oleh

Tentang Ibu || Kumpulan Puisi Cici Ndiwa

Cerita Ibu

Aku menyukai segala cerita ibu
yang tanpa penyedap rasa,
acapkali kehabisan di dapur rumah,
namun tetap sedap didengar,
tetap runut diingat
pun tetap kukuh ditiru.

Aku meminta ibu bercerita
ditemani secangkir kopi pahit dan teh melati
dengan pendengar yang turut setia mendengar cerita ibu
tentang ibunya dan hidupnya.

Aku mengamati wajah ibu,
ada noda-noda hitam dan
kerutan di sudut matanya.
ibu semakin tua,
pun renta.

Diwariskan cerita-cerita itu
dari ibunya ke ibu, lalu aku
yang kelak menjadi ibu
menceritakan itu kepada
anak-anakku.

Ruteng, Januari 2021

Sebuah Kotak di Dapur

Adalah tempat segala kenangan bertumbuh
lalu mati pada suatu waktu
untuk menjadi rindang.
merunduk nan padi
dengan segala isyarat yang disampaikan ibu
kepada kakek dan nenek pada suatu masa
ketika batu dijadikan alat tukar
demi mendapat beras yang akan dicampur ibu
dengan jagung giling.
agar indah dilihat dan mengenyangkan lebih lama
jika ibu menanak nasi di pagi hari
diambilkannya delapan gelas takar
ditampahnya tujuh gelas,
disimpannya segelas pada sebuah kotak rahasia ibu di dapur
yang akan diberikannya kepada kakek dan nenek
jika batu di kebun belum terjual,
atau tak ada yang memanggil kakek membetulkan kursi kayu,
genteng bocor atau membangun rumah kayu para tetangga.

Baca Juga:  Kepekaan Pemimpin

Ruteng, Januari 2021

 

2014

Ketika aku tersesat dalam hidupmu
Tak kau berikan aku jalan untuk pulang
Kembali kepada ibu.

Ibu mencariku
di taman kota, perpustakaan kampus dan ruang Agustinus
Ia menemukanku sedang mencari jalan pulang
dari hidupmu.

Lalu, engkau menghampiri ibu
dan memintaku
Memintal rindu dan menjahitnya menjadikan dinginku
alasan segala rumput yang tumbuh subur oleh air mata
dan tulang belulangku yang membuat kokoh tiang rumah.

Dari hidupmu
Ibu memintal dirinya sendiri
Menjahit dari dagingnya sendiri
Untuk menggenapkan hidupku kembali

Baca Juga:  Perluas Penafsiran 'Ucapan Selamat Natal'

Ruteng, Januari 2021.

Penulis: Cici Ndiwa

 

(*) Cici Ndiwa, menetap di Ruteng dan bekerja di STIE Karya.
Telah menerbitkan buku Kumpulan Puisi Penyair bukan Kami (2018) 
dan dapat ditemui di blog pribadinya: (cicindiwa.blogspot.com).
Tahun 2020
puisinya terpilih dalam Program Penulisan Puisi
Kemanusiaan yang
bertemakan Pekerja Rumah Tangga
dan Perdagangan Manusia
yang diselenggarakan
oleh JPIT

Komentar