Tentang Kehilangan, Harapan, Cinta dan Rindu || Antologi Puisi: Nanda Saputri

Antologi Puisi Tentang Kehilangan, Harapan, Cinta dan Rindu
Antologi Puisi Tentang Kehilangan, Harapan, Cinta dan Rindu (Foto Ilustrasi/Sumber:puisibijak.com)

Surat Rindu

Matahari mulai tenggelam di ufuk Barat
Menghilang di bawah garis cakrawala
Tergantikan cahaya rembulan 
Rembulan purnama yang begitu syahdu

Malam pun semakin larut
Rembulan kini berada di tengah awan
Sinarnya yang tak pernah hilang
Membawaku  dalam suasana indah. Kata tak mewakilinya. 

Bahagia dan sedih beradu menghampiriku.
Aku tertegun dalam pikiran yang berkecamuk
Bayang-bayangmu selalu terlintas disanubariku
Merasuk dalam pikiran yang kelabu
Membawaku terjerumus dalam kesunyian malam

Sunyi malam mencipta sendu
Semilir angin mengingatkanku padamu
Mengenang kamu yang selalu punya cara membahasakan cinta
Mengusir rindu.

Di sini ku-bertanya.
Saat ini kamu di mana?
Akankah, kamu kembali?
Kembali merawat cinta
Menghempas rindu.

 

Hujan dan Kenangan

Gemercik air menciptakan melodi indah
Sunyi yang tak bisa diartikan seperti biasanya.

Aku diam merenung  bersama pikiran yang penuh kenangan
Kilatan petir yang berdengung menggetarkan jiwa
Juga tak kunjung membuatku sadar
Tentang dia yang benar-benar telah pergi.

Terjatuh dalam kenangan mengukir rindu
Tenggelam lalu terhanyut dalam lautan rindu
Bak aksara tanpa kata
Yang meraung-raung di dalam jiwa

Kisah-kisah itu, hujan menjadi saksi
Dari semua kenangan yang tak pernah terlupakan
Sepotong episod kehidupan yang begitu bermakna
Adalah cerita indah tertata rapi dalam memori.

Dulu, adalah cerita indah. Sekarang jadi kenangan lara.
Dulu seperti daun hidup yang setangkai 
Tak pernah terpisahkan
Kompak jiwa dan raga, juga saling menjaga
Kini, satu dari daun itu, jatuh entah kemana.

Rintik rindu menyayat hati
Walau mengalir bersama deras air hujan
Kenangan itu selalu terpatri.
Kau akan selalu ku kenang.

Rasa Kehilangan

Pagi ini begitu cerah,
Namun, saling bertolak dengan suasana hati
Perasaan hati yang kelabu dan hampa

Aku sudah berusaha untuk mengikhlaskan
Dalam lubuk hati yakin, ini adalah takdir Maha Kuasa
Akan tetapi, mengapa hati ini masih terasa sedih dan hampa
Kala mengingatnya dan tak ada lagi ia di sisiku

Senyum di bibirmu selalu terlintas di benakku
Hampa rasanya, kini tak bisa lagi melihat senyum itu
Kasih sayang dan nasihat-nasihat yang selalu kau berikan selama ini
Akan selalu ku ingat sampai kapanpun
Walaupun kini ku-tidak bisa mendapatkan itu lagi

Ooh… ternyata, inilah sebuah rasa yang dinamakan kehilangan
Tak pernah terbesit dalam benakku,
Aku merasakan itu dalam waktu yang begitu cepat.
Kaget, tak menyangka, kehilangan… itu lah yang kurasakan

Hari itu, ku-masih tak percaya jika memang engkau sudah pergi
Aku yang tak tahu apa-apa, seketika hati ini makin bergemuruh
Saat tiba-tiba banyak orang yang satu persatu berdatangan
Hatiku hanya bertanya, ada apa? Kenapa?

Kaget dan merasa tak percaya, jika ternyata.
Engkau pergi untuk selamanya dan tak akan pernah kembali
Dengan menangis pun percuma, tidak membuatmu bisa kembali lagi

Namun, kini ku-telah sadar
Tak sepantasnya ku-seperti ini
Dia sudah bahagia di sana
Aku sayang padanya, namun pemilik cinta abadi lebih menyayanginya

Kini, di sini, syair-syair doa terus kulantunkan
Mengambil hikmah dan mengiklaskan kepergiannya
adalah kunci dan kepastian saat ini.
Selamat jalan, kuatkan diriku dari Jannah-Nya

 

Baca Juga:
PUISI: Teruntuk Pemilik Hati yang Kokoh
Ilustrasi

Bagiku, kaulah pemilik senyum indah itu. Senyum yang membangkitkan, senyum yang menuliskan hârâpan. Bagiku kaulah permata, Permata yang selalu menata hati Read more

PUISI ILAK SAU || Cerita Waktu
Penulis: Ilak Sau

Hari demi hari terlewati dengan ukiran Menunggu raja menanti keberhasilan Penaku telah bersaksi Hingga Membuat jejak dari akhir perjuangan   Read more

Demokrasi dalam Segelas Kopi
Ilustrasi

Demokrasi akan berhasil bila Pancasila menjadi referensi. Demokrasi yang demokratis, bukan kegaduhan menentang Pancasila. Demokrasi itu tidak benar, bila diperjuangkan Read more

PUSISI ERLIN || Pasrah
Erlin

Jika hujan datang membasahi bumi dan menyejukan musim panas Lantas siapa yang akan datang menyejukan hati yang sedang terbakar api Read more

Kampung Mati
Kampung Mati

LETANG MEDIA.COM-Pria itu mengendarai sepeda motor. Badannya seperti mengigil tak henti, sum-sum tulangnya seperti lupa untuk kembali normal, saat melintasi Read more

Permainan Tradisional Dalam Membentuk Karakter Anak

LETANG MEDIA.COM-Pada tahun 2012 koordinator Yayasan Sahabat Kapas, Dian Sasmita mengatakan kecanduan anak-anak pada game online seperti kecanduan pada narkotika, karena ketika Read more