Wae Tana adalah Kampung Halamanku: Selalu ada Rindu untuk Tanah Tumpah Darah

  • Bagikan
Panorama Kampung Wetana (Gambar: Screenshot dari Google Maps/6/1/2021)

LetangInspirasiKampung-Alamnya yang masih asli, hijau nan sejuk, masyarakatnya yang ramah dan pekerja keras, agama dan budaya terdapat di kampung halamanku. Wae Tana adalah kampungku, terletak di Desa Golo Sembea, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Propinsi Nusa Tenggara Timur.
Penduduk di kampung Wae Tana bermata pencaharian sebagai petani dengan potensi unggulan kemiri, coklat, pinang, porang, dan jenis kayu produksi yang tumbuh segar dan menjanjikan yakni mahoni, dan lain-lain.

Panorama Kampung Wae Tana (Gambar: Screenshot dari Google Maps/6/1/2021)
Kampung Wae Tana (Gambar: Screenshot dari Google Maps/6/1/2021)

Ketika berbicara tentang kampung, maka alam merupakan aspek yang tidak luput dari perhatian, begitupan dengan alam kampung Wae Tana yang sampai saat ini masih asli dan arsi. Kampung Wae Tana memiliki topografi berbukit-bukit, dan di ujung kampung terdapat lapangan bola kaki dan bola voli.

Selama perjalanan menuju kampung ini, baik dari kampung Leka (Desa Golo Sembea) maupun dari Ngaet dengan melewati kampung Ka’ung (Desa Golo Lujang) kita akan berjalan di bawah rimbunan pepohonan, benafas lega dari kesejukan alam, sembari mendengar kicauan burung.

Bila dari Ruteng atau Labuan Bajo, cabang  menuju kampung ini adalah di Golo Menes. Dari Golo menes akan melewati kampung Muntung-Tondong Raja dan Leka. Nah, sampai di Leka, akan berhadapan dengan gunung Golo Sembea. Lalu kita akan berjalan kaki melewati gunung itu, di tengah hutan yang masih arsi itu kita melawati bukit-bukit kecil dan lembah. Sampai di puncak, kita dapat melihat dengan rapih dan jelas kampung-kampung di kecamatan Mbeliling, dan beberapa kampung di kecamatan Boleng.

Jalan Menujua Wae Tana (Gambar: Screenshot dari Google Maps; 6/1/2021)

Sebenarnya bisa menggunakan kendaraan roda empat dan roda dua dari Kampung Leka. Sebab kenyataanya beberapa masyarakat Wae Tana yang sudah terbiasa mengendarai sepeda motor sampai ke kampung Wae Tana, baik musim hujan apalagi saat musim kering. Karena memang pada tahun 2015 silam jalur Leka sampai di Wae Tana dibuka (digusur) pertama kali, hingga sampai saat ini belum ada peningkatan.

Disarankan bagi pemula, sebaiknya jalan kaki saja, kecuali kalau musim kering. Tetapi bagi mereka yang suka olah raga motor trail atau untuk event adventure trail atau traveling menggunakan motor trail  medan ini sangat cocok.  Bahkah sampai di Kampung Wae Tana mereka akan disapa oleh padang alang-alang. Padang alang-alang yang berbukit-bukit itu juga akan menguji adrenalin bagi pencinta olah raga motor trail.

Jalan Menuju Kampung Wae Tana (Gambar ini diambil Saat musim Kering 2020)

Halnya ketika Anda datang dari Terang (Kecamatan Boleng) atau datang dari Pacar, cabang menuju kampung ini adalah di Ngaet dengan melewati kampung Ka’ung (Desa Golo Lujang). Sesampai di Ka’ung Anda akan memiliki gambaran tentang medan dan pemandangannya. Sebab dari kampung Ka’ung Anda akan melihat kampung Waetana. Bedanya adalah, ketika dari Ka’ung kita melewati sungai dengan diameter kalinya yang luas. Masyarakat setempat menamakannya Wae Dampul.

