oleh

Teruntuk Belahan Jiwa, Doa dalam Diam Caraku Menanti dan Mencintaimu

PUISI:
Teruntuk Belahan Jiwa,
Doa dalam Diam Caraku
Mencintaimu

Penulis| Albertina Meo

Diam adalah Bisuku Sendiri

Memandangmu terlalu indah bagiku
Sampai benakku tak mampu lagi mengungkapkan rasa
Mungkin adalah kata terbaik untuk melukismu
Kau terlalu sempurna menurut benakku
Sampai akhirnya, anganku tak mampu lagi
lebih jauh untuk bermimpi
Bahkan merindukanmu
Karena bagiku dirimu serasa sangat jauh denganku
Kau kelihatan terlalu hebat bagiku.
Sampai langkah kakiku terus saja tertinggal jauh darimu
bahkan aku hanya mampu melihatmu dari belakang
sembari berdiam
Kau terlalu jauh dariku
Itulah mengapa aku pun terdiam sekarang
Diam dalam ruang pribadiku
Bahkan hatiku sedikit teriris pedih
Mengatakan sebuah beban dan harap
Yang tertulis dalam goresan kepalaku
Inginku sederhana saja
Aku ingin kau bahagia, bahagia dengan caramu sendiri
Aku ingin kau lebih dengan apa yang kau miliki sekarang
Dan aku ingin menjagamu dalam setiap langkah hidupku
Yang kau pijak, dan bahkan aku ada untukmu
Caraku menjaga dan memandang mu
Adalah dalam diamku yang bisu
Karena aku tahu, menjaga adalah cara seseorang agar tetap nyaman
Aku diam karena aku ingin kau tetap nyaman
Nyaman dengan caramu sendiri
Ingin sekali ada hembusan bahagia
Yang belum aku dapatkan darimu
Mungkin ini adalah takdirku
Dari semua caraku, meretas kerinduan padamu
Yang tak mungkin terjadi untuk kedepannya
Memelukmu dalam satu kehangatan yang berbeda
Karena binar mataku dan kamu sangat berbeda
Apakah kau tak sadari itu?
Aku diam karenamu bisuku karena jauhmu dariku
Kamu akan selalu ada dan tinggal dalam hatiku, air mataku,
Dan dalam ingatanku, jadikan aku sebagai bahagiamu,
Karena diamku dan bisuku sangat buruk untuk dipandang olehmu

Baca Juga:  Kumpulan Puisi Karya Cici Ndiwa

Cinta yang Terukir Dalam Doa

Alunan suara malam dalam lamunan
Tentang keindahan bersama khayalan
Kini aku terpana dalam harapan yang tinggi
Akan masa indah yang penuh kedamaian bersamamu
Kuraba hatiku, bahkan kumerindukan sosokmu

Engkau yang tak pasti akan kutemui dalam senandung malamku
Mencoba menerka dalam hati
Tentang rasa yang bersemayam dalam hati yang terdalam
Tiada yang mampu aku ucapkan dalam benaku
Tiada yang bisa aku ucapkan lewat perkataan
Untuk mewakili rasa yang terpendam
Bersama penantian denganmu

Baca Juga:  Sedih dan Sekedar Mengenang || Natal Kali Ini Aku Tidak Melihat Kebiasan itu

Biarkan cinta ini tumbuh dalam pengabdian melalui suara malam
Dan lewat lamuan indah malamku
Mencintai dalam balutan doa yang indah
Karena penjagaanmu tak pernah berujung dengan kecewa
Namun semua akan terpapar nyata
Dan akan indah pada waktunya

Kuyakin Engkau akan mempertemukanku dengannya
Dalam ikatan penuh bahagia, melalui suara suci malam
Menjelmakan satu rasa yang kusebut cinta
hingga satu dalam ikrar janji di altar-Mu
bersatu mendayung bahtera kehidupan
Yang kuharap tidak hanya di dunia
Namun berujung surga bersamamu

Belahan Jiwaku

Sekuntum kelopak rasa
Wangi yang pernah ada dalam nafas
Bukan rindu, tapi berharap temu
Bukan hasrat, tapi mendekat
Semua begitu lembut menggoda dalam sunyi dan riuh

Ketika hilang belahan jiwa
Hilanglah separuh nafas yang menjadikan aku tegar
Berkelana mencari jiwa, terdesak dalam emosi, lalu terkapar lemah
Kau tahu? bagaimana caraku bangun dengan separuh nafas?
Kucari serpihan embun
Dalam sisa tangisku dan mengiba
Ke langit putih yang cerah
Dalam malam kutemukan kerlap kerlip bintang
Mencumbu desah resahku
Aku tertidur pulas dalam pangkuan cahayanya.

Baca Juga:  Cerpen: Pada Sebuah Pulau Sunyi

Beristirahatlah aku dalam segala keluh
Dan kini kurasakan ada sedikit tenaga untuk menopang
Kaki dan rasa yang pernah lelah
Aku berjalan meski dalam sunyi dan gelap
Hingga di ujung waktu
Kuharap kau selalu ada, wahai belahan jiwaku.

Baca Juga:

  1. Puisi Hujan Malam Minggu: Antara Aku, Rindu dan Cinta Tuhan || Kumpulan Puisi Redemptus
  2. Kumpulan Puisi Feliks Hatam || Aku Mencintai Seperti ini
  3. Jangan Ada Dukun di Antara Kita
  4. Cerpen: Suamiku Bukan Pastor Parokiku

*)Penulis adalah mahasiswi ilmu komunikasi, kosentrasi Jurnalistik, semester 4 di Universitas Katolik Widya Mandira Kupang

Komentar