Valentine dan Harapan: Surat Dari Rakyatmu, Keterkungkungan Ini Rasanya Seperti “Terpenjara”

  • Bagikan
Inilah beberapa Potret pembangunan bukti kami masih tertinggal (Foto: Facebook)

SURAT ASPIRASI
Valentine dan Harapan:
Surat Dari Rakyatmu, Keterkungkungan Ini
Rasanya Seperti “Terpenjara”

Penulis | Feliks Hatam

//1//’From Your Valentine’
Konon sebelum dihukam mati Santo Valentine menulis ‘From Your Valentine‘ untuk Putri seorang penjaga penjara yang adalah temanya.

Perjalanan panjang kisah Valentine, sehingga ditetapkan tanggal 14 Februari sebagai hari valentine atau hari kasih sayang.

Hari yang istimewa, 14 Februari, kasih sayang menjadi tema utama. Namun demikian, kasih sayang, tidak hanya dilakukan pada hari itu saja. Kasih sayang selalu disuburkan setiap waktu.

Bila 14 Februari itu tiba, syair doa dilantunkan, kelak rasa saling sayang selalu tumbuh subur di hati, nyata dalam setiap aksi, dan tentunya lebih baik dari hari sebelumnya.

Ekspresi dari syair-syair batin itu melalui bunga, coklat, dan kata-kata romantis dan lain sebaginya.

Hari ini bertepatan dengan hari Valentine, kepada “Tuan” yang memiliki kuasa dan wewenang mengetuk palu kebijakan saya mengucapkan selamat hari kasih sayang dengan sejuta harapan yang kutuliskan “dari rakyatmu”

//2// Surat “Dari Rakyatmu”.

Mungkin kita sepakat hari ini adalah hari istimewa. Sikap dan tindakan kasih dievaluasi. Pasalnya nilai kasih sayang selalu dilakukan setiap waktu.

Keistimewaan hari ini terutama pada syair doa dan syukur, evaluasi sikap kasih atau sejauh mana kasih sayang ditaburkan kepada sesama. Tentu juga ada harapan, kelak ekspresi kasih sayang itu selalu lebih baik dan semakin nyata dari hari sebelumnya.

Hal yang sama, saya lakukan, tetapi bunga dan coklat yang kuberikan kepada segenap pengambil kebijakan dihari spesial ini adalah syukur dan harapan.

Sumber Foto: Akun Facebook/Silvester Adil Dala

Bersyukur atas kasih dan sayang yang telah diterima oleh rakyatmu melalui berbagai program.

Diikuti dengan harapan, kelak rakyatmu yang terpenjara oleh berbagai ketertinggalan dari beberapa aspek pokok, seperti jalan raya, listrik dan akses jaringan segera dibebaskan.

Isi surat dari rakyatmu, dihari istimewa ini adalah harapan
Aku rakyatmu di sini berharap untuk:

Dibebaskan dari ketertinggalan akses transportasi.
Dibebaskan dari penderitaan oleh jalan raya yang jauh dari kelayakan.
Dibebaskah dari lumpur saat aku mengemudi, sebab jalan yang kulalui tidak hanya berbatu, tetapi juga penuh lumpur dan berlubang.

Dibebaskan dari miskin informasi sebab akses jaringan komunikasi dan internet belum merata. Semakin terpenjara oleh belum adanya listrik.

Dari rakyatmu,
Tidak ada bunga dan coklat yang dapat kuberikan. Tetapi tanggungjawab dan kewajiban sebagai anak negeri melalui berbagai aspek semisal membayar pajak, menjaga ketenteraman, mengikuti pemilu, ikut membangun negeri dalam ketertinggalan ini dan lain-lain selalu menjadi bunga dan coklat yang jauh lebih bermanfaat dan selalu menarik untuk dikisahkan dan diteruskan kepada anak cucu kami.

Pada hari kasih sayang ini, rakyatmu ingin mengatakan dengan jujur bahwa, oleh ketertinggalan dari berbagai aspek aku seperti terpenjara.

Aku terpenjara oleh belum adanya jalan raya.
Aku terpenjara oleh miskinnya akses informasi,
sebab di sini, aku belum dapat mengakses jaringan komunikasi dan internet.
Aku terpenjara, sebab pelita yang selalu menerangi malam.
Aku terpenjara oleh lelah yang tidak pernah selesai memikul hasil bumi ke pasar.
Sungguh aku terpenjara.