Sampai di kaki bukit, perbatasan hutan lindung dengan kebun masyarakat Wae Tana, kita dapat melihat keindahan pohon kemiri dan pohon Mahoni yang ditanam dengan rapi. Dari tempat yang sama kita akan melihat hamparan alang-alang dan sawah dengan keindahan yang luar biasa. Pemandangan dengan warna hijau itu memanjakan mata kita.

Saat tiba di kampung Wae Tana, kita akan dikelilingi oleh gunung-gunung, disambut dengan pemandangan alam kampung yang asri, pagar indah yang rapih, dan beberapa rumah panggung,  serta ditengah kampung terdapat compang, di bagian utara kampung terdapat lapangan, 100 meter dari lapangan itu teradapat kuburan.

Kampung Wae Tana (Foto ini dimabil pada 31/12/2020)

Selain itu, kampung Wae Tana juga menyediakan keindahan air pancuran. Walaupun saat ini sudah ada air keran, namun mata air yang berada di ujung kampung (bagian selatan) merupakan sumber air utama yang sudah dimanfaatkan oleh masyarakat Wae Tana secara turun temurun, dan air ini selalu terselip ceritera-ceritera indah.

Sementera keindahan lain adalah di bagian Timur kampung Wae Tana. Sekitar 20 Meter dari pemukiman warga terdapat kapela sebagai tempat ibadah umat Katolik dan sungai yang digunakan oleh masyarakat setempat untuk berbagai kebutuhan. Mereka menamakannya Wae Lamas.

Dari Wae Lamas, kita berjalan kurang lebih 500 Meter. Nah, di sinilah kita akan melihat hamparan alang-alang. Di antara hamparan itu, ada dua bukit kecil yang menakjubkan, yaitu Golo Wonot dan Wontong Wase.

Kita berdiri di Puncak Golo Wonot, dari sana, kita akan melihat wilayah Lembor, melihat keindahan kampung Wae Tana, dan melihat hamparan alang-alang yang ada di Wae Tana dan melihat kampung Ka’ung, serta pemamdangan alam lainya yang hijau dan mempesona. Begitupun ketika kita berada di puncak hamparan alang-alang Wontong Wase.

Hamparan alang-alang di bagian Timur Kampung Wae Tana (Screenshot dari Google Maps; 6/1/2021)

Ketika Anda bermalam di Wae Tana, tidak boleh malu apalagi sungkan, sebab masyarakat di kampung ini ramah dan akan melayani dengan segenap hati. Namun ada beberapa hal yang harus diketahui pertama:  Sampai saat ini kampung kecil ini belum masuk PLN, beberapa masyarakat di sana menggunakan pelita dan tenaga surya, dan beberapanya lagi menggunakan mesin genset. Kedua, sampai saat ini di kampung ini jaringan komunikasi belum bisa diakses secara bebas. Hanya ada ditempat tertentu.

Walaupun masih jauh dari kata kemajuan seperti akses jalan raya, listrik dan jaringan, namun semangat untuk mengeyam pendidikan dan merantau mengais nasib mengadu rejeki anak-anak dari kampung ini tidak pernah pudar. Begitupun dukungan para orang tua. Setiap tahun selalu ada yang masuk dan tamat, mulai dari jenjang SD s/d Perguruan Tinggi.

Diketahui bahwa, di kampung ini, tidak ada Sekolah, maka anak-anak usia sekolah Dasar dari kampung ini, harus ‘merantau’ ke kampung tentangga, sebut saja Tondong Raja.  Di Tondong Raja mereka mengeyam pendidikan Dasar, mereka yang masih belia (7 tahun)  harus rela meninggalkan orang tua demi masa depan, melalui pendidikan. Di sana (Tondong Raja) mereka tinggal di keluarga, dan bila hari Sabtu tiba, saat pulang sekolah, mereka kembali ke kampung halaman untuk mengobati rindu dengan bapa dan mama serta keluarga. Lalu hari Minggu, mereka kembali lagi ke Tondong Raja.

