oleh

Wanita Adalah Ibu Kita (Sisipan Sederhana di Hari Ibu Nasional) || Oleh: Bernardus Tube Beding

Letangmedia.com-Kitab Suci bercerita, ketika melihat Hawa, Adam berkata sambil tersenyum, “Inilah daging dari dagingku dan tulang dari tulangku.” Selanjutnya, Kitab Suci mengatakan bahwa Hawa menjadi “penolong sepadan”. Artinya, pria tanpa wanita tidak dapat mewujudkan dirinya secara utuh.

Akan tetapi, apa yang terjadi dalam sejarah manusia kaum wanita sekan-akan identik dengan penderitaan itu sendiri. Mereka dianggap kaum lemah, kelas dua, dan di bawah dominasi kaum pria. Marianne Katoppo, seorang teolog wanita Indonesia melukiskan pengalaman derita wanita sebagai berikut: “Saya melihat wanita tersimpuh di pinggir jalan, mereka menderita sakit, tanpa bicara. Mereka takut diusir oleh pemilik rumah terdekat. Saya melihat wanita setengah tua menunggu di depan sebuah hotel mewah. Ketika pemilik hotel membuang sampah,  ke sana ia lari memilih barang-barang yang masih berguna bagi dirinya. Saya melihat seorang wanita menggendong bayinya. Badannya penuh bisul. Ia tidak mampu ke rumah sakit karena uang dan suami tidak ada. Saya melihat seorang babu diusir karena secara tidak sengaja membakar pakaian majikannya waktu seterika. Saya melihat seorang wanita sedang sakit dan telanjang diperkosa oleh sekelompok pemuda di kolong jembatan.” Katoppo akhirnya menyimpulkan, “Sungguh wanita tidak lebih daripada penderitaan itu sendiri.”

Para teolog Katolik juga punya sikap sama, melecehkan kaum wanita. Ada teolog yang menganggap wanita sebagai penggoda pria. Thomas Aquino, teolog termasyur abad pertengahan mengatakan, “perempuan adalah anak laki-laki yang tidak sempurna.” Bahkan, jauh sebelumnya Agustinus menulis, “Wanita adalah alat kesenangan belaka bagi pria.”

Baca Juga:  OPINI || Natal dan Rekonsiliasi Politik Pasca Pilkada

Bukankah semua pendapat dan fakta dalam sejarah merupakan sesuatu yang ironi” pria yang dilindungi oleh wanita selama Sembilan bulan dalam rahimnya justru mengkhianatinya. Kaum wanita, termasuk ibu kita terpuruk di bawah dominasi pria. Mereka menyerah kalah di bawah tegarnya fisik kaum pria yang dulu mereka lahirkan sebagai bayi tak berdaya dan harus diteteki dari buah dada mereka sendiri.

Tetapi sejak beberapa abad lalu, kaum wanita mulai bangkit dan mereka terus berjuang dalam situasi tidak pasti untuk memproklamirkan diri sebagai mitra pria.

Kesadaran akan harkat dan keberadaannya sebagai wanita telah menjadi titik awal munculnya gerakan feminism. Gerakan feminisme (berasal dari kata Bahasa Latin ‘femina’ yang berarti perempuan) adalah usaha dari kaum wanita untuk melepaskan diri dari sitem patriarkal dan berjuang untuk menegakkan keadilan, persamaan hak dan martabat Antara pria dan wanita.

Gerakan ini muncul pertama kali di Benua Eropa tetapi dengan cepat meluas ke benua-benua lain. Perjuangan ini sudah masuk Indonesia dengan tokoh-tokoh terkenal seperti R.A. Kartini dan Dewi Sartika; dan dewasa ini diikuti oleh banyak pejuang semisal Marianne Katoppo.

Di dunia barat, gerakkan ini punya dua haluan, satu bersifat reformis yang lebih moderat dan lain bersifat radikal. Aliran yang pertama  bertujuan membebaskan wanita dari belenggu-belenggu tradisional agar bisa mengaktualisasikan potensi-potensi mereka. Sementara Aliran kedua berusaha menghancurkan sistem yang ada, dan mereka melihat pria sebagai musuh. Sifat radikalitasnya terlihat pada perjuangannya untuk membebaskan wanita dari ikatan perkawinan dan dari tugas melahirkan anak.

Baca Juga:  SOSOK: Bocah Korslet Tembus 1 Juta Subscribe || Ronsi Gerensiyono Mengungkapkan Rahasianya

BACA JUGA:

  1. Kabut di Kamar Antara Tanya dan rindu Melebur Menjadi Satu || Kumpulan Puisi Indrha Gamur
  2. Memperjuangkan Politik yang Pro-Kaum Perempuan (Renungan Peringatan Hari Ibu) || Oleh: Sil Joni
  3. Membaca ‘Psikologi Orang Kalah’ || Oleh: Sil Joni
  4. Cerpen Angelina Delviani || Dia Masih Ibuku
  5. Cerpen Rian Tap || Bukti Sayang Tak Harus Telanjang

Kalau gerakan feminisme lebih dipahami dalam aspek radikalitasnya, maka gerakan emansipasi muncul sebagai reaksi atas praktik-praktik diskriminasi terhadap kaum wanita. Maka pejuang gerakan ini menuntut dan memperjuangkan persamaan hak Antara pria dan wanita. Mereka menginginkan terciptanya masyarakat egaliter agar semua orang diperlakukan secara sama dan adil sebagai manusia.

Selama gerakan-gerakan ini (baik feminism maupun emansipasi) memperjuangkan hal-hal wajar, selama bertujuan untuk mengafirmasi diri wanita sebagai wanita, tentu bisa diterima baik oleh semua pihak.

Tetapi seperti biasa, dalam setiap gerakan pasti terdapat unsur radikal seperti menolak ikatan perkawinan atau menolak fungsi melahirkan, yang berarti menyangkali kodrat kewanitaannya, jelas terjadi suatu penyimpangan. Sebagai akibat akan terjadi praktik aborsi dengan akibat yang sulit dibayangkan.

Oleh karena itu, emansipasi seharusnya bertujuan agar wanita bias mengungkapkan diri sebagai wanita. Dan mereka harus bisa menerima diri sebagai wanita apa adanya. Bukan malah ingin menjadi pria dan menyaingi pria. Kalau wanita sudah bisa menghormati dan menerima diri sendiri, maka seluruh masyarakat pun akan menghormati harkat dan martabatnya.

Wanita adalah ibu kita. Ibu kita adalah wanita. Dan tugas keibuan yang ia terima karena ia mau menerima kodrat dan diri apa adanya.

Inilah puncak perkembangan manusia yang menurut Erich Fromm adalah tercapainya kesadaran dan penerimaan diri. Tuhan menyuruh kita menerima dan mencintai diri sendiri sebagai citra Allah. Seperti Ia juga meminta agar kita mencintai orang lain dalam “pemberian” kepada sesama manusia. Itulah hakikat manusia. Karena itu, kita semua harus mencintai dan menghormati wanita sebagai sesama citra Allah.

***

Oleh:Bernardus Tube Beding; Penulis adalah Pegiat Literasi dan Dosen PBSI Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng

Komentar