Disaat aku melangkah maju untuk membangun ekonomiku dengan potensi alamku di sini serasa “ditindas bahkan tertindas” oleh ketertinggalan ini.

Aku tidak sedang membandingkan keadaan di tanah kelahiranku dengan keadaan di kota tentang begitu mudahnya mereka melangkah, begitu mudahnya mereka mendapat/mengakses informasi, begitu mudahnya mereka menjual hasil bumi ke pasar, begitu mudahnya anak sekolah mendapat informasi apalagi saat belajar online saat ini.

Sumber: Akun Facebook: Febianus Ngete

Sementara, aku di sini, oleh ketertinggalan akses transportasi dan jaringan komunikasi serta listrik selalu menjadi barisan paling belakang oleh ketertinggalan ini. 

Kadang aku berpikir, ini tertingaal atau memang ditinggalkan. Sebab kisah dan kenyataan derita ini serasa warisan yang terus dialami oleh setiap generasi di tanahku. 

Keadaan ini seperti warisan yang tidak kunjung putus.
Ketertinggalan ini seperti tradisi yang tidak pernah hilang setiap generasi.
Kesengsaraan yang diciptakan ini tidak pernah berlalu.

Dari rakyatmu,
Kenyataan memikul hasil bumi ke pasar dengan mengandalkan tenaga manusia adalah benar-benar ada dan masih terjadi.

Tentang mayat digotong, karena tidak bisa melewati sungai dikala hujan, melewati hutan dan bukit karena tidak ada jalan raya selalu menjadi kisah pahit setiap generasi di tanahku.

Dari rakyatmu,
Memanggul dan menandu orang sakit melewati perbukitan hutan belantara, kesulitan akses jaringan oleh rakyatmu, anak sekolah dan guru selalu menjadi nyata di tanah kelahiranku

Dari rakyatmu
Guru menenteng sepatu berkilo meter, tenaga medis berjalan kaki demi menolong yang sakit, kotak suara dikala pemilu selau dipikul demi Negara adalah cerita yang tidak pernah selesai sejak dahulu.

Dari rakyatmu
Penumpang teriak histeris karena takut dan cemas oleh jalan raya yang tak layak.

Mobil dan motor yang seharusnya aset masyarakat untuk memudahkan segala aktivitas selalu disulitkan oleh kondisi jalan raya yang parah.

Tidak jarang para sopir bergulat dengan maut melewati jalur “neraka” yang mengancam nyawa penumpang dan sopir itu sendiri.

Sumber Foto: Akun Facebook/Florianus Tauk

Itulah kenyataan rakyamu di sini. Cerita ini tidak pernah selesai, dan mungkin akan selalu menjadi kenyataan pahit untuk generasiku selanjutnya, bila tak ada tangan yang berani mengetuk palu kebijakan untuk kami di sini.

Dari rakyatmu.
Di sini, kado kasih sayang itu selalu kuantikan sejak zaman nenek moyangku.
Sejak zaman itu hingga hari ini, masih pada harapan yang sama.
Harapan akan kasih sayang dari mereka yang kupanggil “tuan”

Ket: Demi mendapatkan jaringan internet yang stabil, Yakobus Gandur, operator pada SMP Negeri 4 Kuwus, Kabupaten Manggarai Barat, NTT harus rela pergi ke hutan (Sumber: derana.id/Silvester Yunani)

Dari rakyatmu,
Ketertinggalan ini membuatku terpenjara oleh berbagai keterbatasan akses.
Di sini, kuberharap untuk bebas dari keterkungkungan ini.

Seiring menanti kado itu, aku rakyatmu yang sedang terpenjara oleh ketertinggalan pembangunan itu mengucapkan Selamat hari kasih sayang.

Demikian surat dari rakyatmu dihari kasih sayang ini untuk dipertimbangkan dengan segenap cinta, diputuskan dengan penuh rasa sayan dan direalisasikan seganap hati.

Baca Juga:  Cinta Tanpa Kata, Sejak Pagiku Hingga Juni Menepi || Antologi Puisi Ayu Alexandra

 

  • Bagikan
error: Content is protected !!
Kirim Pesan Sekarang
Trima kasih dan selamat datang di letang
Hallo...
Trima kasih dan selamat datang di letangmedianews.com.
Silahkan kirim pesan untuk pertanyaan iklan produk & perusahan,
penulisan profil prusahan, bisnis, serta kerja sama, dll
Salam dan hormat kami
Letangmedianews.com.