dan status kebutuhan masyarakat yang mencerminkan pemenuhan kebutuhan seluruh lapisan masyarakat baik kelas atas sampai bawah, dari yang normal sampai yang difabel, dari anak-anak sampai dewasa dan pria maupun wanita.

Lebih terang beliau mengungkapkan bahwa ruang publik seyogyanya adalah ruang yang selalu menghargai perbedaan masyarakat. Karena itu, pada intinya ruang publik walaupun diakses oleh semua manusia, tetapi tetap mengikuti norma atau aturan tertentu yang tidak dapat merugikan kepentingan umum.

Filsuf modern, Jurgen Habermas membagikan ruang publik dua yaitu, (1) sebagai ruang publik (public space) dan (2) ranah publik (public sphere). Bagi Habermas, dalam pemahaman ruang publik, maka lapangan dan jalan menjadi bentuk fisiknya, sedangkan ranah publik adalah sekumpulan media massa seperti surat kabar, televisi, dan internet sebagai komponen yang demokratis (Dedi Hantono1 , Nike Ariantantrie2, Jurnal Arsitektur, Bangunan, & Lingkungan, vol.8)

Bagaimana privatisasi ruang publik dilakukan?

Pertanyaan ini muncul dalam benak saya ketika sudah hampir begitu banyak yang belum memahami peran ruang publik untuk civilnya. Kemudian, ruang publik bukan berarti ruang mengekspresikan segala tindakan atau ego privatnya kita, lalu lupa untuk yang lain.

Ruang publik kita sebenarnya sedang dihadapkan dengan sebuah kekacauan atau bisa diklaim sebagai caos akibat ketidak terurusnya fasilitas ini dan lupa untuk menata tata ruang kota.

Ruang publik menjadi privat ketika pemanfaatan itu dilakukan untuk kepentingan pribadi kemudian lupa yang lain telah menjadi korban atasnya. Poinya adalah ruang publik ingin menunjukan kepada masyarakat agar pemanfaatannya disesuaikan dengan keberadaan yang lain.

Penulis menyumbangkan beberapa poin solutif alternatif untuk perubahan pemahaman masyarakat akan pentingnya merawat ruang publik dan bagaimana asas pemanfaatannya.

Pertama, bagi masyarakat pengguna jalan raya sebagai tempat parkir agar dengan perlahan menyediakan lahan parkir anda sendiri. Kemudian, kurangi mobilisasi kendaraan pada akses fasilitas umum. Jika jarak tempat bisnis anda dekat, maka tinggalkan kendaraan anda pada garasi rumah. Sementara untuk pekerja atau buruh pada perusahaan anda, agar dihimbau untuk mencari tempat parkir yang diakui secara publik.

Kedua, kepada pemerintah Kabupaten Manggarai, Penulis mengusulkan agar segera mensosialisasikan kepada masyarakat Manggarai, terlebih khusus pengguna jalan sebagai manfaat pribadi, agar segera mengubah mindset berpikirnya akan pentingnya menghargai ruang publik sebagai ruang umum.

Ketiga, pemerintah semestinya mencari solusi untuk menyiapkan salah satu fasilitas publik yang khusus digunakan untuk central parkiran kendaraan yang masuk pada pusat kota. Karena demikian, tata ruang kota dan mobilisasi masyarakat menjadi bebas dan tidak terhalangi.

Dengan demikian, niat dan tujuan tercapainya kota Ruteng sebagai “kota molas” menjadi terwujud dengan kesadaran masyarakat dan sinergitas pemerintah. Salam perubahan.

***

**)Vinsensius Hardy Sungkang adalah Penulis buku kumpulan opini berjudul Berdamai dengan relaitas? Dan Penulis buku kumpulan puisi Saulus. Pernah menulis di berbagai media cetak dan online. Peminat sastra dan isu politik. Saat ini berdomilisi di Ruteng

Catatan Redaksi: opini pada kolom ini merupakan pandangan pribadi Penulis dan sepenuhnya menjadi tanggungjawab Penulis, tidak mewakili redaksi letangmedia.com

  • Bagikan
error: Content is protected !!
Kirim Pesan Sekarang
Trima kasih dan selamat datang di letang
Hallo...
Trima kasih dan selamat datang di letangmedianews.com.
Silahkan kirim pesan untuk pertanyaan iklan produk & perusahan,
penulisan profil prusahan, bisnis, serta kerja sama, dll
Salam dan hormat kami
Letangmedianews.com.