Kaki mungil mereka seakan melangkah dengan pasti, tidak sedikitpun mengeluh melewati hutan lindung itu. Ayunan daun-daun dan kicauan burung menjadi saksi perjuangan dan harapan mereka. Seakan di setiap kaki mereka melangkah ada harapan, kelak para pengambil kebijakan, menaburkan kebijaksanaan di tanah ini, di kampung ini, dan di gunung ini dengan meninggkatkan status jalan itu yang menghubungkan dua kecamatan, yakni kecamatan Mbeliling dan kecamatan Boleng dengan jalur melewati Golo Menes (Jalan Negara) –Muntung-Tondong Raja-Leka-Wae Tana-Ka’ung dan Ngaet (Jalur Terang-Ruteng)

Tampah Anak-Anak sedang Pulang ke Kampung halaman ( Foto ini diambil pada hari Sabtu, Tahun 2019)

Bukan mengadu atau menyesal tentang mengapa kami ada di sini. Sebab alam di kampung ini membuat kami berani bersyukur tentang kenyataan ini. Banyak hasil dari bumi ini yang kami nikmati. Hasil bumi di kampung ini ujung tombak kami mempertahankan hidup. Hasil alam di sini jalan merubah nasib kami. Walau selalu mengandalkan tenaga manusia untuk membawanya ke Pasar.

Pendapatan kami di sini, tidak hanya tergantung pada hasil panen, tetapi keutungan kami tergantung pada kemampuan kami untuk membawanya ke Pasar. Memikul hasil bumi dengan mengandalkan kekuatan fisik bukanlah salah satu cara, tetapi satu-satunya cara untuk menjual hasil bumi. Tidak ada cara lain.

Kami dan anak-anak kami tidak pasrah apalagi putus asah. Sebab setiap tetesan embun di hari Rabu saat kami hendak ke Pasar menjual hasil bumi, selalu ada harapan. Kelak setiap pergantian nahkoda di negeri ini mulai dari Kabupaten-Propinsi hingga Pusat merubah harapan kami menjadi kenyataan.  Merubah harapan manjadi kenyataan, sebagaimana harapan anak-anak kami untuk menaburkan kebijaksanaan di tanah ini, di gunung ini dengan meningkatkan status jalan itu dan menghubungkan dua kecamatan itu, yakni kecamatan Mbeliling dan kecamatan Boleng dengan jalur melewati Golo Menes (Jalan Negara) –Muntung-Tondong Raja-Leka-Wae Tana-Ka’ung dan Ngaet (Jalur Terang-Ruteng) ataupun sebaliknya.

Jalan Menuju Kampung Kampung Kau’ng (Screenshot dari Google Maps; 6/1/2021)

Itulah ulasan sedikit mengenai kampung halaman penulis, yang selalu dibanggakan dan menyimpan seluas rindu dan harapan. Wae Tana, kampung halamanku yang penuh dengan keindahan alam dan masyarakatnya yang pekerja keras dan ramah.

Selalu ada rasa bangga dan rindu untuk kembali melihat alam di kampung halaman dan selalu ada ketertarikan batin untuk penduduk asli dengan kampung halamannya, walaupun telah merantau bertahun-tahun, tetap ada rindu untuk kembali pulang.  Halnya penulis merasakan hal yang sama.

Walau jauh dari keramain kota, dengan keterbatasan pembangunan dan fasilitas, kecanggihan alat elektronik, tetapi tentang rindu dan ikatan batin serta tentang alam kampung halamanku selalu menjadi terbaik dihatiku dan di hati kami yang lahir dan besar di kampung ini, Wae Tana; Tanah Kuni ago kalo

Wae Tana, kampung halamanku, Kampung halaman kami. Selalu ada Rindu untuk Tanah tumpah darah.

*)Oleh :Feliks Hatam; Penulis adalah, Masyarakat Asli Kampung Wae Tana; Pemimpin Umum Letangmedia.com. Saat ini berdomisili di Ruteng
  • Bagikan
error: Content is protected !!
Kirim Pesan Sekarang
Trima kasih dan selamat datang di letang
Hallo...
Trima kasih dan selamat datang di letangmedianews.com.
Silahkan kirim pesan untuk pertanyaan iklan produk & perusahan,
penulisan profil prusahan, bisnis, serta kerja sama, dll
Salam dan hormat kami
Letangmedianews.com.